Flash Sale! to get a free eCookbook with our top 25 recipes.

Merah Putih dan Perempuan Pejuang: Simbol, Semangat, dan Pengorbanan

Merah Putih dan Perempuan Pejuang: Simbol, Semangat, dan Pengorbanan
Merah Putih dan Perempuan Pejuang: Simbol, Semangat, dan Pengorbanan

kabarumat.co – Dalam lembar sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, terdapat banyak kisah “her-story” — cerita tentang peran perempuan yang turut ambil bagian dalam perjuangan. Semangat untuk merebut kemerdekaan tidak hanya dimiliki oleh kaum laki-laki, tetapi juga menyala dalam diri perempuan-perempuan Nusantara, yang dengan keberanian dan tekad turut aktif dalam berbagai momen penting perjuangan bangsa.

Tak mengherankan jika sejarah bangsa ini mencatat begitu banyak kisah kepahlawanan perempuan yang luar biasa. Namun, sayangnya, kontribusi besar mereka masih belum mendapatkan sorotan yang layak. Berikut adalah beberapa kisah inspiratif mengenai peran perempuan dalam pengibaran bendera Merah Putih selama masa perjuangan kemerdekaan.


Fatmawati dan Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih

Setiap kali membicarakan momen Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, nama-nama seperti Soekarno, Hatta, dan para pemuda pejuang di Rengasdengklok kerap disebut. Namun, ada satu peran penting yang kerap terlupakan — keberadaan bendera Merah Putih yang akan dikibarkan saat proklamasi ternyata sempat terlupakan oleh para tokoh tersebut.

Dalam buku Catatan Kecil Bersama Bung Karno, Fatmawati menceritakan bahwa saat hendak keluar ruangan, seseorang berteriak bahwa bendera belum ada. Ia pun segera kembali dan mengambil bendera yang telah dijahitnya sekitar satu setengah tahun sebelumnya, saat dirinya tengah mengandung Guntur. Tanpa disadari, bendera itu kelak menjadi bagian dari momen paling bersejarah bangsa ini.

Kisah ini memperlihatkan bahwa Fatmawati bukan sekadar tokoh pendamping Bung Karno, melainkan sosok kunci yang memastikan kelengkapan simbolik Proklamasi Kemerdekaan. Bendera yang ia jahit — tanpa mengetahui kapan akan digunakan — menjadi Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih yang pertama kali dikibarkan di upacara proklamasi. Menurut Adhe Riyanto dalam Kisah Cinta Pak Karno dan Ibu Fatmawati, Fatmawati menangis terharu ketika melihat bendera hasil jahitannya berkibar di langit Jakarta — suatu kebanggaan yang tidak ternilai.


Rahmah El Yunusiyyah dan Pengibaran Pertama di Padang Panjang

Berita kemerdekaan Indonesia baru sampai ke Padang Panjang, Sumatera Barat, pada 19 Agustus 1945. Engku Sjafe’i, salah satu tokoh pejuang setempat, segera mengumpulkan para pejuang untuk menyatakan dukungan terhadap proklamasi dan menegaskan bahwa Sumatera adalah bagian dari Republik Indonesia.

Namun, situasi kala itu belum sepenuhnya aman. Banyak yang masih takut mengibarkan bendera Merah Putih secara terbuka karena penjajah belum benar-benar angkat kaki dari wilayah tersebut. Dalam suasana penuh keraguan itu, Rahmah El Yunusiyyah tampil berani. Ia, bersama murid-murid perempuan dari sekolah Diniyyah Putri yang ia dirikan, melakukan upacara bendera secara terbuka di halaman sekolah.

Menurut Khairul Jasmi dalam Perempuan yang Mendahului Zaman, Rahmah menurunkan bendera penjajah dan menaikkan bendera Merah Putih dengan penuh keyakinan. Tindakan ini dipercaya sebagai salah satu pengibaran bendera Merah Putih pertama yang dilakukan secara resmi di Padang Panjang, tak lama setelah proklamasi.


Pawai Akbar Merah Putih dan Perempuan Bolaang Mongondow

Meskipun kemerdekaan telah diproklamasikan, Belanda belum sepenuhnya mengakui kedaulatan Indonesia dan mencoba kembali menguasai tanah air. Di tengah ancaman ini, rakyat di berbagai daerah menyatakan penolakan dan membentuk gerakan perlawanan.

Di Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, para pejuang membentuk Kelaskaran Banteng RI pada 14 Oktober 1945. Salah satu aksi penting mereka adalah menyelenggarakan Pawai Akbar Merah Putih pada 19 Desember 1945, sebagai bentuk afirmasi terhadap kemerdekaan Indonesia.

Dalam barisan pawai tersebut, banyak perempuan ikut serta. Nurtina Gonibala Manggo, Jamilah Ansik, Hasina Mokobombang, Hamsia Moji, Nurbaya Ansik, dan banyak perempuan pemberani lainnya berdiri di garis depan, tak gentar meski ancaman dari penjajah mengintai. Keberanian mereka dalam mengibarkan bendera Merah Putih secara terbuka menunjukkan bahwa tekad untuk merdeka tak mengenal jenis kelamin — perempuan Bolaang Mongondow membuktikannya dengan tindakan nyata.


Perempuan dan Merah Putih: Pilar Tak Terlihat dari Kemerdekaan

Kisah-kisah di atas menegaskan bahwa perempuan memainkan peran penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, khususnya dalam pengibaran bendera Merah Putih yang sarat makna simbolik. Perjuangan mereka bukan pelengkap sejarah, tetapi bagian dari fondasi kemerdekaan yang seharusnya terus dikenang dan dihargai.

Semangat merdeka bukan hanya milik laki-laki, tapi juga hidup dan menyala dalam jiwa perempuan-perempuan Nusantara.