Flash Sale! to get a free eCookbook with our top 25 recipes.

Surah Yusuf Ayat 33: Doa Nabi Yusuf dalam Menghadapi Ujian Hidup

Surah Yusuf Ayat 33: Doa Nabi Yusuf dalam Menghadapi Ujian Hidup
Surah Yusuf Ayat 33: Doa Nabi Yusuf dalam Menghadapi Ujian Hidup

kabarumat.co – Doa Nabi Yusuf yang akan dibahas merupakan bagian dari rangkaian kisah beliau dalam Alquran. Setelah penolakannya terhadap ajakan istri raja Mesir untuk melakukan perbuatan tercela tersebar luas, perempuan-perempuan di kalangan istana mulai membicarakan hal tersebut. Untuk membuktikan bahwa ketertarikannya pada Nabi Yusuf bukan tanpa alasan, istri raja pun mengundang mereka agar menyaksikan secara langsung ketampanan Nabi Yusuf.

Ketika istri raja mulai mengancam akan memenjarakan Nabi Yusuf jika terus menolak, maka pada saat itulah Nabi Yusuf memanjatkan doa yang dinarasikan dalam ayat berikut.

قَالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ وَإِلَّا تَصْرِفْ عَنِّي كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُنْ مِنَ الْجَاهِلِينَ

(Yusuf) berkata, “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka. Jika Engkau tidak menghindarkan tipu daya mereka dariku, niscaya aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentu aku termasuk orang-orang yang bodoh.” (Q.S. Yusuf [12]: 33).

Dalam penafsiran al-Qurṭubī, terdapat setidaknya tiga poin penting yang dapat dipetik. Pertama, isi doa yang dipanjatkan mencerminkan keinginan seseorang, dan sangat mungkin akan dikabulkan sesuai dengan permintaan tersebut. Oleh karena itu, penting untuk berhati-hati dalam berdoa. Al-Qurṭubī menjelaskan bahwa ketika Nabi Yusuf memohon agar dimasukkan ke penjara, Allah menyampaikan wahyu yang berbunyi, “Yusuf! Karena engkau mengatakan bahwa penjara lebih baik bagimu, maka engkau telah memilih penjara untuk dirimu sendiri. Andaikan engkau memohon keselamatan, niscaya Aku akan memberikannya kepadamu.” Dari penafsiran ini, tampak bahwa doa Nabi Yusuf dikabulkan sebagaimana yang ia minta, dengan cara yang sesuai dengan kehendak-Nya.

Gagasan serupa juga dijumpai dalam Tafsir al-Baiḍāwī, meskipun dengan redaksi yang berbeda.

Kedua, dari doa Nabi Yusuf dapat diambil pelajaran bahwa manusia, bahkan seorang nabi sekalipun, tidak akan mampu menahan diri dari perbuatan dosa tanpa bantuan dan perlindungan dari Allah SWT.

Ketiga, apabila seseorang tetap terjerumus dalam perbuatan maksiat dan gagal menghindarinya, maka hal tersebut disebabkan oleh kelalaian dan ketidaktahuannya sendiri. Dengan kata lain, bukan karena Allah tidak memberikan pertolongan, melainkan karena kesalahan dari pihak pelaku itu sendiri. Maka, segala konsekuensi dari perbuatan maksiat tersebut menjadi tanggung jawab pelakunya.

Sementara itu, Ibn Katsīr menafsirkan ayat ini dengan mengutip hadis yang menyebutkan tujuh golongan manusia yang akan mendapatkan naungan dari Allah pada hari kiamat.

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى الله عليه وسلم قَالَ: “سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: إِمَامٌ عَادِلٌ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللَّهِ،  وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ بِالْمَسْجِدِ، إِذَا خَرَجَ مِنْهُ حَتَّى يَعُودَ إِلَيْهِ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَافْتَرَقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقُ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا أَنْفَقَتْ يَمِينُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ جَمَالٍ وَمَنْصِبٍ، فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ”

Rasulullah saw. bersabda, “Ada tujuh golongan yang dinaungi Allah pada hari kiamat, pada saat tiada naungan kecuali naungan-Nya: (1) pemimpin yang adil, (2) pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allah, (3) orang yang hatinya bergantung ke masjid, (4) dua orang yang saling mencintai di jalan Allah, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya, (5) seseorang yang bersedekah dengan satu sedekah lalu dia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfakkan tangan kanannya (6) seseorang yang berzikir kepada Allah dalam keadaan sepi lalu dia meneteskan air matanya (7) laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik, lalu dia berkata, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah.”

Kelompok ketujuh yang disebut dalam hadis tersebut memiliki keterkaitan erat dengan konteks kisah Nabi Yusuf dalam Alquran. Tentu saja, isi hadis ini tidak hanya relevan bagi Nabi Yusuf, tetapi juga berlaku umum untuk siapa pun.

Melalui doa Nabi Yusuf, kita memahami bahwa bahkan seorang nabi yang telah dijaga dari perbuatan maksiat oleh Allah (memiliki sifat ‘iṣmah), tetap mengakui bahwa dirinya tidak memiliki kekuatan untuk menghindari dosa tanpa pertolongan dari Allah. Jika seorang nabi saja demikian, maka tentu orang-orang biasa lebih membutuhkan bantuan Allah untuk menjaga diri dari kemaksiatan.