Flash Sale! to get a free eCookbook with our top 25 recipes.

Dua Nabi, Satu Doa: Ikhtiar di Bawah Langit Ilahi

Dua Nabi, Satu Doa: Ikhtiar di Bawah Langit Ilahi
Dua Nabi, Satu Doa: Ikhtiar di Bawah Langit Ilahi

kabarumat.co – Beberapa kisah para nabi dalam Al-Qur’an, termasuk kisah Nabi Nuh a.s. dan Nabi Hud a.s., sering kali disampaikan secara beriringan. Kedua kisah ini dapat ditemukan dalam surah al-A’raf, Hud, al-Mu’minun, dan asy-Syu’ara’. Meskipun tidak banyak ulama tafsir yang mengupas secara khusus alasan di balik penyusunan narasi tersebut, kitab Mafātīḥ al-Ghayb menyebutkan adanya kesamaan di antara keduanya, yaitu bahwa azab yang menimpa kaum mereka berupa ṣayḥah—suara dahsyat yang menggelegar.

Secara khusus, dalam surah al-Mu’minun, ditemukan kesamaan lainnya, yaitu doa yang dipanjatkan oleh Nabi Nuh dan Nabi Hud. Keduanya sama-sama memohon pertolongan kepada Allah karena didustakan oleh kaumnya. Doa ini tercatat dalam ayat 26 (untuk Nabi Nuh) dan ayat 39 (untuk Nabi Hud) dalam surah tersebut.

Bunyi doa yang dimaksud adalah:

  قَالَ رَبِّ انْصُرْنِيْ بِمَا كَذَّبُوْنِ

Dia (Hud atau Nuh) berdoa, “Ya Tuhanku, tolonglah aku karena mereka telah mendustakanku.”

Berikut adalah parafrase dari teks yang Anda berikan:

Konteks Doa

Nabi Nuh a.s. diutus Allah untuk menyeru kaumnya kepada ajaran tauhid selama hampir satu abad. Namun, hanya segelintir orang yang menerima ajakannya. Ketika Allah memerintahkannya untuk membangun kapal sebagai persiapan atas azab berupa hujan badai yang akan diturunkan, kaumnya tidak hanya menolak dakwah beliau, tetapi juga mencemooh dan menuduhnya gila. Dalam situasi itu, Nabi Nuh pun memanjatkan doa yang terekam dalam Al-Qur’an.

Hal serupa terjadi pada Nabi Hud a.s. yang diutus untuk menyampaikan ajaran tauhid kepada kaumnya sendiri, yaitu kaum ‘Ād. Namun, mereka meremehkan dan menganggap ajaran Nabi Hud sebagai sesuatu yang dibuat-buat. Ketika harapan Nabi Hud mulai pupus akibat penolakan yang terus-menerus, beliau pun menyampaikan doa yang sama seperti yang dipanjatkan oleh Nabi Nuh.

Meskipun Nabi Nuh dan Nabi Hud hidup di era dan tempat yang berbeda, para mufasir klasik seperti at-Ṭabarī, Ibn Katsīr, Ibn ‘Aṭiyyah, as-Samarqandī, az-Zamakhsyarī, ar-Rāzī, al-Baghawī, al-Bayḍāwī, al-Qurṭubī, hingga Ibn ‘Āsyūr, tidak menganggap perbedaan konteks historis ini sebagai hal yang memengaruhi pemaknaan doa. Mereka melihat adanya kesamaan konteks antara keduanya, yaitu bahwa kedua doa tersebut merupakan bentuk respons terhadap penolakan, penghinaan, dan ejekan yang diterima para nabi dari kaumnya.

Berdasarkan latar tersebut, ar-Rāzī dalam Mafātīḥ al-Ghayb menjelaskan bahwa ketika seorang nabi atau rasul mencapai titik keputusasaan terhadap perilaku umatnya, maka ia akan mengadu dan memohon pertolongan kepada Allah. Dalam kasus Nabi Nuh dan Nabi Hud, ungkapan permohonan mereka kepada Allah serupa, seperti yang tertulis dalam ayat. Penjelasan yang sejalan juga disampaikan oleh Ibn ‘Aṭiyyah dalam tafsirnya.

Beberapa mufasir yang telah disebutkan menafsirkan doa tersebut sebagai permohonan bantuan kepada Allah sekaligus sebagai permintaan agar azab diturunkan atas kaum mereka—sesuai dengan peringatan yang telah mereka sampaikan sejak awal dakwah. Namun, mufasir lain seperti ar-Rāzī dan az-Zamakhsyarī memberikan ruang tafsir yang lebih luas dengan membuka kemungkinan makna alternatif dari doa tersebut.

Menurut kedua mufasir tersebut, doa yang dipanjatkan oleh Nabi Nuh dan Nabi Hud dapat dipahami dalam tiga makna yang berbeda. Pertama, permintaan pertolongan kepada Allah dapat dimaknai sebagai permohonan agar kaum mereka dibinasakan, sebagai konsekuensi dari pendustaan terhadap utusan Allah. Kedua, doa itu bisa diartikan sebagai permohonan agar Allah menggantikan hinaan dan penolakan kaumnya dengan kemenangan dan kemuliaan bagi sang nabi. Ketiga, doa tersebut mengandung harapan agar Allah menurunkan azab yang telah dipersiapkan kepada kaum yang mendustakan ajaran yang dibawa oleh nabi-Nya.

Jika kita mencermati penafsiran atas doa yang dipanjatkan oleh Nabi Nuh dan Nabi Hud, maka akan tampak kontras dengan peristiwa yang dialami Nabi Muhammad saat berdakwah di Ṭāif. Ketika beliau ditolak, didustakan, bahkan dilempari batu hingga terluka, respons beliau sangat berbeda. Ketika Malaikat Jibril menawarkan untuk menghukum penduduk Ṭāif, Nabi Muhammad justru menolaknya dan memanjatkan doa agar Allah memberikan petunjuk kepada mereka, karena mereka belum mengetahui kebenaran. Sikap ini mungkin menjadi salah satu bentuk keistimewaan Nabi Muhammad dibanding para nabi sebelumnya.

Kisah dua nabi dengan satu doa tersebut muncul secara berurutan dalam satu rangkaian narasi di surah al-Mu’minūn. Namun, kisah serupa dengan tema yang sama juga terdapat di tiga surah lain dalam Al-Qur’an. Bukan tidak mungkin, bagian-bagian lain dari doa atau narasi tambahan mengenai Nabi Nuh dan Nabi Hud juga tersebar di surah-surah lain yang melengkapi gambaran menyeluruh tentang perjalanan dakwah keduanya. Wallāhu a‘lam.