kabarumat.co – Kehidupan dalam masyarakat senantiasa menunjukkan betapa pentingnya interaksi antarmanusia dalam hal tolong-menolong. Hal ini mempertegas bahwa manusia merupakan makhluk sosial yang tidak mampu hidup sendiri dalam menjalani berbagai aspek kehidupan. Salah satu contohnya adalah keberadaan berbagai organisasi yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat sesuai dengan bidang dan kepentingan masing-masing.
Dalam hal ini, Islam turut memberikan arahan mengenai pentingnya organisasi dan pengelolaan yang tertata dengan baik. Dalam Al-Qur’an, konsep organisasi kerap diidentikkan dengan istilah shaff dan ummat. Shaff menggambarkan sekumpulan individu yang bergerak bersama dalam suatu aktivitas yang memiliki tujuan bersama [Organisasi Manajemen Kesehatan, 3]. Allah menunjukkan kecintaan-Nya kepada mereka yang terorganisir dengan baik, sebagaimana digambarkan dalam surah al-Shaff ayat 4, di mana barisan yang rapih dianalogikan seperti bangunan yang kokoh.
اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الَّذِيْنَ يُقَاتِلُوْنَ فِيْ سَبِيْلِه صَفًّا كَاَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَّرْصُوْصٌ
Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam satu barisan, seakan-akan mereka suatu bangunan yang tersusun kukuh.
Ayat tersebut menggambarkan konsep strategi perang yang ideal menurut pandangan Islam. Allah menyatakan kecintaan-Nya—yang berarti juga bentuk pertolongan dan pemuliaan [Tafsīr Jalālayn, 738]—kepada mereka yang berjuang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur dan bersatu. Menurut Abu Ja’far dalam Tafsir al-Ṭabarī, barisan yang dimaksud menyerupai bangunan yang tersusun rapi, saling menguatkan, dan dilengkapi secara menyeluruh sehingga tidak ada bagian yang terabaikan [Tafsīr al-Ṭabarī, 22/611].
Dalam konteks ini, strategi perang yang digambarkan ayat tersebut menekankan pentingnya solidaritas dan kedisiplinan dalam membentuk barisan yang utuh. Allah memberikan bantuan dan kemuliaan kepada siapa pun yang berjihad di jalan-Nya dengan keteraturan dan kerapian, seolah-olah mereka merupakan struktur bangunan yang kokoh.
Penjelasan Abu Ja’far dalam Tafsir al-Ṭabarī menegaskan bahwa barisan yang tertata dan terkoordinasi dengan baik menyerupai bangunan sempurna, di mana setiap elemen saling menopang dan tidak ada yang tertinggal. Ini mengajarkan bahwa dalam manajemen konflik atau peperangan, kunci keberhasilan dan ridha Allah terletak pada kekompakan serta keteraturan.
Sejalan dengan penafsiran al-Sa’di, pengaturan barisan dalam peperangan yang dilakukan oleh Rasulullah terhadap para sahabat—di mana setiap individu ditempatkan sesuai dengan perannya—bertujuan untuk menghindari ketergantungan antaranggota. Setiap kelompok bertanggung jawab atas posisi dan tugasnya masing-masing. Dengan cara ini, seluruh aktivitas dapat berlangsung secara lebih efisien dan terorganisir dengan baik [Tafsīr al-Sa’dī, 858].
Dalam konteks manajemen organisasi, prinsip-prinsip yang diterapkan Rasulullah dalam penataan barisan pasukan dapat dijadikan acuan dalam mengelola struktur organisasi. Penempatan individu berdasarkan kapasitas dan kompetensinya menekankan pentingnya perencanaan strategis serta distribusi tugas yang tepat agar sistem organisasi berjalan optimal.
Setiap anggota dalam suatu organisasi memiliki peran dan tanggung jawab yang spesifik. Jika masing-masing menjalankan fungsinya dengan baik, maka tingkat ketergantungan antarindividu dapat diminimalkan, dan setiap tugas dapat diselesaikan secara efisien. Sebagaimana dalam medan perang, di mana setiap posisi dalam barisan harus kuat dan stabil demi menjaga formasi keseluruhan, dalam organisasi pun, tiap bagian harus menjalankan tugasnya secara maksimal untuk mencapai tujuan bersama.
Senada dengan penjelasan Wahbah al-Zuhaili dalam Tafsir al-Munīr, Allah memberikan arahan kepada kaum beriman mengenai sikap yang harus diambil ketika menghadapi musuh: yakni dengan menunjukkan kekuatan, kesungguhan, serta keteguhan dalam menjalankan perintah-Nya [Tafsīr al-Munīr, 28/163]. Seperti halnya dalam peperangan yang menuntut kekuatan, persatuan, dan keteguhan hati, dalam sebuah organisasi pun diperlukan disiplin dan ketertiban agar setiap individu dapat melaksanakan tanggung jawabnya dengan baik.
Hal ini menegaskan bahwa keberhasilan suatu organisasi sangat bergantung pada sistem manajemen yang baik, di mana setiap orang memahami dan menjalankan perannya secara disiplin dan terstruktur. Dengan begitu, solidaritas dan kesatuan akan tetap terjaga, yang pada akhirnya akan menghasilkan efisiensi dan kesempurnaan dalam pencapaian tujuan bersama. Prinsip ini berlaku tidak hanya dalam konteks peperangan, tetapi juga dalam berbagai bentuk pengelolaan organisasi, baik skala kecil maupun besar.
Kenali Kami Lebih Dekat
Assalamu Alaikum Akhi Ukhti!! Selamat datang di Kabar Umat
Kami hadir setiap saat untuk menyampaikan berita terpercaya serta wawasan keislaman, keindonesiaan dan kebudayaan hanya buat Akhi Ukhti. Bantu sukseskan Visi kami satukan umat kuatkan masyarakat dengan cara share konten kami kepada teman-teman terdekat Akhi Ukhti !