Flash Sale! to get a free eCookbook with our top 25 recipes.

Rahasia Puasa Lebih Bermakna: 6 Amalan Sunnah ala Syekh Hasan Hitou

Rahasia Puasa Lebih Bermakna: 6 Amalan Sunnah ala Syekh Hasan Hitou

kabarumat.co – Kabar duka datang dari Suriah. Seorang ulama bermazhab Syafi’i asal Republik Arab Suriah, Syekh Muhammad Hasan Hitou, wafat pada bulan Ramadhan tahun ini. Ulama yang akrab disapa Syekh Hasan Hitou tersebut lahir pada tahun 1943 M (1362 H) dan meninggal dunia pada Selasa (24/2/2026) dalam usia 83 tahun.

Dikutip dari NU Online, Syekh Hasan Hitou dikenal sebagai seorang dai sekaligus pakar dalam bidang fikih dan ushul fikih. Ia juga termasuk ulama yang sangat produktif menulis berbagai karya ilmiah.

Puluhan buku telah ia hasilkan sepanjang hidupnya. Bahkan, beliau tengah menyusun sebuah ensiklopedia besar tentang Fikih Syafi’i dan perbandingan mazhab yang direncanakan mencapai sekitar 140–160 jilid. Namun hingga wafatnya, karya tersebut baru terselesaikan sekitar 60 jilid.

Mengutip Darul Fuqaha, sejumlah karya beliau antara lain Al-Wajiz fi Ushul al-Tasyri‘ al-Islami, Al-Ijtihad wa Tabaqat Mujtahidi al-Syafi‘iyyah, dan Al-‘Aql wa al-Ghaib.

Adapun karya monumentalnya adalah Mausu‘ah al-Fiqh al-Syafi‘i wa al-Muqaran (Ensiklopedia Fikih Syafi’i dan Perbandingan Mazhab). Sesuai rencana, karya ini akan terdiri dari sekitar 140–160 jilid, dan hingga kini telah rampung sekitar 60 jilid besar.

Sebagai bentuk penghormatan atas wafatnya pada bulan Ramadhan yang penuh kemuliaan, tulisan ini secara khusus mengulas enam amalan sunnah yang dianjurkan bagi kaum Muslimin ketika menjalankan ibadah puasa.

Enam amalan tersebut disebutkan dalam kitab Fiqhus Shiyam, salah satu karya Syekh Hasan Hitou yang secara khusus membahas hukum dan praktik puasa, terutama puasa Ramadhan. Lalu, apa saja enam amalan sunnah tersebut?

Dalam pengantar pembahasannya, Syekh Hasan Hitou menegaskan bahwa amalan sunnah yang dapat dilakukan saat berpuasa sebenarnya sangat banyak. Ia menulis:

مندوبات الصيام وهي الأمور التي يستحب للصائم أن يأتي بها ويفعلها في صومه، وهي كثيرة

Artinya: “Sunnah-sunnah puasa adalah berbagai amalan yang dianjurkan untuk dilakukan oleh orang yang berpuasa dalam ibadah puasanya, dan jumlahnya sangat banyak.” (Syekh Hasan Hitou, Fiqhus Shiyam, Beirut: Darul Basyair al-Islamiyah, 1988, hlm. 111).

Di antara berbagai kesunahan puasa tersebut, Syekh Hasan Hitou menyebutkan beberapa amalan berikut.

1. Makan Sahur

Syekh Hasan Hitou menjelaskan bahwa sahur disunnahkan karena tiga alasan utama: adanya keberkahan di dalamnya, menjadi penopang fisik untuk menjalani puasa sepanjang hari, serta menjadi pembeda antara puasa kaum Muslimin dengan puasa ahlul kitab.

Selain itu, ia juga menjelaskan rentang waktu sahur dan bentuk makanan yang dapat mewujudkan kesunahan tersebut. Ia menulis:

وأما وقت السحور فإنه يمتد بين نصف الليل إلى طلوع الفجر، ويحصل بكثير المأكول وقليله، ويحصل بالماء أيضاً

Artinya: “Waktu sahur dimulai dari pertengahan malam hingga terbit fajar (masuk waktu Subuh). Kesunahan sahur dapat terwujud dengan makanan dalam jumlah banyak maupun sedikit, bahkan cukup dengan meminum air.” (Fiqhus Shiyam, hlm. 112).

2. Mengakhirkan Sahur

Selain dianjurkan untuk bersahur, umat Islam juga disunnahkan untuk mengakhirkan waktu sahur. Sebagaimana berbuka puasa dianjurkan untuk disegerakan, sahur justru dianjurkan dilakukan mendekati waktu fajar.

Syekh Hasan Hitou mengutip hadis berikut:

عن زيد بن ثابت قال : تسحرنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم، ثم قمنا إلى الصلاة، قلت: كم كان قدر ما بينهما؟ قال : خمسين آية

Artinya: “Zaid bin Tsabit berkata: Kami bersahur bersama Rasulullah SAW, kemudian kami berdiri untuk melaksanakan salat (Subuh). Aku bertanya, berapa jarak waktu antara sahur dan salat itu? Ia menjawab: sekitar bacaan lima puluh ayat Al-Qur’an.” (HR. Bukhari).

3. Berbuka dengan Kurma

Syekh Hasan Hitou juga menyebutkan anjuran berbuka puasa dengan kurma. Jika tidak tersedia kurma, maka dianjurkan berbuka dengan air.

Hal ini didasarkan pada sabda Nabi Muhammad SAW:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إذا أفطر أحدكم فليفطر على تمر، فإن لم يجد فليفطر على ماء، فإنه طهور

Artinya: “Apabila salah seorang di antara kalian berbuka puasa, hendaklah ia berbuka dengan kurma. Jika tidak mendapatkannya, maka berbukalah dengan air, karena air itu suci dan menyucikan.” (HR. Abu Dawud).

4. Berdoa Saat Berbuka

Di antara amalan sunnah lainnya adalah membaca doa ketika berbuka puasa. Doa yang disebutkan oleh Syekh Hasan Hitou adalah:

اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ، وَعَلَىٰ رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ، ذَهَبَ الظَّمَأُ، وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

Artinya: “Ya Allah, karena-Mu aku berpuasa dan dengan rezeki-Mu aku berbuka. Telah hilang rasa haus, urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan, insyaallah.”

Doa ini merupakan gabungan dari dua riwayat sahabat, yakni dari Abdullah bin Umar dan Mu’adz, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud.

5. Memberi Buka Puasa kepada Orang Lain

Syekh Hasan Hitou juga menekankan pentingnya dimensi sosial dalam ibadah puasa, salah satunya dengan memberikan makanan berbuka kepada orang lain.

Ia menulis:

ويستحب للصائم وغيره أن يفطر الصائم، ولو على تمرة أو شربة ماء

Artinya: “Disunnahkan bagi orang yang berpuasa maupun yang tidak berpuasa untuk memberikan makanan berbuka kepada orang yang berpuasa, meskipun hanya dengan sebutir kurma atau seteguk air.” (Fiqhus Shiyam, hlm. 115).

Amalan ini didasarkan pada hadis Nabi:

أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: من فطر صائماً فله مثل أجره، لا ينقص من أجر الصائم شيء

Artinya: “Siapa saja yang memberi makan orang yang berpuasa untuk berbuka, maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi sedikit pun pahala orang itu.” (HR. Tirmidzi).

6. Memperbanyak Sedekah dan Membaca Al-Qur’an

Kesunahan terakhir adalah memperbanyak sedekah dan membaca Al-Qur’an, terutama pada bulan Ramadhan. Hal ini didasarkan pada hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ…

Artinya: “Rasulullah SAW adalah manusia yang paling dermawan. Kedermawanannya semakin tampak pada bulan Ramadhan ketika beliau bertemu dengan malaikat Jibril setiap malam untuk mempelajari Al-Qur’an. Kedermawanan beliau dalam kebaikan bagaikan angin yang berhembus.” (HR. Bukhari).

Hadis ini menunjukkan bahwa semangat Ramadhan yang dicontohkan Rasulullah SAW tidak hanya berkaitan dengan peningkatan ibadah spiritual, tetapi juga dengan kepedulian sosial.

Tampaknya, dua dimensi inilah yang ingin ditegaskan oleh Syekh Hasan Hitou. Dari enam amalan sunnah yang ia sebutkan, empat di antaranya mencerminkan kesalehan spiritual, sementara dua lainnya menegaskan pentingnya kesalehan sosial.

Demikian enam amalan sunnah puasa yang dijelaskan oleh Syekh Hasan Hitou dalam karyanya. Semoga Allah merahmati beliau. Untuk Syekh Muhammad Hasan Hitou, lahul fātiḥah.