Flash Sale! to get a free eCookbook with our top 25 recipes.

Pandangan Al-Qur’an Terhadap Lingkungan

Pandangan Al-Qur'an Terhadap Lingkungan
Pandangan Al-Qur'an Terhadap Lingkungan

kabarumat.co – Sejak dahulu, manusia cenderung bersikap pragmatis terhadap lingkungan, melihatnya semata sebagai sarana pemenuhan kebutuhan. Pandangan ini diperparah oleh sifat rakus dan serakah yang melekat pada diri manusia, sehingga sumber daya alam dieksploitasi tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang. Akibatnya, berbagai bencana alam seperti banjir yang merusak pemukiman, longsor yang menelan desa, gempa bumi, kabut asap dari kebakaran hutan, kekeringan di berbagai wilayah, hingga perubahan musim yang semakin tak menentu pun tak dapat dihindari.

Kelalaian dan salah pandang manusia terhadap alam menjadi penyebab utama kerusakan lingkungan. Untuk memperbaikinya, perlu ada perubahan sikap dan cara pandang terhadap alam. Sonny Keraf dan Sayyed Hossein Nasr menegaskan bahwa manusia telah salah menempatkan dirinya dalam hubungan dengan alam, sehingga menimbulkan krisis lingkungan yang parah. Hal ini ironis mengingat mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam.

Dalam Islam, sumber daya alam harus dikelola demi kemaslahatan tanpa menimbulkan kerusakan (la ḍarara wala ḍirara). Kebebasan manusia untuk mengelola alam harus disertai tanggung jawab dan keadilan, di mana alam bukan hanya sumber kekayaan pribadi, tapi juga sarana untuk membantu dan memberdayakan yang lemah. Keadilan terhadap lingkungan adalah cerminan keadilan Tuhan, yang memberikan manusia amanah sebagai pemelihara alam.

Menurut Yusuf al-Qardhawi, pemeliharaan lingkungan merupakan bagian dari tujuan utama syariat Islam (aḍ-ḍarūriyāt al-khamsa). Alam memiliki keterbatasan dan tidak dapat digantikan, sehingga menjaga lingkungan adalah kewajiban agama (mā lā yatimmu al-wājib illā bihi fa huwa wājib). Oleh sebab itu, menjadikan pemeliharaan lingkungan sebagai prinsip dasar syariat adalah suatu keharusan untuk mengubah perilaku manusia demi kelestarian alam.

Dalam Al-Qur’an, istilah lingkungan diungkapkan melalui beberapa kata, yaitu al-ālamīn, as-samā’, al-arḍ, dan al-bī’ah. Pertama, al-ālamīn muncul 71 kali, mengacu pada seluruh makhluk hidup (46 kali) dan manusia (25 kali). Kedua, as-samā’ dan bentuk jamaknya as-samāwāt disebut 387 kali, meliputi arti jagad raya, ruang udara, dan angkasa, yang mencakup atmosfer dan biosfer sebagai bagian dari lingkungan. Ketiga, al-arḍ muncul 463 kali dengan dua makna: bumi sebagai lingkungan hidup yang sudah ada dan bumi dalam proses penciptaan; mencakup ekosistem, ruang hidup, dan siklus alam. Keempat, al-bī’ah disebutkan 18 kali, namun hanya 6 ayat yang merujuk pada lingkungan sebagai ruang kehidupan.

Dari penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa pengertian lingkungan hidup dalam Al-Qur’an bersifat luas, mencakup planet bumi, ruang angkasa, dan luar angkasa. Lingkungan tidak hanya terbatas pada habitat manusia, tetapi juga mencakup seluruh makhluk di bumi maupun di angkasa luar. Hal ini karena keseimbangan ekosistem bumi terkait erat dengan ekosistem di luar bumi. Oleh sebab itu, manusia sebagai wakil Tuhan di bumi bertanggung jawab menjaga kelestarian lingkungan.

Islam tidak membedakan eksistensi makhluk di alam semesta berdasarkan apakah mereka hidup menurut definisi umum atau dianggap mati karena sifat statisnya. Al-Qur’an menegaskan bahwa semua ciptaan Allah di alam raya ini sejatinya sama seperti manusia, yakni sebagai hamba Allah. Allah berfirman:

وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا طَٰٓئِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلَّآ أُمَمٌ أَمْثَالُكُم ۚ مَّا فَرَّطْنَا فِى ٱلْكِتَٰبِ مِن شَىْءٍ ۚ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ يُحْشَرُونَ

Dan Tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang
terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah
Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka
dihimpunkan. (QS. al-An’ām [6]: 38)

Ayat ini menyampaikan pesan bahwa semua makhluk ciptaan Allah, termasuk manusia, sama-sama hamba-Nya dan akan kembali kepada-Nya. Pengakuan terhadap eksistensi dan fungsi tiap makhluk mendorong manusia menghormati sesama makhluk dalam lingkungan. Dengan demikian, tercipta ukhuwah makhlūqiyya—persaudaraan antar makhluk—yang menyadarkan manusia bahwa ia bukan pusat alam, melainkan bagian integral dari ekosistem dengan hubungan saling ketergantungan.

Islam menempatkan manusia secara proporsional: meski memiliki kelebihan, manusia tetap bagian dari lingkungan dan memiliki hak asasi ekologis yang sama seperti makhluk lain, termasuk hak hidup dan habitat. Meski sumber daya alam untuk dimanfaatkan manusia, lingkungan bukan milik mutlak manusia sehingga eksploitasi harus dibatasi dengan rasa hormat dan penalaran ekologis. Dengan kata lain, manusia wajib menjaga keseimbangan hak-hak ekologis semua makhluk, karena bumi diciptakan untuk seluruh spesies, bukan hanya manusia saja.

Manusia diciptakan Allah sebagai khalifah di bumi untuk membimbing semua makhluk menuju tujuan penciptaan, artinya manusia harus bersahabat dengan seluruh makhluk. Menurut Ali Yafie, ada dua ajaran dasar: pertama, Allah adalah Tuhan seluruh alam, bukan hanya manusia atau kelompok tertentu; kedua, manusia diberi tugas mewujudkan kasih sayang terhadap semua penghuni bumi. Contohnya, dalam ibadah haji, dilarang mencabut pohon atau membunuh binatang.

Islam mengajarkan cinta dan hormat terhadap alam. Rasulullah pernah menegur sahabat yang menangkap anak burung, meminta agar anak burung itu dikembalikan ke induknya, menunjukkan perhatian Islam terhadap hak binatang. Dalam riwayat lain, Rasulullah bersabda bahwa menanam pohon adalah sedekah karena hasilnya bermanfaat bagi manusia, binatang, dan burung, serta apa pun yang dimakan dari tanaman itu juga menjadi pahala bagi penanamnya.

Dengan demikian, penunjukan manusia sebagai wakil Tuhan di bumi tidak berarti memberi kebebasan penuh untuk bertindak semaunya dan memandang bumi sebagai sesuatu yang rendah. Sebaliknya, manusia memiliki tugas untuk memperlakukan alam dengan penuh kasih sayang. Melalui sikap ini, manusia dan bumi dapat hidup berdampingan secara harmonis. Terlebih lagi, manusia berasal dari tanah yang juga bagian dari bumi, sehingga keduanya saling bergantung, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Quran.