kabarumat.co – Bagi umat Islam, Al-Qur’an menjadi pedoman utama dalam menentukan berbagai persoalan yang berkaitan dengan hukum, akidah, ibadah, dan akhlak. Kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ ini tidak hanya berfungsi sebagai petunjuk hidup, tetapi juga merupakan mukjizat terbesar yang memiliki banyak keistimewaan.
Para ulama sejak dahulu telah mengkaji keistimewaan Al-Qur’an dari beragam aspek. Salah satu yang menarik perhatian adalah keberadaan huruf muqattha’ah yang terdapat pada pembukaan 29 surat dalam Al-Qur’an, seperti Surat Al-Baqarah, Yunus, dan Al-Qashash. Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa huruf-huruf di awal surat tersebut pada dasarnya mewakili keseluruhan huruf hijaiyah.
هي حروف من حروف المعجم استغني بذكر ما ذكر منها في أوائل السور عن ذكر بواقيها التي هي تتمة الثمانية والعشرين حرفًا
Artinya: “Huruf-huruf muqattha‘ah merupakan sebagian dari huruf hijaiyah. Penyebutan sebagian huruf di awal surat sudah mencukupi untuk mewakili huruf-huruf lainnya yang berjumlah 28 huruf.” (Imam Ibnu Katsir, Tafsirul Qur’anil ‘Azhim, Beirut: Daru Ibn Hazm, 2000, juz I, h. 255).
Ibnu Katsir mencontohkan, apabila seseorang berkata “anakku sudah bisa menulis huruf a, ba, ta, tsa”, maka ucapan tersebut dapat dipahami bahwa sang anak telah mampu menulis seluruh huruf hijaiyah tanpa perlu menyebutkannya satu per satu hingga huruf ya.
Lebih lanjut, Ibnu Katsir menerangkan bahwa jika seluruh huruf muqattha’ah yang tersebar di berbagai surat dikumpulkan, jumlahnya mencapai 14 huruf, yaitu ا (alif), ل (lam), م (mim), ص (shad), ر (ra), ك (kaf), هـ (ha), ي (ya), ع (‘ain), ط (tha), س (sin), ح (ha), ق (qaf), dan ن (nun). Keempat belas huruf tersebut dapat dirangkai menjadi kalimat:
نَصٌّ حَكِيمٌ قَاطِعٌ لَهُ سِرٌ
Artinya: “Sebuah teks yang bijaksana dan pasti, serta memiliki rahasia.”
Pendapat ini sejalan dengan penjelasan Imam Az-Zamakhsyari yang menyebutkan bahwa 14 huruf tersebut merupakan separuh dari jumlah huruf hijaiyah. Selain itu, huruf-huruf muqattha’ah juga mencakup separuh dari sifat-sifat huruf hijaiyah, seperti mahmusah, majhurah, syadidah, rakhawah, muthbaqah, munfatiḥah, musta‘liyah, munkhafidhah, dan qalqalah.
Makna Huruf Muqattha’ah
Mengenai makna huruf muqattha’ah, para ulama memiliki perbedaan pandangan. Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa secara umum terdapat dua kelompok pendapat. Pertama, mayoritas ulama memilih menyerahkan makna huruf-huruf tersebut sepenuhnya kepada Allah SWT karena termasuk rahasia-Nya (sirrullah) dan bagian dari ayat-ayat mutasyabihat.
وَذَكَرَ أَبُو اللَّيْثِ السَّمَرْقَنْدِيُّ عَنْ عُمَرَ وَعُثْمَانَ وَابْنِ مَسْعُودٍ أَنَّهُمْ قَالُوا: الْحُرُوفُ الْمُقَطَّعَةُ مِنَ الْمَكْتُومِ الَّذِي لَا يُفَسَّرُ
Artinya: “Abu al-Laits as-Samarqandi meriwayatkan dari Umar, Utsman, dan Ibnu Mas‘ud bahwa mereka berkata: Huruf-huruf muqattha‘ah termasuk perkara tersembunyi yang tidak dapat ditafsirkan.” (Al-Qurthubi, Al-Jami‘ li Ahkamil Qur’an, Beirut: Muassasah ar-Risalah, 2006, juz I, h. 237).
Pendapat kedua menyatakan bahwa huruf-huruf muqattha’ah tetap dapat ditafsirkan karena mengandung makna dan hikmah tertentu. Dalam kelompok ini, muncul berbagai penafsiran ulama. Ada yang berpendapat bahwa huruf-huruf tersebut merupakan Ismullahil A‘zham (Nama Allah Yang Maha Agung), meskipun manusia tidak mengetahui susunan sebenarnya.
Sebagian ulama lain memandang huruf muqattha’ah sebagai bentuk tantangan kepada bangsa Arab. Al-Qur’an tersusun dari huruf-huruf yang sama dengan bahasa yang mereka gunakan sehari-hari, namun mereka tetap tidak mampu menandingi keindahan dan kemukjizatannya.
Ada pula pendapat yang menyatakan bahwa huruf muqattha’ah berfungsi menarik perhatian kaum kafir Quraisy yang sebelumnya enggan mendengarkan Al-Qur’an. Ketika mendengar lafaz-lafaz unik seperti “Alif Lam Mim” atau “Alif Lam Mim Shad”, mereka menjadi penasaran dan akhirnya mendengarkan bacaan Al-Qur’an.
Selain itu, sebagian ulama menafsirkan huruf muqattha’ah sebagai singkatan dari nama-nama tertentu. Misalnya, “Alif Lam Mim” dipahami sebagai singkatan dari Allah, Jibril, dan Muhammad, atau dimaknai sebagai “Ana Allahu A‘lam” (Aku Allah Yang Maha Mengetahui). Ada juga yang menganggap huruf-huruf tersebut sebagai nama surat, seperti ق untuk Surat Qaf, طه untuk Surat Thaha, dan يس untuk Surat Yasin.
Dengan demikian, makna huruf muqattha’ah memiliki beragam penafsiran di kalangan ulama. Sebagian besar ulama memilih sikap tafwidh, yaitu menyerahkan makna hakikinya kepada Allah SWT karena hanya Dia yang mengetahui hakikat sebenarnya. Sikap ini dipandang lebih hati-hati dalam menyikapi ayat-ayat yang mengandung unsur mutasyabihat. Wallahu a‘lam.
Kenali Kami Lebih Dekat
Assalamu Alaikum Akhi Ukhti!! Selamat datang di Kabar Umat
Kami hadir setiap saat untuk menyampaikan berita terpercaya serta wawasan keislaman, keindonesiaan dan kebudayaan hanya buat Akhi Ukhti. Bantu sukseskan Visi kami satukan umat kuatkan masyarakat dengan cara share konten kami kepada teman-teman terdekat Akhi Ukhti !