Kabarumat.co – Hari ini, ruang publik bukan hanya dipenuhi kebisingan informasi, tetapi juga mengalami disorientasi. Kita hidup pada masa ketika kecerdasan buatan (AI) mampu menghasilkan jutaan konten dalam hitungan detik, sementara algoritma media sosial mendistribusikannya berdasarkan logika keterlibatan (engagement), bukan pertimbangan etis. Dalam lanskap seperti ini, batas antara fakta, opini, manipulasi, dan hoaks semakin sulit dibedakan.
Yang kita konsumsi sering kali bukan lagi kebenaran itu sendiri, melainkan konstruksi tentang kebenaran yang telah dirancang agar selaras dengan preferensi emosional pengguna. Akibatnya, persepsi lebih mudah dipercaya daripada verifikasi, sedangkan viralitas kerap mengalahkan validitas.
Situasi tersebut mengingatkan pada analisis Jean Baudrillard dalam Simulacres et Simulation (1981). Melalui konsep simulakra (simulacra) dan hiperrealitas (hyperreality), filsuf Prancis itu menjelaskan bahwa masyarakat modern perlahan kehilangan pijakan pada realitas objektif. Dunia digital dipenuhi citra, simbol, dan representasi yang tidak lagi merujuk pada kenyataan, tetapi justru membentuk kenyataan baru yang diterima publik sebagai sesuatu yang lebih nyata daripada fakta itu sendiri.
Tidak mengherankan apabila sebuah video yang viral di media sosial lebih mudah dipercaya dibandingkan hasil investigasi yang berbasis data. Kebenaran tidak lagi ditemukan melalui proses pencarian yang kritis, tetapi diproduksi, dikemas, dan disebarluaskan demi menarik perhatian, mengumpulkan klik, dan memenuhi logika komodifikasi algoritma.
Dampaknya tidak hanya berupa banjir disinformasi, tetapi juga melemahnya daya kritis serta semakin dangkalnya dimensi spiritual manusia. Masyarakat digital terperangkap dalam echo chamber, ruang gema yang hanya memperkuat keyakinan yang telah dimiliki sebelumnya. Orang cenderung mencari pembenaran, bukan kebenaran. Dalam situasi epistemologis yang rapuh inilah, warisan pemikiran klasik menjadi kembali relevan untuk dibaca sebagai sumber orientasi intelektual.
Menghidupkan Nalar Kritis di Tengah Hiperrealitas
Jika Baudrillard menawarkan diagnosis atas penyakit peradaban digital, maka Ibnu Rusyd menghadirkan perangkat epistemologis untuk menghadapinya. Dalam Fashl al-Maqal fi ma Baina al-Hikmah wa al-Syari’ah min al-Ittishal (1179 M), filsuf besar dari Cordoba tersebut menegaskan bahwa kebenaran harus dicapai melalui argumentasi yang rasional, pembuktian yang logis, serta pengujian berdasarkan fakta.
Pelajaran ini terasa semakin penting pada era digital. Ketika kemampuan berpikir kritis melemah, masyarakat mudah terjerumus ke dalam bentuk baru dari taklid. Jika dahulu taklid berarti menerima pendapat tanpa argumentasi, kini ia tampil dalam bentuk kepatuhan tanpa kritik terhadap algoritma, rekomendasi For You Page, narasi para kreator konten, ataupun opini para influencer.
Informasi diterima begitu saja karena tampil menarik secara visual, emosional, atau sensasional. Persis seperti yang digambarkan Baudrillard, citra akhirnya mengalahkan substansi.
Karena itu, nalar demonstratif (burhani) yang diwariskan Ibnu Rusyd menjadi semakin relevan. Setiap informasi semestinya melewati proses verifikasi, pengujian logis, dan pembandingan dengan data yang dapat dipertanggungjawabkan. Sikap kritis menuntut keberanian untuk terus bertanya: apakah narasi yang sedang viral benar-benar merepresentasikan kenyataan, atau hanya simulasi yang sengaja dibangun guna memengaruhi opini publik demi kepentingan ekonomi maupun politik?
Meneguhkan Hati sebagai Jangkar Moral
Namun demikian, rasionalitas saja tidak cukup. Nalar yang terlepas dari nilai moral dapat berubah menjadi skeptisisme yang melelahkan, perdebatan tanpa arah, bahkan pembenaran terhadap kepentingan pribadi. Karena itu, kecerdasan intelektual memerlukan pendamping berupa kejernihan hati.
Di sinilah pemikiran Al-Ghazali menemukan relevansinya. Dalam Al-Munqidh min al-Dhalal (sekitar 1106 M), ia menunjukkan bahwa krisis pengetahuan sering kali berakar pada krisis batin. Ketika manusia berhadapan dengan beragam klaim kebenaran, kemampuan berpikir tidak akan cukup apabila hati kehilangan kejernihannya.
Dalam konteks media sosial, persoalannya bukan sekadar apakah informasi itu benar, melainkan juga apa motif di balik penyebarannya. Tidak sedikit orang membagikan sebuah konten bukan karena membawa manfaat, tetapi karena terdorong oleh kemarahan, keinginan memperoleh pengakuan, atau hasrat memenangkan perdebatan.
Karena itu, sebelum menekan tombol share atau melontarkan penilaian berdasarkan potongan video berdurasi beberapa detik, diperlukan ruang refleksi. Pertanyaan yang patut diajukan bukan hanya “apakah ini benar?”, melainkan juga “apakah ini bermanfaat?”, “apakah ini menghadirkan kemaslahatan?”, dan “apakah tindakan ini lahir dari ketulusan mencari kebenaran atau sekadar dorongan ego?”
Menyatukan Nalar dan Moral
Membaca Baudrillard membuat kita semakin peka terhadap berbagai bentuk manipulasi realitas yang diproduksi dunia digital. Akan tetapi, berhenti pada kritik Baudrillard saja berisiko membawa kita pada sikap sinis dan pesimistis, seolah-olah kebenaran telah sepenuhnya lenyap.
Karena itu, diperlukan sintesis epistemologis yang lebih utuh. Ketajaman analisis Baudrillard dalam membongkar hiperrealitas perlu dipadukan dengan metodologi rasional Ibnu Rusyd untuk menguji setiap klaim secara kritis, sekaligus dilandasi etika spiritual Al-Ghazali agar ilmu pengetahuan tetap berorientasi pada kemaslahatan manusia.
Bagi akademisi, mahasiswa, maupun intelektual publik, tantangan utama dewasa ini bukan lagi sekadar mengatasi buta aksara, melainkan membebaskan diri dari kebutaan algoritma. Menghidupkan kembali tradisi berpikir kritis sekaligus memperkuat fondasi moral bukanlah romantisme terhadap warisan klasik, melainkan kebutuhan mendesak untuk menjaga akal sehat publik di tengah derasnya arus informasi digital.
Pada akhirnya, hanya melalui perjumpaan antara akal yang kritis dan hati yang jernih manusia dapat tetap menjadi subjek yang merdeka, bukan sekadar objek yang digerakkan algoritma. Dengan perpaduan itulah, kita memiliki kompas untuk menavigasi era pos-kebenaran dan mengarahkan peradaban menuju pencerahan yang lebih autentik.
Kenali Kami Lebih Dekat
Assalamu Alaikum Akhi Ukhti!! Selamat datang di Kabar Umat
Kami hadir setiap saat untuk menyampaikan berita terpercaya serta wawasan keislaman, keindonesiaan dan kebudayaan hanya buat Akhi Ukhti. Bantu sukseskan Visi kami satukan umat kuatkan masyarakat dengan cara share konten kami kepada teman-teman terdekat Akhi Ukhti !