kabarumat.co – Ada semacam ironi yang mengemuka di zaman kita: ketika semakin banyak orang berbicara atas nama agama, justru semakin sering pula agama tampil dengan raut yang kaku dan tegang. Di tengah hiruk-pikuk ruang digital, ayat-ayat dan hadis beredar begitu cepat—dikutip, dipotong, lalu disebarkan—tanpa sempat diselami kedalaman maknanya. Pada titik inilah terjadi pergeseran dalam cara memahami agama: dari yang semula menjadi sumber kebijaksanaan, kini kerap berubah menjadi alat legitimasi.
Kita tidak dapat menutup mata bahwa saat ini kita hidup dalam apa yang sering disebut sebagai era hypermodern, sebuah fase yang ditandai oleh perubahan besar di berbagai aspek kehidupan. Dalam situasi seperti ini, pemikiran keagamaan klasik menjadi penting untuk ditinjau kembali, termasuk gagasan yang diwariskan oleh Ibnu Taimiyah.
Sebagaimana dikenal luas, Ibnu Taimiyah merupakan seorang pembaharu yang menekankan pentingnya kembali kepada Al-Qur’an dan sunah, sekaligus dikenal sebagai pengkritik tajam terhadap praktik keagamaan yang dinilai menyimpang. Di tengah kegelisahan umat terhadap kecenderungan ritualisme dan formalisme, seruannya terasa seperti ajakan untuk kembali pada sumber yang dianggap murni, terutama ketika kehidupan keagamaan dipandang telah melenceng terlalu jauh.
Namun, sejarah tidak pernah berdiri dalam satu wajah tunggal. Di balik besarnya pengaruh Ibnu Taimiyah, muncul pula kritik-kritik yang sama kuatnya. Salah satu kritik penting datang dari Syekh Taqi al-Din al-Subki melalui karyanya Ad-Durrah al-Mudhiyyah fi Raddi ‘Ala Ibn Taimiyah. Dalam karya tersebut, al-Subki menyatakan bahwa tidak ada seorang pun yang menghadirkan gagasan baru dalam pokok-pokok akidah sebagaimana yang dilakukan oleh Ibnu Taimiyah.
Kritik terhadap pendekatan literal Ibnu Taimiyah bahkan dirumuskan secara tegas oleh al-Subki dengan menyebut bahwa pandangannya berimplikasi pada kecenderungan antropomorfis—yakni memahami Tuhan dengan sifat-sifat yang menyerupai makhluk—serta memberi kesan adanya “susunan” dalam Dzat Yang Mahasuci.
Perdebatan ini bukanlah sekadar persoalan pribadi antar tokoh, melainkan menyentuh persoalan yang sangat mendasar dalam tradisi ilmu kalam atau teologi Islam. Ia memunculkan pertanyaan penting: sejauh mana bahasa manusia mampu menjangkau realitas Tuhan?
Pembicaraan Tuhan dalam Akidah Sunni
Jika kita menelusuri pemikiran para teolog Sunni, khususnya dari tradisi Asy’ariyah dan Maturidiyyah, sebagaimana juga tergambar dalam gagasan Ibnu ‘Arabi dalam Fushus al-Hikam, kita akan menemukan dua lapis pemahaman tentang ketuhanan yang dapat membantu menjawab persoalan tersebut.
Sebagaimana dikutip oleh Ulil Abshar Abdalla dalam tulisannya “Tuhan yang Tan Kinaya Ngapa” (2020), Ibnu ‘Arabi membedakan dua level ketuhanan. Pertama adalah al-ilah al-muthlaq, yakni Tuhan dalam kemutlakan-Nya yang tidak dapat dijangkau oleh akal dan nalar manusia. Pada level ini, Tuhan berada di luar jangkauan bahasa; tidak dapat dirumuskan, diindera, maupun ditangkap, baik oleh penglihatan lahir maupun batin.
Kedua adalah level Tuhan sebagaimana dipahami oleh manusia, yang disebut ilah al-mu’taqadat (Tuhan yang diyakini). Pada ranah inilah diskursus akidah atau ilmu kalam bekerja, dengan membicarakan Tuhan melalui konsep dzat (eksistensi), sifat-sifat-Nya, serta kehendak atau perbuatan-Nya, agar dapat dikenali oleh manusia sebagai hamba-Nya.
Klasifikasi yang diajukan oleh Ibnu ‘Arabi pada dasarnya mengarahkan kita pada satu pemahaman penting: Tuhan dalam kemutlakan-Nya tidak dapat disamakan dengan makhluk yang bisa dijangkau, baik oleh indera lahir maupun batin. Pembedaan dua level ketuhanan ini sekaligus menjadi batas tegas agar cara kita memahami Tuhan tidak kabur atau tergelincir pada kecenderungan menyerupakan-Nya dengan makhluk.
Membaca Ulang Sifat Qidam Tuhan
Lebih lanjut, al-Subki dalam karya yang sama mengkritisi pemikiran Ibnu Taimiyah terkait konsep qidam. Ia menyatakan bahwa pandangan Ibnu Taimiyah meluas hingga berimplikasi pada anggapan tentang kekadiman alam, serta komitmen pada gagasan bahwa makhluk tidak memiliki permulaan. Hal ini tampak dari pernyataannya tentang adanya peristiwa-peristiwa tanpa awal. Dalam kerangka ini, sifat yang seharusnya qadim justru diposisikan sebagai sesuatu yang baru (hadits), sementara makhluk yang bersifat baru malah dipandang sebagai qadim.
Pandangan semacam ini jelas problematik. Sebab, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Abdul Karim al-Rifa’iy dalam Al-Ma’rifah Fi Bayani ‘Akidatil Muslim, sifat qidam merupakan sifat yang melekat pada Dzat Tuhan yang tidak didahului oleh apa pun.
Ar-Rifa’iy menegaskan bahwa jika keberadaan Tuhan memiliki permulaan, maka Ia tentu membutuhkan pencipta. Pencipta itu pun akan membutuhkan pencipta lain, dan demikian seterusnya. Rangkaian ini akan berujung pada dua kemungkinan: tak berhingga (tasalsul) atau berputar pada sebab pertama (daur). Padahal, baik tasalsul maupun daur sama-sama mustahil dalam hukum kausalitas.
Rekonstruksi Pemikiran Akidah Ibnu Taimiyah
Lantas, apa arti dari perdebatan ini dalam konteks era hypermodern?
Di tengah derasnya arus informasi saat ini, kecenderungan memahami agama secara instan sering kali melahirkan sikap keberagamaan yang kaku dan simplistik. Ayat dan hadis kerap dijadikan rujukan final tanpa melalui proses penafsiran yang mendalam. Semangat pemurnian yang diasosiasikan dengan Ibnu Taimiyah pun tidak jarang direduksi menjadi bentuk literalisme yang dangkal, padahal dalam kompleksitas aslinya, pemikirannya bisa jadi jauh lebih kaya dan bernuansa.
Karena itu, membaca ulang pemikiran Ibnu Taimiyah pada masa kini tidak berarti mengulangnya secara apa adanya. Yang diperlukan adalah menempatkannya dalam ruang dialog yang lebih luas—baik dengan kritik al-Subki, refleksi metafisik Ibnu ‘Arabi, maupun dengan tantangan zaman kontemporer.
Pada akhirnya, pemahaman agama—terutama dalam ranah akidah—tidak bisa dipersempit menjadi sekadar kumpulan teks. Ia adalah ruang makna yang hidup, yang menuntut kedalaman alih-alih kecepatan. Agama semestinya menghadirkan wajah kebijaksanaan, bukan sekadar klaim kepastian. Yang dibutuhkan hari ini bukanlah suara yang semakin keras atas nama agama, melainkan kejernihan dan kedalaman dalam memaknainya.
Kenali Kami Lebih Dekat
Assalamu Alaikum Akhi Ukhti!! Selamat datang di Kabar Umat
Kami hadir setiap saat untuk menyampaikan berita terpercaya serta wawasan keislaman, keindonesiaan dan kebudayaan hanya buat Akhi Ukhti. Bantu sukseskan Visi kami satukan umat kuatkan masyarakat dengan cara share konten kami kepada teman-teman terdekat Akhi Ukhti !