kabarumat.co – Idul Adha merupakan salah satu momen terbesar bagi umat Islam di seluruh dunia yang dirayakan dengan penuh kebahagiaan. Perayaan ini tidak hanya identik dengan penyembelihan hewan kurban yang berakar dari kisah agung Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, tetapi juga mengandung pesan syariat yang mendalam. Dalam Islam, umat Muslim diharamkan berpuasa pada Hari Raya Idul Adha dan tiga hari Tasyrik setelahnya.
Islam adalah agama yang menjunjung keseimbangan hidup. Ada masa untuk menahan hawa nafsu, seperti pada bulan Ramadhan, dan ada pula waktu untuk menikmati nikmat Allah dengan penuh rasa syukur, sehingga berpuasa justru dilarang. Di balik ketentuan fikih tersebut, tersimpan nilai sosial dan kemanusiaan yang sangat luhur.
Lantas, apa hikmah sosial di balik larangan berpuasa pada hari-hari tersebut?
Dalil Keharaman Puasa pada Idul Adha dan Hari Tasyrik
Dalam kitab I’anatuth Thalibin, Sayyid Abu Bakar Syatha menjelaskan bahwa keharaman puasa pada dua hari raya, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha, telah menjadi ijma ulama yang bersumber dari hadis Nabi Muhammad SAW:
والأصل في حرمة صومهما: الإجماع المستند إلى نهي الشارع ﷺ في خبر الصحيحين
Artinya: “Dasar hukum keharaman berpuasa pada dua hari raya adalah ijma yang bersandar pada larangan Nabi Muhammad SAW sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Al-Bukhari dan Muslim.”
Dalam hadis riwayat Imam Muslim disebutkan:
أنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ صِيَامِ يَوْمَيْنِ: يَوْمِ الْفِطْرِ وَيَوْمِ النَّحْرِ
Artinya: “Rasulullah SAW melarang berpuasa pada dua hari, yaitu Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha.” (HR. Muslim)
Sementara itu, larangan berpuasa pada Hari Tasyrik—tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah—berdasarkan hadis riwayat Abu Dawud:
«فهذه الأيام التي كان رسول الله ﷺ يأمرنا بإفطارها وينهانا عن صيامها»
Artinya: “Hari-hari ini adalah hari-hari ketika Rasulullah SAW memerintahkan kami untuk tidak berpuasa dan melarang kami berpuasa padanya.” (HR. Abu Dawud)
Hikmah Sosial Larangan Puasa pada Hari Raya dan Tasyrik
Syekh Ali Al-Jurjawi dalam kitab Hikmatut Tasyri’ wa Falsafatuhu menjelaskan bahwa syariat melarang puasa pada hari raya karena hari tersebut merupakan momentum untuk menampakkan kegembiraan, melapangkan hati, mengistirahatkan jiwa, dan menikmati nikmat Allah yang halal.
Selain itu, hari raya menjadi sarana bagi orang-orang mampu untuk menunjukkan kepedulian dan kedermawanan kepada kaum fakir miskin. Dengan makan bersama dan berbagi daging kurban, tercipta suasana kebersamaan dan pemerataan kebahagiaan di tengah masyarakat.
Karena itu, orang yang tetap berpuasa pada hari raya justru kehilangan kesempatan untuk menyatu dalam kebahagiaan sosial dan melatih diri menjadi pribadi yang dermawan. Hari raya bukan waktu untuk menonjolkan kesalehan pribadi secara individual, melainkan momentum membangun solidaritas sosial dan kebersamaan umat.
Adapun larangan puasa pada Hari Tasyrik berkaitan erat dengan kondisi jamaah haji yang sedang menjalani rangkaian ibadah di Tanah Suci. Mereka membutuhkan kekuatan fisik untuk melaksanakan berbagai aktivitas ibadah, sehingga puasa dikhawatirkan memberatkan.
Namun menariknya, larangan tersebut tidak hanya berlaku bagi jamaah haji, tetapi juga bagi seluruh umat Islam di dunia. Syariat menghendaki adanya keselarasan suasana dan ritme kegembiraan antara umat Islam yang sedang berhaji dan yang berada di negeri masing-masing.
Di sisi lain, Hari Tasyrik juga menjadi momentum untuk menghadirkan rasa rindu kepada saudara-saudara Muslim yang sedang menunaikan ibadah haji. Dengan demikian, tumbuh harapan dan doa agar suatu saat dapat menyusul mereka mengunjungi Baitullah dan berziarah ke makam Rasulullah SAW.
Dengan demikian, larangan berpuasa pada Hari Raya Idul Adha dan Hari Tasyrik menunjukkan bahwa Islam tidak hanya menekankan kesalehan ritual individual, tetapi juga membangun kesalehan sosial, pemerataan kebahagiaan, serta persatuan rasa di antara umat Islam di seluruh dunia. Wallahu a‘lam.
Kenali Kami Lebih Dekat
Assalamu Alaikum Akhi Ukhti!! Selamat datang di Kabar Umat
Kami hadir setiap saat untuk menyampaikan berita terpercaya serta wawasan keislaman, keindonesiaan dan kebudayaan hanya buat Akhi Ukhti. Bantu sukseskan Visi kami satukan umat kuatkan masyarakat dengan cara share konten kami kepada teman-teman terdekat Akhi Ukhti !