Flash Sale! to get a free eCookbook with our top 25 recipes.

Sakinah: Bukan Bebas Konflik, Tapi Mampu Mengelolanya

Sakinah: Bukan Bebas Konflik, Tapi Mampu Mengelolanya
Sakinah: Bukan Bebas Konflik, Tapi Mampu Mengelolanya

Kabarumat.co – Masih banyak orang yang menganggap keluarga sakinah sebagai keluarga yang selalu rukun, jarang berselisih, dan hampir tidak pernah mengalami perbedaan pendapat. Pandangan ini memang tampak ideal, tetapi tidak sepenuhnya mencerminkan kenyataan dalam kehidupan berumah tangga. Pernikahan menyatukan dua pribadi yang dibesarkan dalam latar belakang keluarga, pola asuh, kebiasaan, cara berkomunikasi, serta nilai-nilai kehidupan yang berbeda. Perbedaan tersebut merupakan hal yang wajar dan pada akhirnya dapat memunculkan konflik.

Oleh sebab itu, keluarga sakinah tidak diukur dari ada atau tidaknya konflik, melainkan dari cara suami dan istri mengelola setiap perbedaan dengan sikap yang dewasa, penuh kasih sayang, dan saling menghargai. Al-Qur’an menjelaskan bahwa tujuan pernikahan adalah menghadirkan sakinah, mawaddah, dan rahmah, sebagaimana disebutkan dalam Surah Ar-Rum ayat 21. Namun, ayat tersebut tidak pernah menyatakan bahwa kehidupan rumah tangga akan terbebas dari berbagai persoalan. Sakinah lebih mengarah pada ketenangan dan ketenteraman jiwa. Dengan demikian, ketenteraman bukan berarti hidup tanpa ujian, melainkan kemampuan pasangan untuk tetap merasa aman, saling memercayai, dan saling menguatkan ketika menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan rumah tangga.

Dalam kajian psikologi keluarga, konflik dipahami sebagai bagian yang wajar dari perjalanan kehidupan rumah tangga. Perselisihan muncul karena suami dan istri terus beradaptasi dengan perubahan peran, kebutuhan, harapan, serta berbagai dinamika yang menyertai setiap fase pernikahan. Dengan demikian, tujuan utama pernikahan bukanlah menciptakan hubungan yang sepenuhnya bebas konflik, melainkan membangun kemampuan pasangan untuk menyelesaikan setiap persoalan secara adaptif dan sehat (Falconier et al., 2015).

Pandangan tersebut didukung oleh berbagai hasil penelitian di bidang psikologi keluarga. Beragam studi menunjukkan bahwa kualitas pernikahan tidak ditentukan oleh seberapa sering konflik terjadi, tetapi oleh bagaimana pasangan mengelola perbedaan secara konstruktif. Pasangan yang mampu mendengarkan satu sama lain, mengendalikan emosi, serta tetap menunjukkan sikap saling menghargai ketika terjadi perbedaan pendapat cenderung memiliki tingkat kepuasan pernikahan yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang memilih menghindari konflik tanpa penyelesaian.

Temuan ini selaras dengan penelitian jangka panjang yang dilakukan oleh John Gottman terhadap ribuan pasangan selama lebih dari empat puluh tahun. Gottman menjelaskan bahwa ketahanan sebuah pernikahan bukan dipengaruhi oleh sedikit atau banyaknya konflik, melainkan oleh kualitas interaksi ketika konflik berlangsung. Pasangan yang tetap memperlihatkan rasa hormat, empati, dan kasih sayang saat menghadapi perbedaan memiliki peluang lebih besar untuk mempertahankan hubungan jangka panjang dibandingkan pasangan yang merespons konflik dengan saling menyerang, merendahkan, atau menyakiti satu sama lain (Gottman & Silver, 2015).

Di sisi lain, tidak sedikit pasangan yang memilih memendam persoalan demi menghindari pertengkaran. Meskipun suasana tampak tenang di permukaan, masalah yang tidak pernah dibicarakan sebenarnya hanya tertunda penyelesaiannya. Emosi yang terus ditekan dapat berubah menjadi akumulasi kekecewaan, kemudian berkembang menjadi jarak emosional di antara pasangan. Dalam perspektif psikologi keluarga, kondisi seperti ini justru sering kali lebih berisiko daripada konflik yang dikomunikasikan secara terbuka dan diselesaikan bersama. Seiring waktu, hubungan dapat kehilangan kehangatan karena masing-masing merasa tidak lagi didengar, dipahami, maupun diterima oleh pasangannya.

Karena itu, menghindari konflik secara terus-menerus tidak dapat dijadikan indikator bahwa suatu hubungan berjalan dengan baik. Dalam banyak kasus, konflik yang dibiarkan tanpa penyelesaian justru berujung pada emotional disengagement, yaitu kondisi ketika suami dan istri mulai menarik diri secara emosional sehingga kedekatan psikologis di antara keduanya semakin berkurang. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa penarikan diri secara emosional merupakan salah satu faktor yang berkontribusi terhadap menurunnya kepuasan dalam pernikahan (Overall et al., 2022).

Sebaliknya, konflik yang dikelola secara konstruktif dapat menjadi sarana bagi suami dan istri untuk saling memahami dengan lebih mendalam. Perbedaan pandangan dalam mengatur keuangan keluarga, mengasuh anak, membagi tanggung jawab rumah tangga, maupun menjalin relasi dengan keluarga besar dapat menjadi momentum untuk membangun kesepakatan dan pemahaman yang lebih baik. Namun, hal tersebut hanya dapat tercapai apabila kedua belah pihak mengutamakan penyelesaian masalah daripada sekadar membuktikan siapa yang benar.

Dalam praktiknya, ketika emosi memuncak, tidak sedikit pasangan yang lebih berfokus mempertahankan pendapat masing-masing daripada berusaha memahami apa yang dirasakan pasangannya. Padahal, dalam banyak situasi, seseorang tidak selalu membutuhkan pembenaran atas dirinya, melainkan ingin didengar, dipahami, dan dihargai. Oleh karena itu, kemampuan mendengarkan secara empatik menjadi salah satu bentuk dukungan emosional yang berperan penting dalam memperkuat kualitas hubungan suami istri.

Prinsip tersebut juga sejalan dengan ajaran Islam yang menekankan pentingnya musyawarah (syura) serta mu’asyarah bil ma’ruf, yaitu memperlakukan pasangan dengan cara yang baik, penuh penghormatan, dan bermartabat. Nilai-nilai ini mengajarkan bahwa perbedaan pendapat tidak boleh mengikis rasa hormat satu sama lain. Sebaliknya, komunikasi yang santun, kerendahan hati untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf, serta kelapangan hati untuk memaafkan sering kali menjadi fondasi yang jauh lebih kokoh bagi keutuhan rumah tangga daripada sekadar memenangkan sebuah perdebatan.

Dalam praktik konseling keluarga, konflik yang terus berulang sering kali tidak semata-mata dipicu oleh pokok permasalahannya, melainkan oleh pola komunikasi yang kurang sehat. Persoalan yang sebenarnya dapat diselesaikan dengan mudah kerap berkembang menjadi pertengkaran berkepanjangan karena masing-masing pihak merasa disalahkan, tidak didengarkan, atau kurang dipahami. Oleh sebab itu, membangun komunikasi yang efektif sering kali menjadi langkah yang lebih mendasar daripada sekadar menentukan siapa yang benar atau salah.

Temuan penelitian juga menunjukkan bahwa kemampuan memberikan validasi terhadap emosi pasangan berkontribusi lebih besar terhadap kepuasan hubungan dibandingkan sekadar menawarkan solusi secara langsung. Ketika seseorang merasa didengar, dipahami, dan diterima perasaannya, ketegangan emosional cenderung menurun sehingga pasangan dapat berdiskusi secara lebih tenang, jernih, dan rasional dalam mencari jalan keluar bersama (Johnson, 2019).

Pada akhirnya, keluarga sakinah bukanlah keluarga yang tidak pernah menghadapi persoalan ataupun memiliki hubungan yang sempurna. Keluarga sakinah adalah keluarga yang terus bertumbuh dan belajar dari setiap pengalaman. Mereka belajar mengendalikan amarah ketika dilanda kekecewaan, berani mengakui kesalahan dan meminta maaf, mendengarkan dengan empati sebelum memberikan penilaian, serta menerima bahwa pasangan memiliki keterbatasan dan tidak selalu mampu memenuhi seluruh harapan. Melalui proses pembelajaran yang berlangsung secara berkesinambungan inilah hubungan suami istri berkembang menjadi semakin matang, tangguh, dan dipenuhi ketenteraman.