Flash Sale! to get a free eCookbook with our top 25 recipes.

Jaga Lisan, Jaga Jemari: Tafsir Al-Ahzab Ayat 70 untuk Pengguna Media Sosial

Jaga Lisan, Jaga Jemari: Tafsir Al-Ahzab Ayat 70 untuk Pengguna Media Sosial
Jaga Lisan, Jaga Jemari: Tafsir Al-Ahzab Ayat 70 untuk Pengguna Media Sosial

Kabarumat.co – Mungkin belum pernah ada masa dalam sejarah ketika manusia dapat berbicara dan menyebarkan informasi semudah sekarang. Pada masa lalu, sebuah berita memerlukan waktu untuk berpindah dari satu orang ke orang lain. Informasi beredar melalui percakapan di pasar, di warung, atau dalam pertemuan-pertemuan masyarakat. Bahkan kabar burung pun membutuhkan proses sebelum akhirnya sampai kepada banyak telinga.

Lambatnya arus informasi pada masa itu justru memberi ruang bagi orang untuk melakukan verifikasi. Masyarakat masih terbiasa bertanya, “Apakah kabar ini benar?” atau “Siapa yang menjadi sumbernya?” Sebelum dipercaya, sebuah informasi masih memiliki kesempatan untuk diuji kebenarannya.

Situasi tersebut sangat berbeda dengan kehidupan saat ini. Kehadiran telepon pintar dan media sosial membuat setiap orang dapat menjadi penyampai informasi hanya dengan beberapa sentuhan layar. Dalam hitungan menit, satu unggahan mampu menjangkau ribuan, bahkan jutaan orang. Sebuah video pendek dapat membentuk opini publik dan mengubah citra seseorang dalam waktu yang sangat singkat.

Kemudahan ini membawa dua sisi sekaligus. Informasi yang benar dapat tersebar luas dengan cepat, tetapi informasi palsu juga memiliki kemampuan yang sama. Ironisnya, kebohongan sering kali melaju lebih cepat dibandingkan fakta. Fenomena ini hampir setiap hari terlihat di berbagai platform media sosial. Potongan video yang diambil di luar konteks diberi judul sensasional agar memancing emosi. Banyak orang langsung membagikannya tanpa berusaha memastikan keasliannya. Foto hasil rekayasa digital pun kerap dipercaya sebagai kenyataan hingga mampu merusak nama baik seseorang. Ketika klarifikasi akhirnya muncul, dampak buruknya sering kali sudah telanjur meluas.

Sayangnya, penjelasan yang benar tidak selalu memperoleh perhatian sebesar informasi yang bersifat provokatif. Yang lebih memprihatinkan lagi, sebagian orang melakukan tindakan tersebut dengan niat yang mereka anggap baik. Ada yang merasa sedang membela agama dengan mempermalukan saudaranya di ruang publik. Ada yang mengira sedang berjihad ketika menyebarkan kabar yang belum jelas kebenarannya. Bahkan ada pula yang mengatasnamakan amar makruf nahi mungkar untuk membuka aib orang lain.

Padahal Islam tidak pernah membenarkan penggunaan cara yang keliru demi mencapai tujuan yang baik. Kebenaran tidak memerlukan kebohongan sebagai pembelanya, dan agama tidak membutuhkan fitnah agar dapat ditegakkan.

Dalam konteks inilah Al-Qur’an menghadirkan pedoman yang sangat relevan. Jauh sebelum manusia mengenal media sosial, algoritma, atau dunia digital, Al-Qur’an telah meletakkan prinsip dasar dalam berkomunikasi, yakni menggabungkan ketakwaan dengan kejujuran dalam bertutur kata. Allah Swt. berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًاۙ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.”

Menarik untuk diperhatikan bahwa ayat ini tidak langsung memerintahkan orang beriman agar berkata benar. Allah Swt. terlebih dahulu memerintahkan mereka untuk bertakwa, baru kemudian memerintahkan agar mengucapkan qaulan sadīdan (perkataan yang benar). Urutan tersebut menunjukkan bahwa kejujuran dalam ucapan berakar pada ketakwaan dalam hati. Lisan hanyalah cerminan dari keadaan batin. Apa yang diucapkan seseorang pada hakikatnya merupakan pantulan dari nilai-nilai yang hidup di dalam hatinya.

Perkataan yang benar tidak akan lahir dari hati yang dipenuhi kebencian, iri hati, kesombongan, atau prasangka buruk. Kejujuran dalam bertutur merupakan buah dari ketakwaan. Seseorang boleh memiliki keluasan ilmu, kefasihan berbicara, bahkan menguasai banyak dalil. Namun ketika ketakwaan melemah, lisan yang semestinya menjadi sarana kebaikan justru dapat berubah menjadi alat yang melukai orang lain.

Karena itu, para mufasir memahami QS. Al-Ahzab ayat 70 bukan sekadar larangan berdusta. Ayat tersebut dipandang sebagai pedoman etika yang menegaskan bahwa ketakwaan harus tercermin dalam dua hal sekaligus: perilaku yang baik dan ucapan yang benar.

Imam Fakhruddin ar-Razi menjelaskan:

ثُمَّ قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا أَرْشَدَهُمْ إِلَى مَا يَنْبَغِي أَنْ يَصْدُرَ مِنْهُمْ مِنَ الْأَفْعَالِ وَالْأَقْوَالِ، فَأَمَّا الْأَفْعَالُ فَالْخَيْرُ، وَأَمَّا الْأَقْوَالُ فَالْحَقُّ

Artinya, “Allah membimbing orang-orang beriman agar segala yang lahir dari diri mereka, baik perbuatan maupun ucapan, senantiasa berada di jalan yang benar. Dalam tindakan dituntut kebaikan, sedangkan dalam ucapan dituntut kebenaran.” (Tafsir Mafātīḥ al-Ghaib, juz XXV, hlm. 202).

Penjelasan ini menunjukkan bahwa ucapan yang benar bukan sekadar persoalan etika berbicara, melainkan bagian dari bangunan keimanan seorang Muslim. Amal saleh dan kejujuran lisan merupakan dua hal yang saling melengkapi. Tidak selaras apabila seseorang tampak bersemangat membela agama, tetapi pada saat yang sama lisannya dipenuhi fitnah, kebencian, atau permusuhan. Tujuan yang baik tidak dapat dibenarkan dengan cara-cara yang merusak nilai kebaikan itu sendiri.

Fenomena tersebut justru sering terlihat di era digital. Tidak sedikit orang yang lebih sibuk menjaga citra daripada menjaga lisannya. Mereka berpenampilan rapi ketika beribadah, tetapi kurang berhati-hati saat mengomentari orang lain di media sosial. Mereka menjaga kesucian diri sebelum salat, namun lalai menjaga kehormatan sesama ketika menulis komentar atau membagikan informasi yang belum tentu benar.

Akibatnya, ruang digital menghadirkan sebuah ironi. Kajian keislaman semakin mudah diakses, ayat Al-Qur’an dan hadis tersebar luas, serta ceramah dapat dinikmati kapan saja. Namun bersamaan dengan itu, fitnah, ujaran kebencian, dan caci maki juga semakin mudah diproduksi dan disebarkan. Media sosial yang semestinya menjadi sarana berbagi manfaat kerap berubah menjadi arena saling menjatuhkan.

Mengapa kondisi ini bisa terjadi? Salah satu sebabnya ialah karena takwa sering dipahami hanya sebagai hubungan personal antara manusia dengan Allah. Ketika mendengar kata takwa, yang terbayang biasanya adalah salat malam, puasa sunah, zikir, atau tilawah Al-Qur’an. Semua itu memang bagian penting dari ketakwaan. Namun Al-Qur’an mengingatkan bahwa takwa tidak berhenti pada ibadah ritual. Takwa juga harus tampak dalam cara seseorang berbicara, berinteraksi, dan memperlakukan orang lain.

Oleh sebab itu, para ulama selalu menghubungkan ketakwaan dengan akhlak sosial. Al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali mengutip nasihat Umar bin Abdul Aziz:

وَقَالَ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ: لَيْسَ تَقْوَى اللَّهِ بِصِيَامِ النَّهَارِ، وَلَا بِقِيَامِ اللَّيْلِ، وَالتَّخْلِيطِ فِيمَا بَيْنَ ذَلِكَ، وَلَكِنْ تَقْوَى اللَّهِ تَرْكُ مَا حَرَّمَ اللَّهُ، وَأَدَاءُ مَا افْتَرَضَ اللَّهُ

Artinya, “Takwa kepada Allah bukan hanya berpuasa pada siang hari atau menghidupkan malam dengan ibadah, sementara di sela-selanya masih melakukan pelanggaran. Takwa adalah meninggalkan apa yang diharamkan Allah dan menunaikan kewajiban yang diperintahkan-Nya.” (Tafsir Ibnu Rajab, juz II, hlm. 523).

Nasihat ini terasa sangat relevan dengan kehidupan digital saat ini. Seseorang mungkin rajin mengikuti kajian, mengkhatamkan Al-Qur’an, dan aktif menghadiri majelis ilmu. Namun pada saat yang sama, ia turut menyebarkan berita yang belum terverifikasi, membagikan video yang dipotong di luar konteks, atau menghakimi orang lain tanpa mengetahui duduk persoalannya.

Dengan demikian, masalah utamanya bukan terletak pada media sosial, melainkan pada cara manusia menggunakannya. Teknologi hanyalah alat; ia dapat menjadi jalan menuju kebaikan ataupun sarana menyebarkan keburukan, bergantung pada siapa yang memanfaatkannya.

Di sinilah hubungan antara ketakwaan dan qaulan sadīdan menjadi sangat penting. Al-Qur’an menyandingkan keduanya karena hati dan lisan tidak dapat dipisahkan. Apa yang memenuhi hati pada akhirnya akan tercermin melalui ucapan. Rasulullah saw. bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Artinya, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Hadis ini hanya memberikan dua pilihan: berkata baik atau memilih diam. Tidak semua hal yang diketahui harus disampaikan, tidak semua informasi layak disebarluaskan, dan tidak semua kebenaran harus diucapkan tanpa mempertimbangkan waktu, cara, maupun dampaknya. Dalam banyak keadaan, kemampuan menahan lisan justru menjadi tanda kedewasaan dan kebijaksanaan.

Karena itu, ketakwaan dan qaulan sadīdan bukanlah dua perintah yang berdiri sendiri. Ketakwaan adalah akar, sedangkan ucapan yang benar merupakan buahnya. Ketakwaan adalah sumber, sementara qaulan sadīdan menjadi cerminan yang tampak dalam kehidupan sehari-hari. Kualitas ucapan seseorang sering kali menjadi indikator paling nyata dari kualitas ketakwaannya.

Pandangan ini diperkuat oleh Ibnu Asyur. Menurutnya, setelah melarang orang-orang beriman melakukan perbuatan yang menyakiti Rasulullah saw. dan memperingatkan mereka agar tidak mengikuti jejak umat terdahulu yang menyakiti para nabi, Allah kemudian mengarahkan mereka kepada dua fondasi utama kemuliaan akhlak, yaitu ketakwaan dan ucapan yang benar.

بَعْدَ أَنْ نَهَى اللَّهُ الْمُسْلِمِينَ عَمَّا يُؤْذِي النَّبِيءَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ… وَالتَّقْوَى جِمَاعُ الْخَيْرِ فِي الْعَمَلِ وَالْقَوْلِ، وَالْقَوْلُ السَّدِيدُ مُبِثُّ الْفَضَائِلِ

Artinya, “Setelah melarang kaum beriman melakukan hal-hal yang menyakiti Nabi dan mengingatkan mereka agar tidak meniru umat terdahulu, Allah memerintahkan mereka untuk bertakwa dan berkata benar. Ketakwaan mencakup seluruh kebaikan dalam perbuatan dan ucapan, sedangkan perkataan yang benar menjadi sarana tersebarnya berbagai keutamaan.” (At-Tahrīr wa at-Tanwīr, jilid XXII, hlm. 121).

Penjelasan para ulama tersebut mengarah pada satu kesimpulan yang sama: ketakwaan dan qaulan sadīdan merupakan dua sisi yang tidak dapat dipisahkan. Lisan adalah juru bicara hati. Seseorang mungkin mampu menampilkan kesalehan di hadapan manusia, tetapi isi hatinya sering kali tercermin melalui kata-kata yang diucapkannya.

Pesan ini semakin relevan di era media sosial. Kini hampir setiap orang memiliki ruang untuk menyampaikan pendapat kepada khalayak. Jika dahulu seseorang harus berbicara di masjid atau mimbar agar didengar banyak orang, sekarang cukup melalui satu akun media sosial. Dalam hitungan detik, sebuah komentar dapat memengaruhi opini publik atau bahkan merusak nama baik seseorang.

Karena itu, kebebasan berbicara harus selalu disertai tanggung jawab moral. Pertanyaannya bukan lagi apakah seseorang bebas menyampaikan pendapat, melainkan apakah setiap kata yang ditulis dan diucapkan dapat dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Inilah relevansi QS. Al-Ahzab ayat 70 bagi kehidupan digital. Sebelum menulis komentar, membagikan informasi, atau menghakimi orang lain di ruang publik, Al-Qur’an mengajarkan agar menghadirkan ketakwaan terlebih dahulu. Dari hati yang bertakwa akan lahir qaulan sadīdan: ucapan yang jujur, tepat, bertanggung jawab, dan membawa kemaslahatan.

Di tengah zaman ketika setiap orang dapat berbicara kepada siapa saja, yang paling dibutuhkan bukan sekadar keberanian untuk bersuara, melainkan keberanian untuk mengatakan yang benar.