Flash Sale! to get a free eCookbook with our top 25 recipes.

Peran dan Hubungan Imam-Makmum dalam Mubadalah Keluarga

Peran dan Hubungan Imam-Makmum dalam Mubadalah Keluarga
Peran dan Hubungan Imam-Makmum dalam Mubadalah Keluarga

Kabarumat.co – Konsep Mubadalah mengajarkan pentingnya saling memberi dan menerima dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam hubungan antara imam dan makmum dalam keluarga. Seringkali kita diajarkan bahwa imam harus laki-laki dan makmum adalah perempuan.

Namun sebenarnya, Allah menciptakan setiap manusia dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kepemimpinan merupakan bakat dan keterampilan yang dimiliki seseorang sejak lahir dan juga dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya. Tidak semua orang mampu memimpin dan mengambil keputusan secara efektif.

Jika peran imam keluarga selalu ditetapkan untuk laki-laki, maka laki-laki tersebut harus mampu memimpin keluarga di semua aspek dan mengambil keputusan dalam berbagai situasi. Pertanyaannya, apakah hal itu selalu memungkinkan?

Begitu pula dengan perempuan, yang harus selalu menjadi makmum. Ketaatan dan kepatuhan dianggap sebagai hal utama bagi seorang istri. Dalam budaya Jawa ada ungkapan “Suwarga nunut, neraka katut,” yang bermakna istri mengikuti nasib suaminya, baik itu ke surga maupun ke neraka. Namun, apakah pandangan ini benar?

Perempuan, meskipun memiliki berbagai bakat, diharuskan selalu menjadi makmum dalam keluarga. Mereka jarang mendapatkan peluang untuk memimpin atau menentukan jalan hidupnya sendiri. Kesempatan untuk mengambil keputusan pun seringkali tidak diberikan, tanpa memandang tingkat pendidikan, keterampilan, maupun pengalaman yang dimilikinya.

Surga bagi Orang Beriman
Dalam Q.S. At Taubah ayat 72, Allah menjanjikan surga kepada orang-orang mukmin, baik laki-laki maupun perempuan. Surga itu dipenuhi dengan sungai yang mengalir di bawahnya, tempat yang kekal dan indah di surga ‘Adn. Kepuasan dan keridhaan Allah jauh lebih besar, dan itulah kemenangan yang sebenarnya.

Ayat ini menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki hak yang sama untuk masuk surga asalkan mereka beriman (baik mukminin maupun mukminat). Dengan kata lain, kriteria seseorang untuk meraih surga bukanlah jenis kelamin atau peran dalam keluarga, melainkan keimanan mereka.

Kepribadian
Setiap individu membawa kepribadian yang dibentuk sejak lahir dan berkembang melalui interaksi dengan lingkungan selama masa tumbuh kembang. Kita bisa mengenali tipe kepribadian kita melalui tes tertentu. Menurut hasil tes yang saya jalani, saya termasuk tipe kepribadian ENTJ (Komandan).

Waktu SMA, saya pernah menjabat sebagai ketua OSIS sekaligus ketua Asrama. Saat kuliah, saya juga memimpin tim KKN yang terdiri dari 6 laki-laki dan 4 perempuan. Saya bukan bermaksud membanggakan diri, tapi ingin mengajak berpikir.

Bagaimana jika seorang perempuan lahir dengan kepribadian pemimpin? Apakah dia harus selalu patuh dan tunduk pada suaminya tanpa ikut berperan dalam pengambilan keputusan? Apakah dia harus selalu mengikuti suaminya dalam segala keadaan?

Jika ada perempuan yang punya jiwa kepemimpinan, tentu ada juga laki-laki yang tidak memiliki sifat tersebut. Ini berarti kepemimpinan bukan soal jenis kelamin, melainkan tentang sifat bawaan dan pengalaman yang membentuknya.

Kemampuan Memimpin
Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, kemampuan memimpin tidak tergantung pada jenis kelamin. Ada orang yang memang sejak lahir punya kemampuan memimpin, sementara yang lain bisa mengembangkan kemampuan tersebut melalui proses pembelajaran dan pengalaman.

Namun, baik pengaruh lingkungan maupun sifat bawaan tidak memandang jenis kelamin. Kemampuan memimpin bisa muncul pada siapa saja yang memang memiliki potensi untuk itu. Tidak semua laki-laki otomatis memiliki kemampuan memimpin, terutama jika dalam proses tumbuh kembangnya tidak pernah mendapatkan pengalaman atau latihan memimpin.

Di sisi lain, ada laki-laki yang memang pantas dan mampu memimpin. Namun, kepemimpinan laki-laki dalam keluarga tidak seharusnya mutlak dalam hal-hal yang di luar pemahamannya. Begitu pula dengan perempuan, tidak selalu berarti perempuan selalu cakap atau layak menjadi pemimpin. Namun, perempuan harus diberikan kesempatan untuk mengatur dan mengambil keputusan dalam hal-hal yang menurutnya baik.

Mubadalah dalam Keluarga
Apakah hal ini berarti kita harus menghilangkan peran laki-laki sebagai imam? Jawabannya tidak. Kita tidak perlu bersikap ekstrem dengan mengklaim bahwa perempuan wajib menjadi imam. Yang perlu dilakukan adalah mengenali dan menerima kelebihan serta kekurangan masing-masing. Intinya adalah berbagi peran dan mempraktikkan prinsip kesalingan dalam hubungan dengan pasangan.

Apa maknanya? Jika salah satu pasangan memiliki keahlian tertentu, maka sebaiknya biarkan dia memimpin dalam bidang tersebut di rumah tangga. Misalnya, jika istri lulusan pesantren dan lebih menguasai ilmu agama, maka beri kesempatan kepada istri untuk membimbing suami dan anak-anak dalam hal agama.

Kalau suami lebih ahli dalam mengelola keuangan, maka biarkan dia yang mengatur pengeluaran bulanan. Tidak perlu memaksa istri menyimpan gaji suami jika dia kurang memahami pengelolaan keuangan.

Begitu pula jika suami lebih berkompeten dalam hal pengasuhan anak, berikan dia tanggung jawab untuk menentukan cara mendidik karena ia telah mempelajarinya dengan baik.

Dan jika suami sedang mengalami kelelahan berat atau putus asa, maka posisi pemimpin keluarga dapat dialihkan sementara kepada istri. Biarkan istri mengambil alih peran memimpin saat suami sedang menghadapi masa sulit.