Flash Sale! to get a free eCookbook with our top 25 recipes.

El Nino Berlanjut hingga 2027, Risiko Cuaca Ekstrem Masih Tinggi

El Nino Berlanjut hingga 2027, Risiko Cuaca Ekstrem Masih Tinggi
El Nino Berlanjut hingga 2027, Risiko Cuaca Ekstrem Masih Tinggi

Kabarumat.co – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan fenomena El Nino masih akan berlanjut hingga awal kuartal I 2027. Dampaknya, sebagian besar wilayah Indonesia berpotensi mengalami musim kemarau yang lebih kering dengan durasi yang lebih panjang dibandingkan kondisi normal.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menyampaikan bahwa proyeksi tersebut mengindikasikan Indonesia masih akan berada di bawah tekanan kondisi iklim dalam kurun waktu beberapa bulan ke depan.

Ia menambahkan, intensitas El Nino pada tahun ini berpeluang mencapai kategori kuat. Menurutnya, proyeksi tersebut selaras dengan prediksi BMKG yang memperkirakan fenomena El Nino akan berlangsung setidaknya hingga awal kuartal I 2027 dan berpotensi menyebabkan musim kemarau lebih kering dibandingkan kondisi normal.

“Informasi iklim ini sejalan dengan prediksi BMKG, di mana fenomena El Nino paling tidak berlangsung hingga awal kuartal pertama 2027 dan memicu kondisi kemarau yang lebih kering dari normal,” ujar Faisal dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (30/7/2026).

Sementara itu, Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan bahwa pengaruh El Nino terhadap kondisi iklim di Indonesia tidak terjadi secara terus-menerus selama fenomena tersebut masih aktif.

Ardhasena menjelaskan bahwa dampak El Nino terhadap Indonesia akan terasa paling kuat ketika fenomena tersebut bertepatan dengan musim kemarau. Meski El Nino diperkirakan masih berlanjut hingga kuartal I 2027, pengaruhnya tidak akan berlangsung sepanjang periode tersebut.

“Saat ini prediksi BMKG menunjukkan adanya peluang yang cukup besar bahwa El Nino tahun ini dapat melampaui kategori El Nino kuat. Fenomena ini umumnya akan bertahan setidaknya hingga kuartal pertama tahun berikutnya,” ujarnya.

Ia menambahkan, meskipun El Nino diperkirakan masih aktif hingga kuartal pertama 2027, dampaknya bagi Indonesia hanya akan muncul ketika beririsan dengan musim kemarau.

Ardhasena mengungkapkan bahwa fenomena El Nino diperkirakan akan terjadi bersamaan dengan fase positif Indian Ocean Dipole (IOD) pada periode September hingga Desember 2026. Perpaduan kedua fenomena iklim tersebut berpotensi menekan curah hujan di berbagai wilayah Indonesia.

“Kedua fenomena, yakni El Nino dan Indian Ocean Dipole, memiliki peluang mencapai puncak intensitas pada kategori kuat,” ujarnya.

Menurut Ardhasena, proyeksi tersebut sejalan dengan prediksi BMKG yang menunjukkan bahwa keberadaan El Nino akan memperkuat kondisi musim kemarau sehingga menjadi lebih kering dibandingkan kondisi normal.

“Sesuai dengan prediksi BMKG yang telah disampaikan pada Maret dan Mei, indeks El Nino diperkirakan mencapai puncak pada Desember 2026 atau Januari 2027. Namun, perlu ditegaskan kembali bahwa dampak El Nino terhadap Indonesia hanya akan terasa ketika fenomena tersebut bertepatan dengan periode musim kemarau,” tegasnya.