Kabarumat.co – Rapat internal PBNU telah menetapkan bahwa Muktamar NU ke-35 akan digelar di Pesantren Tambakberas, Jombang, pada akhir Agustus mendatang. Sebelumnya, Lirboyo sempat ramai disebut oleh kalangan grassroot NU sebagai salah satu kandidat kuat tuan rumah muktamar. Namun, perkiraan tersebut pada akhirnya tidak sesuai dengan keputusan yang diambil. Bagi penulis, penetapan Tambakberas sebagai lokasi Muktamar NU ke-35 menghadirkan dua sisi yang patut dicermati: ada alasan untuk berbangga, tetapi pada saat yang sama terdapat sejumlah hal yang perlu diwaspadai.
Sisi yang patut diapresiasi adalah keputusan tersebut dapat dimaknai sebagai upaya NU untuk kembali menegaskan jati dirinya sebagai jam’iyyah ulama tradisional yang tumbuh dari dinamika kehidupan pesantren dan kepedulian para kiai. Tambakberas sendiri memiliki akar sejarah yang kuat dalam perjalanan NU. Sosok KH. Abdul Wahab Hasbullah, sebagai ulama, pahlawan nasional, sekaligus salah satu tokoh penting yang menggerakkan Jam’iyyah Nahdlatul Ulama, merupakan figur yang tidak dapat dilepaskan dari sejarah tersebut.
Greg Fealy, dalam makalahnya berjudul “Wahab Chasbullah, Tradisionalisme dan Perkembangan Politik NU”, menggambarkan Kiai Wahab sebagai sosok ulama yang inspiratif, dinamis, dan memiliki kepemimpinan yang tegas, terutama dalam menghadapi berbagai situasi krisis di kalangan Muslim tradisionalis. Peran Kiai Wahab dalam menggalang dukungan massa NU untuk keluar dari Partai Masyumi dan kemudian mendorong lahirnya Partai NU menjadi salah satu episode penting dalam sejarah politik NU. Langkah tersebut bahkan menimbulkan gejolak di kalangan kelompok Islam lainnya, terlebih ketika NU berupaya menghadapi menguatnya arus politik Nasakom yang digaungkan Presiden Soekarno.
Karena itu, penetapan Tambakberas sebagai lokasi Muktamar NU ke-35 dapat dibaca sebagai penegasan kembali akar historis Jam’iyyah Nahdlatul Ulama yang lahir, tumbuh, dan berkembang dari rahim pesantren serta perjuangan para kiai tradisional.
Namun, di balik kebanggaan tersebut, terdapat sisi lain yang patut menjadi perhatian. Muktamar bukan semata forum konsolidasi organisasi, tetapi juga menjadi arena penting dalam menentukan Rais Aam dan Ketua Tanfidziyah. Karena itu, potensi munculnya berbagai manuver politik menjelang dan selama pelaksanaan muktamar perlu diantisipasi.
Publik NU tentu masih mengingat dinamika Muktamar NU ke-34 di Lampung. Ketika itu, penyelenggaraan muktamar disebut-sebut mendapat dukungan dari salah seorang pengusaha ternama yang pada saat bersamaan sempat dikaitkan dengan bursa calon wakil presiden, meskipun pada akhirnya nama tersebut tidak masuk dalam kontestasi.
Kekhawatiran serupa bukan tidak mungkin kembali muncul pada Muktamar NU ke-35 di Tambakberas. Berdasarkan informasi yang diketahui penulis mengenai sejumlah dugaan rencana menjelang muktamar, muncul kabar bahwa sebagian muktamirin sebelum menuju Tambakberas akan terlebih dahulu diarahkan ke Denanyar. Di tempat tersebut, mereka disebut-sebut akan mendapatkan pengarahan secara intensif terkait pilihan dalam pemilihan Ketua Tanfidziyah, khususnya untuk mendukung salah satu kandidat yang berasal dari keluarga Pesantren Denanyar.
Hal lain yang juga perlu dicermati adalah rekam jejak politik sejumlah tokoh yang memiliki keterkaitan dengan dinamika tersebut. Salah satunya adalah Kiai Hasib Wahab, yang dalam sejarah Muktamar NU di Cipasung pada 1994 dikenal sebagai salah satu tokoh yang cukup keras menentang Gus Dur. Bersama Abu Hasan dan sejumlah tokoh lainnya, ia berada di balik gerakan yang kemudian populer dengan slogan ABG—“Asal Bukan Gus Dur”.
Dengan demikian, Tambakberas bukan sekadar lokasi penyelenggaraan Muktamar NU ke-35. Ia membawa simbol sejarah, pesantren, dan akar tradisi NU, tetapi sekaligus berada dalam ruang politik organisasi yang sangat strategis. Tantangannya adalah memastikan agar kembalinya muktamar ke basis pesantren tidak justru membuka ruang bagi kepentingan politik tertentu untuk kembali mengambil alih arah organisasi.
Dalam sebuah buku langka karya almarhum Choirul Anam berjudul “Membanding Ulah GPK (Gerakan Pengacau Ke-NU-an) Abu Hasan”, disebutkan bahwa Kiai Hasib merupakan salah satu tokoh yang paling keras dan frontal dalam melontarkan kecaman terhadap Gus Dur. Keterangan tersebut bersumber dari kesaksian Chusnul Maab, yang pada waktu itu menjabat sebagai Ketua PAC GP Ansor Kecamatan Jetis, Mojokerto. Ia kemudian secara tidak sengaja terseret ke dalam barisan kubu Abu Hasan dan tercatat sebagai salah satu peserta MLB (Muktamar Luar Biasa) KPPNU yang digelar di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, pada 17 Januari 1996.
Beberapa hari sebelum MLB berlangsung, Chusnul Maab mendapat undangan dari seorang kawannya untuk bertemu dengan tiga tokoh pengasuh Pesantren Tambakberas, yakni Kiai Nasrullah, Kiai Ashari, dan Gus Hasib. Dalam pertemuan tersebut, Kiai Ashari secara khusus berpesan kepada Chusnul agar tidak mudah terpengaruh atau terprovokasi oleh ajakan Gus Hasib.
Akan tetapi, tidak lama berselang, Chusnul justru dihubungi oleh Gus Hasib. Ia diminta mengajak sejumlah jamaah NU untuk menghadiri sebuah pertemuan yang dimaksudkan sebagai sosialisasi rencana pelaksanaan MLB. Chusnul kemudian membawa sejumlah anggota PAC Ansor Jetis dalam forum tersebut. Di sana, ia mengaku terkejut mendengar pernyataan Gus Hasib yang berisi kecaman tajam terhadap Gus Dur, bahkan disertai sejumlah tudingan yang menurut Chusnul tidak memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan.
Ketika MLB yang dinanti akhirnya digelar, Chusnul kembali dikejutkan oleh pidato Abu Hasan. Ia mengaku belum pernah menyaksikan sebelumnya sebuah forum yang menyampaikan kecaman terhadap Gus Dur dengan intensitas dan nada sekeras itu.
Setelah mengikuti rangkaian peristiwa tersebut, Chusnul kemudian memilih untuk melakukan rujū‘ ilā al-haqq—kembali kepada jalan yang dianggap benar. Ia menyerahkan stempel KPPNU kepada KH. Hasyim Muzadi, yang kala itu menjabat sebagai Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur. Kepada jajaran PWNU Jawa Timur, Chusnul juga membeberkan kronologi berbagai peristiwa yang terjadi sebelum maupun setelah pelaksanaan MLB tersebut.
Waba‘du, dari rangkaian kisah tersebut, sebagai warga Nahdliyin grassroot, kita tentu memiliki dua sikap sekaligus: merasa bangga, tetapi juga tetap waspada terhadap pelaksanaan Muktamar NU di Tambakberas. Kebanggaan muncul karena muktamar kembali digelar di lingkungan pesantren yang memiliki akar sejarah kuat dalam perjalanan NU. Namun, kewaspadaan tetap diperlukan agar forum tertinggi organisasi tersebut tidak dimanfaatkan untuk kepentingan politik tertentu.
Pada akhirnya, harapan kita sederhana: semoga para muktamirin yang hadir mampu menentukan pilihan secara jernih, objektif, dan bebas dari tekanan apa pun. Semoga proses pemilihan pemimpin NU tidak dicederai oleh praktik money politics maupun intervensi kepentingan politik tertentu.
Semoga Allah memberikan petunjuk kepada seluruh peserta muktamar dan menjaga NU agar tetap berada pada jalan khidmah, tradisi, dan kemaslahatan umat.
Amin, Allahumma amin.
Kenali Kami Lebih Dekat
Assalamu Alaikum Akhi Ukhti!! Selamat datang di Kabar Umat
Kami hadir setiap saat untuk menyampaikan berita terpercaya serta wawasan keislaman, keindonesiaan dan kebudayaan hanya buat Akhi Ukhti. Bantu sukseskan Visi kami satukan umat kuatkan masyarakat dengan cara share konten kami kepada teman-teman terdekat Akhi Ukhti !