Suara Perlawanan terhadap Tirani: Pemikiran Politik Al-Kawakibi

Suara Perlawanan terhadap Tirani: Pemikiran Politik Al-Kawakibi
Suara Perlawanan terhadap Tirani: Pemikiran Politik Al-Kawakibi

Kabarumat.co – Biasanya, setiap penerbit tentu berharap sebuah buku tetap relevan dalam waktu yang panjang agar terus dibaca dan penjualannya pun berjalan. Namun, ada yang berbeda dari buku Panduan Melawan Tirani karya Al-Kawakibi. Dalam kata pengantarnya, Penerbit Turos justru menuliskan sebuah harapan yang terdengar tidak biasa: “Semoga buku ini lekas tak relevan.”

Kalimat tersebut mungkin terdengar janggal bagi sebuah penerbit. Bagaimana mungkin penerbit berharap bukunya segera kehilangan relevansi? Namun, jika dipikirkan lebih jauh, harapan itu justru masuk akal. Sebab, siapa yang ingin terus hidup dalam bayang-bayang tirani?

Al-Kawakibi menggambarkan tirani dengan perumpamaan yang sangat keras. Ia menyebut tirani sebagai penyakit yang lebih mematikan daripada wabah, lebih mengerikan daripada kebakaran, lebih menghancurkan daripada banjir, dan lebih merendahkan martabat manusia daripada mengemis. Dari sini terlihat bahwa tirani bukan sekadar bentuk kejahatan yang dilakukan oleh seorang penguasa. Ia merupakan bencana yang bekerja secara sistematis dan terstruktur, hingga mampu merusak kehidupan masyarakat secara keseluruhan.

Al-Kawakibi dan Akar Kemunduran Bangsa Timur

Buku Panduan Melawan Tirani sebenarnya bukanlah karya baru. Lebih dari satu abad yang lalu, buku ini telah ditulis dengan judul asli Thaba’i al-Istibdad wa Mashari’ al-Isti’bad, yang kurang lebih bermakna Tabiat Kediktatoran dan Gaung Perbudakan. Buku tersebut merupakan salah satu karya penting dari Abdurrahman Al-Kawakibi (1854–1902 M), seorang reformis Islam dari Timur Tengah.

Meski ditulis lebih dari satu abad lalu, membaca buku ini terasa seperti sedang membaca potret kehidupan politik masa kini. Dari halaman ke halaman, ada saja bagian yang membuat pembaca berhenti sejenak dan berpikir, “Kok terasa begitu dekat, ya?” Berbagai persoalan yang dibahas Al-Kawakibi seolah masih memiliki gema dalam kehidupan masyarakat modern.

Dalam buku tersebut, Al-Kawakibi menguraikan persoalan tirani secara sistematis. Ia membahas pengertian tirani, berbagai unsur yang menopangnya, dampak yang ditimbulkannya, hingga gagasan mengenai cara menghadapinya.

Gagasan tersebut lahir dari perjalanan intelektual Al-Kawakibi yang panjang. Ia terus memikirkan satu pertanyaan besar: mengapa bangsa-bangsa Timur pada masanya mengalami kemunduran dan tertinggal dari bangsa Barat, padahal sebelumnya pernah mencapai masa kejayaan?

Setelah melakukan pencarian dan perenungan selama puluhan tahun, Al-Kawakibi sampai pada satu kesimpulan: salah satu akar utama kemunduran tersebut adalah belenggu tirani politik. Dari kegelisahan inilah kemudian lahir Panduan Melawan Tirani.

Lalu, apa sebenarnya yang dimaksud dengan tirani? Bagaimana tirani bekerja dan apa dampaknya terhadap masyarakat? Dan yang tidak kalah penting, bagaimana Al-Kawakibi menawarkan jalan untuk menghadapinya?

Apa Itu Tirani?

Bagi Al-Kawakibi, tirani berkaitan dengan kesewenang-wenangan seseorang dalam menentukan kebijakan yang menyangkut kehidupan banyak orang. Seorang tiran cenderung mengambil keputusan berdasarkan kehendaknya sendiri dan menutup diri dari nasihat maupun kritik. Akibatnya, kebijakan yang lahir sering kali lebih banyak menguntungkan penguasa dan orang-orang yang berada di sekelilingnya.

Namun, tirani bagi Al-Kawakibi bukan hanya tentang seorang penguasa yang duduk di singgasana sambil menghunus pedang. Tirani bekerja lebih jauh dari itu. Ia membentuk sebuah ekosistem yang perlahan merusak mental masyarakat, mengacaukan cara berpikir, dan bahkan menghilangkan keinginan manusia untuk hidup secara merdeka.

Penguasa tiran membutuhkan rakyat yang patuh dan mudah dikendalikan. Al-Kawakibi menggambarkan kondisi ini melalui perumpamaan yang tajam: rakyat diposisikan seperti domba yang jinak atau bahkan seperti anjing yang terbiasa menjilat.

Ketika dominasi telah berhasil dibangun, penguasa tiran akan berusaha mempertahankan kekuasaannya dengan berbagai cara. Dua di antaranya adalah mengendalikan kekuatan militer dan membiarkan kebodohan tetap tumbuh di tengah masyarakat.

Keduanya menjadi senjata penting dalam mempertahankan tirani.

Masyarakat yang dibuat tidak berdaya, terlebih ketika berada di bawah tekanan militer, pada akhirnya akan semakin bergantung kepada pemerintah. Dalam situasi semacam ini, sang tiran kemudian tampil sebagai sosok penyelamat melalui berbagai program dan kebijakan. Ketergantungan tersebut perlahan membuat masyarakat semakin patuh dan kehilangan keberanian untuk mempertanyakan keadaan.

Pada titik tertentu, masyarakat yang terus-menerus hidup dalam penderitaan bahkan dapat menganggap kondisi tersebut sebagai sesuatu yang memang sudah menjadi takdir. Di sinilah penguasa tiran kerap memanfaatkan agama dan menggandeng tokoh-tokoh keagamaan untuk memberikan legitimasi terhadap kekuasaannya.

Tirani, Agama, dan Ilmu Pengetahuan

Menurut Al-Kawakibi, tirani politik dan tirani agama memiliki hubungan yang erat. Keduanya dapat saling menopang dan bekerja bersama dalam membelenggu manusia, baik secara fisik maupun mental.

Untuk mempertahankan kekuasaan, seorang tiran bahkan dapat menggunakan simbol dan atribut yang bernuansa ketuhanan. Tidak jarang pula tokoh agama dilibatkan untuk memberikan pembenaran terhadap tindakan penguasa, termasuk ketika tindakan tersebut merugikan atau menindas masyarakat.

Jika melihat perjalanan sejarah, agama memang memiliki pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan sebuah masyarakat dan negara. Ia dapat menjadi kekuatan yang mendorong perubahan, tetapi juga dapat disalahgunakan hingga memicu perpecahan. Dalam pandangan Al-Kawakibi, pembaruan pemahaman keagamaan bahkan dapat menjadi salah satu jalan penting menuju pembaruan politik.

Di sisi lain, fanatisme keagamaan yang berlebihan dapat menjadi celah bagi penguasa tiran. Ketika masyarakat memiliki kepatuhan yang sangat kuat kepada otoritas keagamaan, penguasa dapat memanfaatkan hubungan tersebut dengan merangkul tokoh-tokoh agama untuk memperkuat legitimasi kekuasaannya.

Namun, jika ada satu hal yang benar-benar ditakuti oleh tirani, itu adalah ilmu pengetahuan.

Bagi Al-Kawakibi, tirani dan ilmu pengetahuan berada pada dua sisi yang berlawanan. Karena itu, penguasa tiran berkepentingan menjaga masyarakat tetap berada dalam kebodohan. Sebagai gantinya, masyarakat diberi sedikit kekuasaan, harta, atau kenyamanan agar tetap merasa memiliki sesuatu yang perlu dipertahankan.

Al-Kawakibi menilai bahwa penguasa tiran sangat khawatir terhadap pengetahuan yang mampu memperluas wawasan, membangun keberanian, dan menyadarkan manusia atas hak-haknya. Orang-orang yang menggunakan ilmu pengetahuan untuk membuka mata masyarakat—baik melalui tulisan maupun mimbar—akan dipandang sebagai ancaman terhadap kekuasaan.

Sebab, masyarakat yang sadar akan hak-haknya akan lebih sulit untuk dikendalikan.

Sebuah Panduan Melawan Tirani

Meskipun tirani digambarkan sebagai penyakit yang begitu mematikan, Al-Kawakibi menunjukkan satu paradoks: di balik kekuasaannya yang tampak kuat, seorang tiran sebenarnya hidup dalam ketakutan.

Jika rakyat takut kehilangan makanan dan tempat untuk bertahan hidup, penguasa tiran justru memiliki ketakutan yang jauh lebih besar: kehilangan seluruh kekuasaannya. Karena itu, ia membutuhkan banyak pihak untuk menopang kedudukannya. Militer dirangkul, tokoh agama didekati, dan kelompok-kelompok yang memiliki modal diberi sebagian kekuasaan, kehormatan, atau kenyamanan.

Dengan cara tersebut, kekuasaan sang tiran tampak kokoh.

Lantas, bagaimana tirani dapat dilawan?

Bagi Al-Kawakibi, jalan keluarnya adalah musyawarah konstitusional. Namun, jalan menuju ke sana tidak bisa ditempuh secara instan. Hal pertama yang harus dibangun adalah kesadaran kolektif masyarakat mengenai pentingnya keadilan, kesetaraan, dan kemerdekaan.

Masyarakat yang terlalu lama hidup dalam belenggu tirani sering kali kehilangan keberanian untuk melawan. Dalam kondisi seperti ini, peran aktivis dan kaum intelektual menjadi penting. Mereka perlu membantu masyarakat memahami bahwa penderitaan bukan sesuatu yang harus diterima begitu saja sebagai takdir. Keadaan yang buruk masih mungkin diubah.

Kesadaran terhadap penderitaan tersebut kemudian dapat menjadi titik awal lahirnya gerakan bersama. Ketika masyarakat mulai menyadari bahwa kondisi yang mereka alami bukan sesuatu yang harus diterima selamanya, muncul peluang untuk membangun kekuatan kolektif guna mengubah keadaan.

Namun, Al-Kawakibi tidak melihat kekerasan sebagai jalan untuk mengakhiri tirani. Perlawanan yang mengandalkan kekerasan justru berisiko menimbulkan pembantaian dan semakin memperbesar penderitaan rakyat.

Karena itu, menurut Al-Kawakibi, tirani perlu dihadapi melalui kebijaksanaan dan proses yang bertahap. Pendidikan dan penyadaran menjadi salah satu cara penting untuk memutus akar tirani. Jalannya mungkin panjang, tetapi perubahan yang bertahan lama membutuhkan fondasi kesadaran yang kuat.

Ada satu hal lain yang tidak kalah penting: menjatuhkan tirani saja tidak cukup.

Menumbangkan sebuah rezim mungkin sulit, tetapi mempersiapkan sistem yang akan menggantikannya juga merupakan persoalan besar. Tanpa sistem pengganti yang matang, perjuangan melawan tirani justru dapat berakhir dengan lahirnya tirani baru.

Dengan kata lain, kita hanya berpindah dari satu bentuk penindasan ke bentuk penindasan lainnya. Al-Kawakibi menggambarkannya seperti mengganti penyakit kronis dengan penyakit akut.

Karena itu, sebuah gerakan harus memiliki tujuan yang jelas dan dipahami oleh masyarakat luas. Tanpa tujuan yang terang, gerakan mudah berubah menjadi sekadar ajang balas dendam yang justru melahirkan kekacauan baru.

Sebaliknya, tujuan yang jelas dapat membantu membangun kepercayaan publik sekaligus mempersempit ruang bagi kepentingan-kepentingan tersembunyi. Pada akhirnya, perjuangan melawan tirani bukan hanya tentang bagaimana menjatuhkan penguasa yang sewenang-wenang, tetapi juga tentang bagaimana membangun kehidupan politik yang lebih adil setelahnya.

Dan mungkin, di situlah letak relevansi terbesar pemikiran Al-Kawakibi: perjuangan melawan tirani tidak berhenti ketika tirani tumbang. Ia baru benar-benar selesai ketika masyarakat memiliki kesadaran, sistem, dan keberanian untuk memastikan tirani tidak kembali tumbuh dalam bentuk yang baru.