Flash Sale! to get a free eCookbook with our top 25 recipes.

Serangan Pemukim Israel Terus Meningkat

Serangan Pemukim Israel Terus Meningkat
Serangan Pemukim Israel Terus Meningkat

Kabarumat.co – Desa Far’ata yang terletak di bagian timur Kegubernuran Qalqiliya, Tepi Barat, Palestina, menghadapi lonjakan serangan dari pemukim Israel sejak awal 2026. Aksi yang terjadi berulang kali itu menyasar warga Palestina, lahan pertanian, serta berbagai aset milik penduduk, sehingga semakin membatasi akses masyarakat terhadap tanah dan sumber mata pencaharian mereka.

Mengutip WAFA, salah seorang warga Far’ata, Mohammed Shana’a, mengaku pernah membeli sebidang tanah di wilayah timur desa dengan rencana membangun rumah. Namun, meningkatnya serangan pemukim membuatnya tidak lagi berani mengunjungi lahan tersebut.

“Pada akhirnya saya memutuskan menjual tanah itu karena kondisinya terlalu berbahaya untuk didatangi. Pemukim menyerang siapa pun yang berada di kawasan tersebut,” kata Shana’a.

Serangan yang terus berlanjut juga berdampak langsung pada para petani yang bergantung pada sektor pertanian sebagai sumber penghidupan. Salah seorang petani, Abdul Muati Rizq, mengatakan lahan seluas dua dunum miliknya yang selama ini menopang kebutuhan keluarganya kini sulit dikelola. Ancaman serangan saat menuju lahan maupun ketika memanen hasil pertanian membuatnya terpaksa mengurangi aktivitas bertani secara signifikan.

Di sisi lain, warga Far’ata lainnya, Hijazi Yameen, mengungkapkan bahwa rumah-rumah penduduk turut menjadi target serangan para pemukim. Ia menuturkan, rumah keluarganya berulang kali dilempari batu dan dipenuhi sampah oleh para pemukim, sehingga memicu rasa takut dan ketidaknyamanan di kalangan warga. Karena itu, ia mendesak adanya perlindungan bagi masyarakat serta langkah nyata untuk menghentikan serangan-serangan tersebut.

Anggota Dewan Desa Far’ata, Rula Abdel Aziz, menyatakan bahwa intensitas serangan yang dilakukan pemukim dari permukiman ilegal Havat Gilad dan Yitzhar meningkat tajam sejak awal tahun.

Abdel Aziz menjelaskan bahwa kedua permukiman ilegal tersebut dibangun di atas tanah milik warga Palestina dan berlokasi hanya sekitar 200–300 meter dari Desa Far’ata. Kedekatan itu membuat warga hidup di bawah ancaman serangan yang nyaris terjadi setiap hari.

Ia mengungkapkan, sejak awal tahun telah terjadi sekitar 400 serangan di Far’ata. Juli menjadi periode dengan jumlah insiden tertinggi, yakni sekitar 40 serangan, meningkat dibandingkan sekitar 30 serangan yang tercatat pada Juni.

Menurut Abdel Aziz, serangkaian serangan itu telah mengakibatkan sekitar 300 dunum lahan desa dikuasai para pemukim. Selain itu, sekitar 150 dunum lahan lainnya diratakan menggunakan buldoser atau dibakar, yang sebagian besar merupakan kebun zaitun. Kerusakan juga mencakup pembakaran sekitar 20 kendaraan, perusakan sekitar 50 rumah dan fasilitas umum, serta sedikitnya 40 serangan langsung terhadap warga, termasuk pelemparan batu dan penembakan.

Abdel Aziz menambahkan, kawasan timur dan selatan desa menjadi wilayah yang paling sering menjadi sasaran karena terdapat situs Abu al-Joud yang diklaim para pemukim sebagai milik mereka dan rutin digunakan untuk kegiatan keagamaan. Ia mengatakan para pemukim juga telah menempatkan karavan, membangun gudang, kandang ternak, serta mendirikan tenda-tenda baru di wilayah selatan desa. Akibat kondisi tersebut, sekitar 35 keluarga kini kehilangan akses untuk memasuki dan mengolah lahan mereka.

Abdel Aziz juga mengungkapkan berbagai bentuk intimidasi yang dilakukan para pemukim, mulai dari meletakkan bangkai babi di depan rumah warga hingga mencuri aliran listrik dari jaringan desa untuk memasok kawasan yang telah mereka kuasai. Ia menambahkan, belum lama ini para pemukim mendatangkan balok-balok beton yang diduga akan digunakan untuk memasang gerbang pertanian, langkah yang dikhawatirkan semakin membatasi akses warga ke lahan mereka.

Menurut Abdel Aziz, serangan yang terjadi tidak lagi sebatas menyebabkan kerusakan fisik, tetapi juga merupakan upaya untuk memaksa warga Palestina meninggalkan tanah mereka. Hal itu dilakukan dengan menghambat aktivitas bertani dan menggembala sehingga memudahkan pengambilalihan lahan sekaligus memperluas permukiman ilegal.

Desa Far’ata terletak di bagian timur Kegubernuran Qalqiliya dan berbatasan dengan Desa Immatin di utara, Jit di selatan, serta Awarta dan Osarin di wilayah tenggara yang masuk Kegubernuran Nablus. Desa yang dihuni sekitar 1.200 penduduk tersebut memiliki luas sekitar 1.760 dunum. Letaknya yang berdekatan dengan sejumlah pos permukiman ilegal Israel membuat Far’ata menjadi salah satu wilayah yang rentan mengalami serangan dari para pemukim.