Flash Sale! to get a free eCookbook with our top 25 recipes.

Turki Lanjutkan Proses Normalisasi Hubungan dengan Mesir

Turki Lanjutkan Proses Normalisasi Hubungan dengan Mesir
Baca Artikel Ini

Riyadh – Pemerintah Turki mempertahankan kontak dengan Mesir untuk proses normalisasi hubungan bilateral. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan diketahui sempat bertemu Presiden Mesir, Abdel Fattah el-Sisi saat seremoni pembukaan Piala Dunia di Qatar pada 20 November lalu.

“Sikap yang mengutamakan kerja sama negara kami di kawasan telah menghasilkan era baru dalam hubungan bilateral dengan Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Israel. Kontak kami dengan Mesir untuk normalisasi hubungan berlanjut dalam kerangka kemauan dan kepentingan bersama dari kedua belah pihak, serta rasa hormat,” kata Wakil Presiden Turki Fuat Oktay, Jumat (25/11), dilaporkan Anadolu Agency.

Di sela-sela acara pembukaan Piala Dunia Qatar pada 20 November lalu, Erdogan dan Sisi sempat bertemu tatap muka serta berjabat tangan. Ada nuansa keakraban karena Sisi dan Erdogan saling bertukar senyum. Momen perjumpaan mereka disaksikan langsung oleh Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani.

Hubungan Turki dan Mesir telah mengalami keretakan selama hampir satu dekade. Turki diketahui menolak mengakui pemerintahan Sisi pasca kudeta militer yang dilakukannya terhadap mantan presiden Mesir Mohamed Morsi pada 2013. Erdogan adalah tokoh yang mendukung Morsi.

Pada Februari 2019, Erdogan sempat mengatakan dia tidak akan bertemu Sisi sampai seluruh tahanan politik Mesir dibebaskan. Beberapa kelompok hak asasi manusia melaporkan bahwa Mesir menahan 65 ribu tahanan politik.

“Saya tidak akan pernah bertemu dengan orang seperti itu. Pertama-tama, dia (Sisi) perlu membebaskan semua narapidana dengan amnesti umum. Selama dia tidak membebaskan orang-orang itu, kami tidak bisa bertemu dengan Sisi,” kata Erdogan kala itu.

Erdogan telah mengindikasikan bahwa dia akan mengevaluasi kembali hubungan dengan Mesir dan Suriah setelah pemilihan presiden serta parlemen domestik tahun depan.

Ahmad Fairozi
Magister Sejarah Peradaban Islam, Universitar Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta.