Flash Sale! to get a free eCookbook with our top 25 recipes.

Perlawanan Abdullah bin Zubair terhadap Legitimasi Politik Dinasti Umayah

Perlawanan Abdullah bin Zubair terhadap Legitimasi Politik Dinasti Umayah
Perlawanan Abdullah bin Zubair terhadap Legitimasi Politik Dinasti Umayah

kabarumat.co – Pengangkatan Yazid bin Mu’awiyah sebagai khalifah penerus ayahnya, Mu’awiyah bin Abi Sufyan, pada tahun 56 H/676 M memicu perdebatan luas di kalangan umat Islam. Penyebab utamanya adalah karena mekanisme suksesi melalui penunjukan putra mahkota merupakan praktik yang belum pernah diterapkan sebelumnya dalam tradisi politik Islam. Sebelumnya, empat khalifah terdahulu dipilih melalui mekanisme yang lebih kolektif, baik melalui musyawarah maupun konsensus terbatas dalam dewan syura. Karena itu, penunjukan Yazid dinilai sebagian kalangan lebih menyerupai pola pewarisan kekuasaan yang berlaku di imperium besar seperti Romawi dan Persia. Dalam konteks tersebut, selain Husain bin Ali, Abdullah bin Zubair termasuk di antara tokoh sahabat Nabi yang menolak memberikan baiat kepada Yazid bin Mu‘awiyah.

Pada mulanya, Abdullah bin Zubair yang bermukim di Madinah memilih hijrah ke Makkah untuk menghimpun dukungan dan memperkuat posisinya dalam upaya membangun pemerintahan alternatif yang menandingi kekuasaan Dinasti Umayah. Langkah ini segera mendapat respons dari Yazid bin Mu’awiyah. Ia mengirim pasukan di bawah komando Muslim bin Uqbah untuk menumpas gerakan pendukung Abdullah bin Zubair.

Pada tahun 63 H, pecahlah pertempuran di kawasan Perang al-Harrah, sebuah wilayah di dekat Madinah. Pasukan penduduk Madinah yang dipimpin oleh Abdullah bin Hanzhalah akhirnya berhasil dikalahkan oleh pasukan Dinasti Umayah.

Setelah menguasai Madinah, pasukan Umayah melanjutkan operasi militernya menuju Makkah dengan tujuan mengakhiri perlawanan Abdullah bin Zubair secara tuntas. Namun, ketika pengepungan Makkah masih berlangsung, Yazid bin Mu‘awiyah wafat. Kematian sang khalifah menyebabkan pasukan yang sebelumnya dikirim untuk mengepung Makkah ditarik kembali ke Damaskus, sehingga ekspedisi tersebut terhenti sebelum mencapai tujuannya.

Wafatnya Yazid bin Mu’awiyah, yang kemudian disusul oleh kematian putranya sekaligus penerusnya, Muawiyah II, semakin mengukuhkan posisi Abdullah bin Zubair di Makkah. Situasi ini terjadi karena Muawiyah II mengundurkan diri dari jabatan khalifah tanpa menetapkan pengganti, sehingga untuk sementara waktu tidak ada tokoh dari Bani Umayah yang memiliki legitimasi kuat untuk memegang tampuk kekhalifahan.

Kekosongan kepemimpinan tersebut mendorong banyak kaum Muslimin dari berbagai wilayah untuk memberikan baiat kepada Abdullah bin Zubair. Dengan dukungan yang meluas itu, putra sahabat Nabi, Zubair bin al-Awwam, dapat dianggap sebagai khalifah yang memiliki legitimasi formal di sebagian besar dunia Islam pada dekade 680-an M.

Meski demikian, kekuasaan Abdullah bin Zubair tidak sepenuhnya tanpa kelemahan. Kedudukannya di Makkah memang memberikan nilai simbolik dan religius yang besar, tetapi dari sudut pandang politik dan militer justru menimbulkan tantangan. Basis pemerintahannya berada jauh dari wilayah-wilayah strategis, terutama kawasan Syam yang menjadi pusat kekuatan politik saat itu. Untuk mengatasi kendala tersebut, cucu Abu Bakar melalui jalur Asma binti Abu Bakar ini menunjuk saudaranya, Mushab bin Zubair, sebagai wakil yang bertugas mengelola pemerintahan dan mempertahankan pengaruhnya di wilayah Syam.

Titik balik dalam perjalanan kekuasaan Abdullah bin Zubair terjadi ketika keluarga Umayah berhasil memulihkan kekuatan politik mereka. Setelah wafatnya Marwan bin al-Hakam, tampuk kekuasaan beralih kepada putranya, Abdul Malik bin Marwan, yang dikenal sebagai negarawan dan administrator ulung. Di bawah kepemimpinannya, Dinasti Umayah kembali terkonsolidasi dan mampu merebut kembali wilayah-wilayah yang sebelumnya berada di bawah pengaruh Abdullah bin Zubair.

Setelah berhasil mengamankan kawasan Suriah dan Mesir, Abdul Malik memusatkan perhatiannya ke Irak. Pada 71 H/691 M, pasukan Umayah berhasil mengalahkan Mushab bin Zubair, yang selama ini menjadi penopang utama kekuasaan Abdullah di wilayah tersebut. Kekalahan Mush’ab menjadi pukulan besar bagi pemerintahan yang berpusat di Makkah dan mempersempit ruang gerak politik Abdullah bin Zubair.

Setahun kemudian, Abdul Malik mengirim ekspedisi militer besar yang dipimpin oleh Al-Hajjaj bin Yusuf al-Tsaqafi. Dengan dukungan puluhan ribu pasukan, Al-Hajjaj bergerak menuju Makkah untuk mengakhiri perlawanan Abdullah bin Zubair. Penaklukan kota suci itu berlangsung panjang dan melelahkan. Selama sekitar tujuh bulan, Makkah dikepung dan pusat-pusat pertahanan Abdullah terus digempur. Seiring berjalannya waktu, banyak pendukungnya mulai meninggalkan perjuangan tersebut hingga ia nyaris berdiri sendiri. Di saat dukungan politik dan militer terus menyusut, sosok yang tetap memberikan semangat kepadanya adalah ibundanya, Asma binti Abu Bakar.

Dalam salah satu nasihatnya yang terkenal, Asma mendorong putranya untuk tetap teguh mempertahankan keyakinan yang dianggap benar. Ia menegaskan bahwa apabila Abdullah benar-benar memperjuangkan kebenaran, maka ia tidak boleh menyerah hanya karena sebagian pendukungnya telah gugur atau berbalik arah. Bagi Asma, kematian dalam kehormatan jauh lebih mulia daripada hidup dalam kehinaan dan tunduk kepada lawan.

Meski menghadapi tekanan yang semakin besar, Abdullah bin Zubair tidak memilih menyerah. Ia terus bertahan hingga akhirnya gugur dalam pertempuran di sekitar Masjid al-Haram pada tahun 73 H/692 M. Dengan wafatnya putra Zubair bin al-Awwam tersebut, berakhirlah pemerintahan tandingan yang berpusat di Makkah. Seluruh wilayah dunia Islam kembali berada di bawah kendali Dinasti Umayah.

Kekalahan Abdullah bin Zubair juga menandai berakhirnya Fitnah Kedua, konflik internal umat Islam yang berlangsung sekitar dua belas tahun. Walaupun masa kekuasaannya relatif singkat, warisan sejarah Abdullah bin Zubair jauh melampaui lamanya ia memerintah. Ia dikenang sebagai simbol perlawanan terhadap kecenderungan pewarisan kekuasaan dan praktik nepotisme yang menguat pada masa Dinasti Umayah. Selain itu, kiprahnya menunjukkan bahwa legitimasi politik tidak semata-mata ditentukan oleh kekuatan militer, tetapi juga oleh integritas pribadi, reputasi moral, dan dukungan masyarakat yang melihatnya sebagai sosok yang memperjuangkan prinsip-prinsip tertentu dalam kehidupan politik Islam awal.