Flash Sale! to get a free eCookbook with our top 25 recipes.

Perempuan dan Ambisinya: Menulis Takdir Sendiri

Perempuan dan Ambisinya: Menulis Takdir Sendiri
Perempuan dan Ambisinya: Menulis Takdir Sendiri

kabarumat.co – Setiap manusia yang hidup di dunia ini pasti memiliki rencana dan tujuan yang ingin dicapai dalam hidupnya. Ketika seseorang memiliki arah atau tujuan hidup yang jelas, semangat untuk menjalani kehidupan pun akan meningkat. Bahkan, seseorang akan berusaha lebih giat apabila tujuan tersebut dirasa dapat memberikan perubahan besar dalam hidupnya. Usaha yang dilakukan pun bukanlah usaha yang biasa-biasa saja—melainkan disertai dengan tekad kuat dan doa yang sungguh-sungguh.

Sebagai manusia seutuhnya, perempuan juga perlu memiliki tujuan hidup yang ingin diraih. Tujuan ini bisa menuntut berbagai bentuk perjuangan, bahkan pengorbanan. Setiap perempuan memiliki mimpi dan harapan yang ingin diwujudkan, baik untuk membahagiakan orang-orang terdekatnya, maupun untuk memberikan kepuasan bagi dirinya sendiri. Selama tujuan itu bersifat positif, maka layak untuk diperjuangkan dan dikejar sepenuh hati.

Perempuan yang berkomitmen terhadap cita-citanya umumnya akan memiliki ambisi. Ambisi merupakan dorongan kuat atau keinginan mendalam untuk menjadi seseorang atau melakukan sesuatu yang telah lama diimpikan. Ambisi menjadi faktor penting yang mampu mendorong seseorang—terutama perempuan—untuk meraih hal-hal besar dalam hidup. Tanpa ambisi, akan sulit untuk menghasilkan pencapaian luar biasa, meskipun setiap upaya tentu datang dengan tantangan dan konsekuensi.

Namun demikian, ambisi juga memiliki sisi negatif. Keinginan kuat untuk mencapai sesuatu terkadang bisa mendorong seseorang untuk menghalalkan segala cara, yang justru merugikan diri sendiri maupun orang lain. Oleh karena itu, ambisi perlu diarahkan ke jalur yang positif, agar manfaatnya dapat dirasakan, baik secara pribadi maupun oleh lingkungan sekitar.

Terdapat sebuah kutipan menarik dari Sheryl Sandberg, Chief Operating Officer Facebook, yang menyatakan, “Dalam dunia profesional, masih banyak pihak yang merasa tidak nyaman ketika seorang perempuan menunjukkan ambisinya. Mereka beranggapan bahwa perempuan seharusnya lebih rendah hati dan bersikap tenang.” Hal ini mendorong kita untuk merenung: mengapa pandangan semacam ini masih bertahan hingga sekarang?

Sering kali, perempuan yang memiliki ambisi dianggap negatif dan diberi label sebagai “terlalu ambisius.” Beberapa orang—terutama laki-laki—merasa terganggu atau terancam ketika perempuan menunjukkan karakteristik yang dianggap maskulin, seperti keberanian, kekuasaan, atau ambisi. Padahal, ambisi bukanlah sesuatu yang buruk atau perlu dihindari. Justru, ambisi seharusnya dihargai dan didukung, karena perempuan yang berambisi mampu memberikan dampak besar bagi masyarakat dan dunia secara luas.

Sebuah studi dari Harvard Business School tahun 2018 menunjukkan bahwa perempuan yang menunjukkan keinginan kuat untuk mencapai posisi tinggi dalam karier cenderung dipandang lebih negatif dibandingkan laki-laki yang memiliki ambisi serupa. Fakta ini mencerminkan adanya stereotip dan bias gender yang masih mengakar kuat dalam masyarakat kita.

Contohnya, seorang perempuan yang tekun dalam bekerja, berambisi menjadi karyawan teladan, kemudian melanjutkan pendidikan ke jenjang magister, serta aktif mengikuti pelatihan untuk meningkatkan kualitas diri. Semua itu merupakan bentuk ambisi yang positif. Perempuan seperti ini seharusnya mendapatkan dukungan, karena apa yang dilakukannya bertujuan untuk mengembangkan potensi dan meningkatkan nilai dirinya, bukan semata-mata untuk bersaing secara negatif.

Namun, pada kenyataannya, masih ada laki-laki yang merasa takut atau bahkan minder terhadap perempuan yang memiliki ambisi besar. Mereka khawatir perempuan seperti itu akan cenderung mendominasi dalam sebuah hubungan, sehingga laki-laki terlihat terlalu mengikuti semua keputusan yang dibuat oleh pasangannya. Padahal, faktanya tidak sedikit perempuan ambisius yang justru terbuka untuk berdiskusi dan mampu menjalin hubungan yang setara.

Perlu dibedakan antara ambisi dan sifat ambisius. Ambisi merujuk pada tujuan atau keinginan kuat untuk meraih sesuatu, sementara ambisius menggambarkan seseorang yang berusaha keras dan gigih untuk mencapainya. Meski begitu, kata “ambisius” kerap disalahartikan secara negatif dalam lingkungan sosial, karena dianggap merugikan orang lain atau terlalu memaksakan kehendak. Akibatnya, orang yang ambisius sering kali tidak disukai.

Salah satu alasannya adalah karena orang yang ambisius biasanya memiliki etos kerja yang tinggi dan semangat luar biasa dalam mengejar tujuan hidupnya. Dalam prosesnya, mereka bisa saja tanpa sengaja mengabaikan situasi atau perasaan orang di sekitarnya.

Sebagai contoh, seorang mahasiswi yang rajin, cerdas, dan selalu aktif menjawab pertanyaan dosen di kelas. Ia memiliki tujuan untuk meraih beasiswa akademik. Namun, sebagian orang di sekitarnya justru merasa terancam dan menilainya sebagai sosok yang ambisius secara negatif. Ia bahkan dianggap tidak mau bergaul atau bersosialisasi.

Padahal, yang ia tunjukkan adalah bentuk nyata dari seorang perempuan yang punya ambisi positif—belajar dengan giat dan aktif dalam kelas demi mencapai cita-citanya. Sikap tersebut bukan berarti ia sedang mencari perhatian, melainkan bentuk komitmen dan kesungguhannya dalam meraih prestasi.

Stigma-stigma seperti inilah yang membuat sosok perempuan sering kali dianggap mengintimidasi ketika menunjukkan sikap ambisius—baik di dunia kerja, pendidikan, maupun bidang lainnya. Padahal, keberanian yang ditunjukkan perempuan adalah bagian dari upaya mereka untuk meraih mimpi, sama seperti yang dilakukan laki-laki. Perempuan pun memiliki hak yang sama untuk mewujudkan cita-citanya melalui usaha yang jujur dan benar.

Untuk seluruh perempuan di luar sana, tidak perlu merasa bahwa ambisi harus ditekan atau disembunyikan. Ambisi adalah wujud dari kekuatan, keyakinan, dan keberanian. Jangan biarkan siapa pun meremehkan atau membuatmu merasa tidak cukup hanya karena kamu memiliki mimpi besar. Perempuan yang berani bermimpi dan berusaha mencapainya pantas untuk dihargai dan didukung.

Perempuan memiliki potensi untuk mengejar dan meraih tujuan hidup yang diinginkannya. Ambisi perempuan bukanlah sesuatu yang patut ditakuti, terutama oleh laki-laki. Sebaliknya, ambisi ini perlu diapresiasi dan diberi ruang untuk berkembang, karena akan membawa dampak positif yang lebih luas bagi diri sendiri dan lingkungan sekitarnya.