Surabaya – Universitas Negeri Surabaya (Unesa) melalui Pusat Pembinaan Ideologi, LPPM melakukan upaya pencegahan untuk mencegah munculnya dan tersebarnya paham ke dalamleran, radikalisme dan terorisme di kampus. Salah satu yang mereka lakukan yaitu menyelenggarakan Seminar Korbinmas Baharkam Polri 2022.
Seminar ini menghadirkan narasumber sederet seperti Drs. Mufi Imron Rosyadi, MEI Kabid Penais Zawa Kanwil Kemenag Jatim, Ustadz M. Nasir Abbas pengamat teori dan eks-napiter (terpidana), dan Dr. Oksiana Jatiningsih, M.Si. sebagai Ketua Jurusan PMPKN Unesa.
Kasubdit Bintibsos Ditbintibmas Korbinmas Baharkam Polri, Kombes Pol Hari Purnomo dalam sambutannya mengungkapkan seminar ini sebagai upaya untuk edukasi bahaya radikalisme di lingkungan pendidikan sebagai langkah pencegahan dan penangkalan radikalisme dan serta intoleransi.
“Seminar ini dilakukan serentak di seluruh Indonesia secara bergiliran, utamanya menyasar pada lingkungan pendidikan seperti sekolah, ponpes, dan perguruan tinggi,” ujarnya dilansir dari laman Unesa, Minggu, 11 September 2022.
Dia melanjutkan, sasaran utama kelompok terorisme dan radikalisme adalah generasi muda yang masih sangat rentan terhadap paham-paham radikalisme. “Ini bukan hanya memberikan pemahaman, tetapi mengajak mahasiswa menjadi garda depan mencegah masuknya paham intoleran dan radikalisme di kampus,”.
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Agus Hariyanto menyatakan, akar permasalahan paham seperti radikalisme yaitu pemahaman agama yang sempit dengan keyakinan akan kebenaran kebenaran tersebut. Paham seperti ini terjadi pada semua agama, kelompok, suku, dan ras serta terjadi di berbagai negara.
“Kita semua perlu mencegah aksi radikalisme, terorisme dan intoleransi di kampus dan di mana pun. Ini tugas bersama. Perlu upaya pencegahan sejak dini,” terangnya.
Rekrutmen Anggota Teroris Baru
Sebagai eks anggota Jamaah Islamiyah (JI), ustadz M. Nasir Abbas menjelaskan bagaimana organisasi teroris merekrut anggota baru. Kegagalan seseorang dalam melihat dan menyikapi perbedaan dapat menimbulkan perilaku atau tindakan yang tidak sesuai dengan pemikiran dan pemahaman radikal.
Ada empat tahap ekstremisme para teroris. Dari tindakan Intoleran yang dihasilkan oleh kegagalan dalam melihat perbedaan, akan timbul konflik horizontal yang terdiri atas isu suku, agama, ras dan antar golongan. Sedangkan, tahap berikutnya mereka mulai membuat konflik yang mengarah ke vertikal terhadap UUD 45, Pancasila, dan NKRI.
Kurangnya pengetahuan, salah berguru, dan merasa kecewa bisa menjadi sasaran empuknya masuknya paham radikalisme. Dia memberi beberapa contoh kata-kata orang yang sudah terpapar radikalisme seperti “teroris itu baik, pejuang Islam”, “pemerintah ini kafir…”,” bagus itu di bom..” , dan berbagai kata-kata lainnya,” jelasnya.
Para perekrut sendiri menggunakan tekanan mental yang membuat targetnya turun terlebih dahulu, melalui pemikiran dan wawasan yang seolah-olah memahami betul tentang ilmu agama. Dengan cara itu, mereka akan menarik para target yang dirasa kurang, atau masih gampang diombang-ambingkan.
Oksiana Jatiningsih, menyampaikan, karakteristik dari seseorang yang sudah terpapar radikalisme antara lain sikap tidak toleransi, sikap fanatik, sikap eksklusif dan sikap revolusioner untuk menggunakan kekerasan dalam mencapai tujuan).
Generasi muda harus Mampu Menanamkan Nilai-nilai Antiterorisme:
Citizenship (kualitas pribadi seseorang yang berkaitan hak dan kewajiban sebagai warga negara) Compassion (peduli terhadap penderitaan orang lain, simpati dan empati) Courtesy, (perilaku sopan santun dan berbudi Bahasa halus) Fairness, (perilaku adil) Moderasi (menjauhi pemikiran dan tindakan yang irasional).
Generasi muda harus aktif membangun diri, aktif dalam kehidupan sosial baik dalam keluarga, kampus dan masyarakat. Generasi muda harus mampu sebagai kontrol, penggerak dan pendorong kehidupan bermasyarakat, sebagai pencegah masuknya pemahaman radikal.
Sementara itu Mufi Imron Rosyadi, menyampaikan, masyarakat perlu memahami moderasi beragama. Moderasi beragama bukan hal absurd yang tak bisa diukur.
“Keberhasilan moderasi beragama dalam kehidupan masyarakat Indonesia dapat terlihat dari komitmen tinggi kebangsaan, toleransi, antikekerasan, dan penerimaan terhadap tradisi,” tutupnya.
Leave a Review