Flash Sale! to get a free eCookbook with our top 25 recipes.

Ketika Dialog Berubah Jadi Konflik: Debat Antaragama dan Ancaman Intoleransi

Ketika Dialog Berubah Jadi Konflik: Debat Antaragama dan Ancaman Intoleransi
Ketika Dialog Berubah Jadi Konflik: Debat Antaragama dan Ancaman Intoleransi

kabarumat.co – Belakangan ini, perhatian banyak orang tertuju pada fenomena lama yang mengkhawatirkan: dakwah dalam bentuk debat antaragama. Gaya dakwah lewat debat sering dipandang sebagai pencerahan; penuh dengan kutipan kitab suci dan argumen logis yang dibungkus dengan jargon pembelaan iman. Namun sebenarnya, di balik itu tersembunyi api kecil yang dapat menyulut intoleransi. Ustaz Zakir Naik dikenal dengan gaya dakwahnya yang khas: berdebat.

Dalam setiap debat, ada yang menang dan ada yang kalah. Sayangnya, yang kalah bukan hanya argumen lawan, tetapi juga martabat mereka yang harus menyaksikan teks suci mereka dijadikan bahan olok-olok di depan ribuan penonton. Islam tampak unggul hanya karena mampu ‘membungkam’ lawan debat, namun satu hal penting terlupakan: agama bukanlah sebuah kompetisi.

Kemenangan dalam debat bukanlah kemenangan spiritual sejati. Justru, ketika Islam diposisikan sebagai agama yang harus ‘mengalahkan dan merendahkan’ agama lain dalam konfrontasi publik, sebenarnya umat sedang merendahkan kemuliaan Islam itu sendiri. Mereka menjual kebesaran Islam ke dalam kerangka ego kolektif yang sempit, bahwa kebenaran hanya terasa jika bisa menjatuhkan yang lain.

Pertanyaan utama yang harus dijawab: untuk siapa sebenarnya debat seperti ini diadakan? Apakah untuk mengajak orang masuk Islam? Untuk memperkuat umat Islam? Atau hanya untuk membangun kultus tokoh yang dipuja karena sukses ‘mengalahkan’ argumen Kristen, Hindu, Buddha, atau ateis dalam waktu singkat? Lebih penting lagi, apa dampaknya terhadap hubungan antaragama yang selama ini dijaga dengan pengorbanan sejak kemerdekaan Indonesia?

Zakir Naik telah menjadi simbol eksklusivisme Islam secara global. Ia menyebarkan gagasan bahwa Islam adalah satu-satunya kebenaran dengan cara menyoroti kelemahan agama lain. Dalam debatnya, agama lain tidak lagi dipandang sebagai tetangga spiritual yang harus dihormati, melainkan sebagai lawan yang harus dipermalukan dengan cepat dan cerdik. Ini bukan dakwah, melainkan sebuah argumentasi yang menjadikan keyakinan orang lain sebagai bahan pertempuran.

Untuk Indonesia yang sangat plural, gaya seperti ini tidak cocok dan bahkan berbahaya. Meski Ustaz Zakir berhasil mengajak banyak orang masuk Islam, jangan lupakan bahwa secara tidak langsung ia juga memperkuat islamofobia. Bukan karena Islam itu menakutkan, tetapi karena sebagian umat Islam memperkenalkannya dengan sikap sombong dan angkuh melalui debat-debat tersebut.

Orang Kristen, Hindu, dan Buddha yang agamanya dijadikan bahan adu logika dalam forum terbuka pasti merasa dihina. Penghinaan teologis semacam ini bisa memicu trauma, dendam, bahkan luka ideologis yang sulit disembuhkan. Logikanya sederhana: jika Islam terus dicerca di Barat, tentu umat Islam akan membenci islamofobia. Semua Muslim pasti menolak islamofobia.

Ironisnya, sebagian umat Islam menganggap itu sebagai keberhasilan dakwah. Mereka menyambut Ustaz Zakir Naik layaknya seorang bintang film, seolah Islam semakin mulia karena menang debat. Padahal, sejak kapan Islam perlu dibandingkan agar dianggap benar? Apakah kemuliaan Al-Qur’an bergantung pada pengakuan penganut agama lain? Apakah iman seorang Muslim bertambah hanya karena ada yang masuk Islam akibat kalah debat?

Perlu diingat bahwa Islam merupakan agama yang mulia karena telah membangun peradaban berdasarkan akhlak dan keadilan. Nabi Muhammad Saw. dalam berdakwah tidak pernah menghina kitab Injil, merendahkan kitab Weda, atau menertawakan Taurat milik kaum Yahudi. Beliau menyentuh hati para non-Muslim, bukan hanya sekadar mengandalkan argumen hafalan. Dunia berubah karena akhlak beliau, bukan karena perbandingan agama lewat presentasi.

Gaya dakwah Ustaz Zakir Naik, walau kaya data dan informasi, tak lepas dari pengaruh ideologi tertentu. Ia terafiliasi dengan paham Salafi-Wahabi yang menolak pencampuran Islam dengan budaya lokal, tidak mengakomodasi perbedaan, dan menginginkan Islam tampil seperti pada masa abad ke-7 di padang pasir. Sikap ini sangat bertolak belakang dengan Islam sejati yang inklusif dan hidup berdampingan dengan perbedaan selama berabad-abad tanpa merasa terancam.

Oleh karena itu, umat Muslim seharusnya bertanya dengan jujur: mengapa sosok seperti Ustaz Zakir Naik begitu populer dan sering diundang di negara yang ber-Bhineka Tunggal Ika? Apakah ini karena kekaguman terhadap retorikanya, ataukah justru menandakan ketidakpercayaan diri umat Islam terhadap kebesaran agamanya sendiri?

Jika Islam disebarkan dengan cara-cara yang frontal dan konfrontatif, tanpa merangkul perbedaan, maka umat Muslim sebenarnya sedang membuka pintu menuju intoleransi. Debat antaragama yang terjadi bukanlah dialog melainkan konfrontasi, dan konfrontasi ini adalah langkah awal menuju polarisasi — perpecahan yang dapat memicu radikalisme dan terorisme, yang sangat berbahaya.

Meskipun Ustaz Zakir Naik tidak membawa senjata, kata-katanya bisa menjadi senjata yang tajam dan membakar, menginspirasi rasa superioritas yang berpotensi memicu tindakan ekstrem. Jika umat hanya mengagumi kemampuan ‘menang debat’ tanpa menyadari dampak sosial negatifnya, mereka sebenarnya sedang menanam benih konflik masa depan yang tersembunyi.

Islam tidak perlu merendahkan agama lain agar dianggap besar. Islam tidak perlu menang di panggung debat untuk menjadi mulia. Islam sudah mulia dan kebenarannya sudah pasti. Seperti yang dicontohkan Nabi Saw., kemenangan sejati Islam adalah ketika umatnya mampu hidup berdampingan secara damai dalam perbedaan, tanpa harus mendominasi narasi atau menjatuhkan yang lain.

Dakwah yang benar adalah membangkitkan harapan, menumbuhkan kasih sayang, dan menjembatani hubungan manusia dengan Tuhan serta sesama. Saat ini, Islam tidak kekurangan penceramah, melainkan kekurangan teladan, dan teladan tidak bisa lahir dari debat. Mengapa tidak mengundang ahli sains nuklir dari Iran, yang lebih bermanfaat bagi kedaulatan bangsa? Jangan sampai debat antaragama justru merusak kerukunan di NKRI.