Flash Sale! to get a free eCookbook with our top 25 recipes.

Hijrah di Era Digital: Dari Kebisingan Menuju Kesadaran

Hijrah di Era Digital: Dari Kebisingan Menuju Kesadaran
Hijrah di Era Digital: Dari Kebisingan Menuju Kesadaran

kabarumat.co – Bagi umat Islam, Tahun Baru Hijriah bukan sekadar penanda pergantian waktu dalam kalender. Momen ini mengajak setiap muslim untuk merenungkan kembali peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Madinah, sebuah peristiwa yang tidak hanya mengubah arah perjalanan Islam, tetapi juga melahirkan fondasi peradaban yang lebih adil dan manusiawi.

Hijrah yang dilakukan Nabi bukanlah bentuk pelarian dari tekanan. Sebaliknya, ia merupakan langkah strategis untuk membangun tatanan sosial yang lebih sehat. Di Mekah, Nabi dan para sahabat menghadapi berbagai bentuk penindasan, mulai dari diskriminasi sosial, boikot ekonomi, hingga ancaman kekerasan. Dalam situasi seperti itu, ruang untuk menumbuhkan masyarakat yang berkeadilan menjadi semakin sempit.

Madinah kemudian menjadi tempat lahirnya sebuah masyarakat baru yang dibangun di atas prinsip persaudaraan, keadilan, penghormatan terhadap perbedaan, dan perlindungan terhadap kelompok yang lemah. Melalui Piagam Madinah, Nabi meletakkan dasar kehidupan bersama yang mengakui hak dan tanggung jawab seluruh warga tanpa memandang latar belakang agama maupun suku.

Karena itu, hijrah tidak dapat dipahami hanya sebagai perpindahan fisik dari satu tempat ke tempat lain. Hijrah adalah perubahan cara pandang dan perubahan sistem kehidupan. Ia merupakan perpindahan dari budaya dominasi menuju kesetaraan, dari penindasan menuju penghormatan terhadap martabat manusia. Dalam makna yang lebih luas, hijrah adalah revolusi kemanusiaan yang mengubah rasa takut menjadi harapan dan keterbatasan menjadi peluang untuk membangun masa depan yang lebih baik.

Pemikir Muslim Ali Syariati memandang hijrah sebagai salah satu kekuatan besar yang membentuk sejarah manusia. Menurutnya, banyak peradaban lahir dari proses perpindahan yang melahirkan kesadaran baru. Dalam perspektif ini, hijrah Nabi Muhammad bukan hanya peristiwa religius, melainkan juga titik balik yang melahirkan sebuah peradaban dunia.

Semangat hijrah karena itu tetap relevan di setiap zaman. Ia hadir setiap kali manusia berusaha melepaskan diri dari berbagai bentuk keterbelengguan menuju kehidupan yang lebih merdeka, adil, dan bermartabat.

Jika pada masa Nabi bentuk penindasan hadir secara fisik, maka manusia modern menghadapi bentuk tekanan yang lebih halus. Penjajahan tidak lagi selalu datang melalui kekuatan militer atau kekerasan terbuka, melainkan melalui arus informasi, teknologi, dan algoritma yang membentuk cara berpikir manusia.

Filsuf Michel Foucault menjelaskan bahwa kuasa modern sering bekerja melalui pengawasan dan pembentukan kesadaran. Seseorang merasa bebas, padahal pilihan-pilihannya perlahan diarahkan oleh sistem yang tidak selalu ia sadari. Fenomena ini tampak jelas dalam kehidupan digital saat ini. Media sosial, algoritma, dan arus informasi yang terus mengalir setiap hari memengaruhi apa yang kita lihat, baca, sukai, bahkan pikirkan.

Akibatnya, perhatian manusia menjadi komoditas yang diperebutkan. Pikiran dipenuhi berbagai informasi yang tidak selalu penting, sementara ruang untuk merenung semakin menyempit. Manusia tampak semakin terhubung, tetapi sering kali justru semakin jauh dari dirinya sendiri.

Ali Syariati menyebut kondisi semacam ini sebagai istihmar, yaitu proses pembiusan kesadaran yang membuat manusia kehilangan kemampuan berpikir kritis. Jika dahulu penindasan dilakukan melalui kekuatan politik dan ekonomi, kini ia dapat hadir melalui budaya konsumtif, hiburan berlebihan, dan berbagai mekanisme yang membuat manusia lupa pada tujuan hidupnya.

Di sinilah makna hijrah menemukan relevansi baru. Jika generasi awal Islam berhijrah dari tekanan kaum Quraisy, maka manusia abad ke-21 perlu berhijrah dari dominasi algoritma dan berbagai bentuk penjajahan kesadaran yang mengurangi kebebasan berpikirnya.

Pada tingkat yang lebih mendalam, hijrah merupakan revolusi kesadaran. Ia tidak hanya mengubah perilaku, tetapi juga mengubah cara seseorang memandang dirinya, kehidupannya, dan arah yang ingin dituju. Martin Heidegger mengingatkan bahwa manusia sering terjebak dalam kehidupan yang tidak autentik, hidup mengikuti arus mayoritas tanpa benar-benar memahami dirinya sendiri.

Fenomena tersebut semakin nyata di era digital. Banyak orang lebih sibuk mengejar apa yang sedang viral daripada mencari apa yang benar. Popularitas sering dianggap lebih penting daripada kebijaksanaan, sementara nilai diri diukur melalui jumlah pengikut, tanda suka, dan tingkat keterlihatan.

Hijrah mengajarkan keberanian untuk keluar dari pola hidup yang reaktif menuju kehidupan yang reflektif. Ia mengajak manusia untuk kembali menjadi subjek yang menentukan arah hidupnya sendiri, bukan sekadar objek yang mengikuti arus tren dan notifikasi.

Namun hijrah tidak berarti menolak teknologi. Yang dibutuhkan bukan menjauhi teknologi, melainkan membangun hubungan yang sehat dengannya. Teknologi seharusnya menjadi alat yang memperluas kemanusiaan, bukan sarana yang mempersempit kebebasan dan kesadaran manusia.

Pelajaran lain dari hijrah Nabi adalah bahwa perubahan pribadi harus berlanjut menjadi perubahan sosial. Setelah tiba di Madinah, Nabi tidak berhenti pada transformasi individu, tetapi membangun masyarakat yang berlandaskan keadilan dan solidaritas.

Di era digital, semangat ini dapat diwujudkan melalui pembangunan “Madinah digital”, yaitu ruang virtual yang sehat, inklusif, dan beretika. Sebuah ruang yang menjadikan dialog lebih utama daripada permusuhan, menghargai perbedaan sebagai kekayaan, dan memanfaatkan teknologi untuk memperkuat empati serta kepedulian sosial.

Nilai-nilai tersebut sejatinya sejalan dengan kearifan Nusantara seperti gotong royong, musyawarah, tepa selira, dan penghormatan terhadap sesama. Nilai-nilai itu tetap relevan ketika ruang digital kerap dipenuhi polarisasi, ujaran kebencian, dan konflik yang tidak produktif.

Pada akhirnya, hijrah juga merupakan perjalanan spiritual. Para sufi memaknai hijrah sebagai perpindahan hati dari selain Allah menuju Allah. Dalam konteks modern, tantangan terbesar bukanlah kurangnya informasi, melainkan hilangnya keheningan.

Notifikasi yang datang tanpa henti, berita yang terus mengalir, dan percakapan digital yang tidak pernah selesai sering membuat manusia kehilangan kesempatan untuk berdialog dengan dirinya sendiri. Padahal, keheningan merupakan ruang penting untuk melakukan refleksi, mengenali diri, dan merasakan kedekatan dengan Tuhan.

Al-Ghazali mengibaratkan hati sebagai cermin yang harus dibersihkan agar mampu memantulkan cahaya kebenaran. Jalaluddin Rumi pun mengingatkan bahwa manusia sering kehilangan dirinya karena terlalu sibuk mengejar gema dunia luar. Karena itu, hijrah spiritual di era digital dapat dimaknai sebagai upaya menciptakan ruang jeda di tengah banjir informasi, memperbanyak tafakur, melatih disiplin digital, dan memperkuat hubungan dengan Sang Pencipta.

Tahun Baru Hijriah mengingatkan bahwa setiap zaman memiliki bentuk hijrahnya sendiri. Jika dahulu hijrah berarti meninggalkan Mekah menuju Madinah, maka hari ini hijrah dapat dimaknai sebagai keberanian berpindah dari kebisingan menuju keheningan, dari ketergantungan menuju pengendalian diri, dari kebencian menuju persaudaraan, dan dari kedangkalan menuju kebijaksanaan.

Hijrah di era digital adalah upaya membebaskan diri dari berbagai bentuk penjajahan kesadaran, menggunakan teknologi tanpa diperbudak olehnya, serta tetap terhubung dengan dunia tanpa kehilangan hubungan dengan diri sendiri dan Tuhan.

Sebagaimana hijrah Nabi melahirkan peradaban Madinah yang agung, hijrah kesadaran pada era digital juga berpotensi melahirkan peradaban baru: peradaban yang memadukan kemajuan teknologi dengan kedalaman spiritual, kecerdasan intelektual dengan kebijaksanaan batin, serta keterhubungan global dengan tanggung jawab kemanusiaan.

Sebab pada akhirnya, setiap hijrah adalah perjalanan pulang—pulang kepada kemanusiaan yang lebih utuh, kepada kebijaksanaan yang hidup dalam tradisi, dan kepada Tuhan sebagai sumber makna dan tujuan kehidupan.