Salah satu bentuk perintah dalam syariat Islam adalah menjalankan ibadah, baik ibadah mahdhah maupun ibadah ghairu mahdhah. Menurut Syekh Abu Bakar Muhammad Syathah, ibadah mahdhah adalah ibadah yang tidak dapat diwakilkan pelaksanaannya, seperti shalat. Sementara itu, ibadah ghairu mahdhah adalah ibadah yang pelaksanaannya boleh diwakilkan kepada orang lain dengan syarat-syarat tertentu, seperti ibadah haji.
Dalam pelaksanaannya, beragam bentuk ibadah ini seringkali menghadirkan tantangan, terutama dalam menjaga kekhusyukan hati. Banyak orang merasa belum mampu beribadah dengan sepenuh keikhlasan dan kesempurnaan, sehingga hal ini mengganggu ketenangan batin saat beribadah. Bahkan, tidak sedikit yang memilih meninggalkan amal hanya karena merasa belum ikhlas.
Padahal, agama Islam pada hakikatnya adalah agama yang sederhana dan tidak sesulit seperti yang sering dibayangkan banyak orang. KH. Bahauddin Nur Salim, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Gus Baha, dalam salah satu kajiannya pernah mengkritisi fenomena orang-orang yang menunda beribadah karena menunggu rasa ikhlas terlebih dahulu. Menurut beliau, orang yang beribadah namun hatinya dipenuhi kekhawatiran apakah amalnya diterima atau tidak, justru termasuk dalam golongan orang yang sombong, bahkan bisa jatuh pada kesyirikan.
Sesungguhnya, siapa pun yang masih berkenan bersujud dan beribadah kepada Allah, meskipun pikirannya mungkin terpecah karena urusan dunia seperti hutang, tetap telah melakukan sesuatu yang sangat mulia. Ia telah membuat setan murka karena memilih taat kepada Allah. Oleh karena itu, orang yang masih diberi kesempatan untuk bersujud hendaknya banyak bersyukur, karena kemampuan untuk beribadah adalah karunia besar dari Allah SWT.
Amal yang Disertai Rasa Syukur
Sebagai pengamal kitab Al-Hikam karya Ibnu Athaillah, Gus Baha kerap mengutip isi kitab tersebut dalam ceramah-ceramahnya. Dalam konteks ini, beliau mengutip satu hikmah penting:p
قليل العمل مع الشهود المنة من الله خير من كثير العمل مع الشهود التقصير
“Amal yang sedikit tetapi disertai perasaan bahagia dan bersyukur kepada Allah itu lebih baik daripada beramal tetapi disertai perasaan selalu salah dan tidak sempurna.”
Petikan ini mengandung pesan bahwa ibadah tidak harus selalu menunggu keikhlasan atau kesempurnaan. Bahkan, jika seseorang memaksa dirinya untuk selalu beribadah secara sempurna dan ikhlas, justru bisa membuatnya sulit untuk bersyukur. Ia akan terus merasa bersalah dan enggan mengucap Alhamdulillah, padahal kenyataannya, ia telah diberi kesempatan oleh Allah untuk tetap bisa beribadah.
Kondisi seperti ini tentu tidak baik jika dibiarkan, karena dapat membentuk pribadi yang sulit bersyukur atas nikmat beribadah itu sendiri.
Ketika seseorang memaksakan diri untuk menyempurnakan ibadah, bisa saja ibadah itu malah terasa membebani. Bahkan ia bisa mulai menganggap ibadah sebagai hal yang memberatkan dan menjengkelkan. Padahal, itu adalah bisikan setan yang ingin menjauhkan manusia dari ketaatan.
Imam Syafi’i pernah berpesan:a
سيروا الى الله عرجا و مكاسير ولا تنتظروا الصحة فان انتظار الصحة بطالة
“Berjalanlah menuju Allah meskipun dengan terpincang-pincang dan jangan menunggu sehat, karena menunggu sehat akan menggagalkannya”.
Makna Sempurna dalam Ibadah
Pesan Imam Syafi’i ini menegaskan bahwa untuk mendekat kepada Allah, kita tidak perlu menunggu dalam keadaan sempurna. Selama seseorang masih mau beribadah, itu sudah merupakan langkah menuju ridha Allah. Di luar sana masih banyak orang yang belum mendapatkan taufik dari Allah untuk bisa sujud dan menyembah-Nya.
Jika seseorang terlalu terobsesi pada kesempurnaan ibadah—apakah sudah ikhlas, apakah akan diterima atau tidak—hal itu bisa membuka celah bagi pikiran-pikiran negatif. Ia bisa mulai bertanya, “Untuk apa shalat jika tidak khusyuk?” atau “Mengapa harus sujud jika belum tentu diterima?” dan lain sebagainya. Pikiran semacam ini, jika dibiarkan, bisa menjauhkan seseorang dari semangat beribadah.
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu seharusnya tidak perlu muncul dalam benak seorang muslim, karena sudah menjadi fitrah manusia untuk bersujud kepada Allah. Namun, karena terobsesi ingin menyempurnakan ibadah, seseorang justru bisa melupakan tujuan utama dari sujud itu sendiri. Padahal, betapapun sederhana atau kurang ideal bentuk ibadah kita, selama di dalamnya terdapat unsur mengagungkan Allah, maka itu sudah cukup untuk membuat setan geram.
Secara sederhana, ibadah yang dilakukan dengan sempurna memang sesuatu yang baik dan patut diupayakan. Namun perlu dipahami bahwa manusia memiliki kecenderungan untuk melakukan kesalahan dan lupa. Artinya, dalam setiap amal yang dilakukan manusia, sangat mungkin terdapat kekurangan. Jika seseorang hanya mau beribadah ketika merasa mampu melakukannya tanpa kesalahan sedikit pun, maka ia tidak akan pernah memulainya.
Apa pun bentuknya, selama seseorang masih beribadah—terutama di tengah zaman yang penuh godaan seperti sekarang—itu sudah menjadi keberhasilan besar. Bahkan setan akan menangis saat melihat manusia tetap sujud dan beribadah kepada Allah. Maka, jika kita sudah berhasil membuat setan menangis karena ibadah kita, tidak sepatutnya kita larut dalam kegelisahan tentang apakah ibadah itu diterima atau tidak. Menjadikan setan kesal dan kalah adalah pencapaian yang luar biasa di masa kini.
Kenali Kami Lebih Dekat
Assalamu Alaikum Akhi Ukhti!! Selamat datang di Kabar Umat
Kami hadir setiap saat untuk menyampaikan berita terpercaya serta wawasan keislaman, keindonesiaan dan kebudayaan hanya buat Akhi Ukhti. Bantu sukseskan Visi kami satukan umat kuatkan masyarakat dengan cara share konten kami kepada teman-teman terdekat Akhi Ukhti !