Kabarumat.co – Ilmu adalah salah satu anugerah Allah SWT yang memiliki kedudukan sangat agung dalam kehidupan manusia. Dengan ilmu, seseorang mampu membedakan perkara yang hak dan batil, memahami ajaran agama, serta menjalani kehidupan berdasarkan petunjuk dan ketentuan Allah SWT. Mengingat betapa pentingnya ilmu, Islam menempatkan aktivitas menuntut ilmu sebagai kewajiban bagi setiap Muslim. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
Artinya: “Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap Muslim.” (HR. Ibnu Majah).
Meskipun demikian, Islam tidak menjadikan proses mencari ilmu sebagai tujuan yang berhenti pada penguasaan pengetahuan semata. Lebih dari itu, ilmu seharusnya melahirkan pemahaman yang benar, memperbaiki akhlak, serta diwujudkan melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, kepandaian seseorang dalam menyampaikan ajaran agama, menghafal berbagai dalil, maupun memahami kitab-kitab keislaman belum tentu mencerminkan kualitas keimanannya apabila semua pengetahuan tersebut tidak diamalkan dalam kehidupan.
Bahkan, Al-Qur’an memberikan gambaran yang sangat tegas mengenai orang-orang yang memperoleh pengetahuan agama, tetapi tidak melaksanakan konsekuensi dan tanggung jawab dari ilmu yang telah diberikan kepadanya. Gambaran tersebut diabadikan dalam Surat Al-Jumu’ah ayat 5, yang berbunyi:
مَثَلُ الَّذِيْنَ حُمِّلُوا التَّوْرٰىةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوْهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ اَسْفَارًا ۗ
Artinya: “Perumpamaan orang-orang yang diberi tugas membawa (mengamalkan) Taurat, kemudian mereka tidak mengamalkannya, adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab tebal.” (QS. Al-Jumu’ah: 5).
Lantas, apa alasan Al-Qur’an mengumpamakan orang yang memiliki ilmu, tetapi tidak mengamalkannya, seperti seekor keledai yang memikul kitab-kitab tebal? Apa makna dan hikmah di balik perumpamaan tersebut? Untuk memahami penjelasannya lebih jauh, mari simak pembahasan berikut hingga selesai!
Latar Belakang Turunnya Surat Al-Jumu’ah Ayat 5
Jika ditinjau dari konteks sejarahnya, Surat Al-Jumu’ah ayat 5 berkaitan dengan perilaku kaum Yahudi yang telah menerima kitab Taurat sebagai pedoman hidup dan petunjuk dari Allah SWT. Mereka sesungguhnya telah dibekali pengetahuan mengenai berbagai ajaran, perintah, dan larangan yang tercantum di dalam kitab tersebut. Akan tetapi, pengetahuan yang mereka miliki tidak disertai dengan komitmen untuk melaksanakan dan menaati kandungannya. Sebaliknya, mereka justru mengabaikan kewajiban serta amanah yang melekat pada kitab suci yang telah diberikan kepada mereka.
Melalui ayat tersebut, Allah SWT menghadirkan sebuah perumpamaan yang sangat mendalam tentang orang-orang yang memiliki pengetahuan agama, tetapi tidak mengamalkan apa yang telah mereka ketahui. Mereka digambarkan seperti seekor keledai yang membawa tumpukan kitab tebal di atas punggungnya. Meskipun mampu memikul kitab-kitab tersebut, keledai itu tidak mengetahui isi, makna, maupun petunjuk yang terkandung di dalamnya. Dengan demikian, keberadaan kitab-kitab tersebut tidak memberikan manfaat apa pun baginya.
Mengenai makna ayat ini, Syekh Wahbah az-Zuhaili memberikan penjelasan dalam kitab Tafsir al-Munir sebagai berikut:
بعد أن أثبت الله تعالى التوحيد والنوبة، وأخبر أنه بعث الرسول العربي الأمي إلى الأميين العرب، فقال اليهود: إنه ﷺ بعث إلى العرب خاصة، ولم يبعث لنا بمفهوم الآية، رد الله عليهم بأنهم لم يعملوا بالتوراة، وأنهم لو عملوا بمقتضاها وما تضمنته من البشارة بهذا الرسول، لانتفعوا بها وآمنوا به، ولم يقولوا هذا القول أو يوردوا هذه الشبهة، ومثلهم في عدم الانتفاع بتوراتهم وترك العمل بها مثل الحمار الذي يحمل الكتب، ولم يصبه إلا العناء والتعب.
Artinya: “Setelah Allah SWT menetapkan keesaan dan kenabian, serta mengabarkan bahwa Ia mengutus seorang Rasul penutup yang berbangsa Arab lagi ummi kepada kaum yang ummi (bangsa Arab), maka berkatalah kaum Yahudi: ‘Sesungguhnya beliau saw. diutus khusus untuk bangsa Arab saja, dan tidak diutus untuk kami’ berdasarkan pemahaman tersirat dari ayat tersebut.
Allah SWT kemudian membantah pernyataan mereka dengan menjelaskan bahwa mereka sendiri tidak menjalankan isi kandungan Taurat. Padahal, apabila mereka benar-benar melaksanakan segala tuntunan dan ajaran yang terdapat di dalamnya, termasuk berita gembira mengenai kedatangan Rasul tersebut, tentu mereka akan memperoleh manfaat darinya dan beriman kepada beliau. Dengan demikian, mereka tidak akan mengeluarkan pernyataan seperti itu ataupun menyampaikan keraguan dan argumentasi yang keliru.
Keadaan mereka yang tidak memperoleh manfaat dari kitab Taurat dan mengabaikan kewajiban untuk mengamalkannya diumpamakan seperti seekor keledai yang mengangkut kitab-kitab tebal. Dari semua kitab yang dibawanya, tidak ada yang diperoleh selain rasa letih dan kelelahan.” (Tafsir al-Munir, [Damaskus, Darul Fikr: 1411 H], jilid XXVIII, hlm. 189–190).
Meskipun ayat tersebut pada mulanya berbicara mengenai perilaku kaum Yahudi yang tidak mengamalkan kitab Taurat, pesan yang terkandung di dalamnya tidak terbatas pada kelompok tersebut. Perumpamaan ini juga menjadi pelajaran bagi siapa pun yang memiliki pengetahuan, khususnya ilmu agama, tetapi tidak berusaha menerapkannya dalam kehidupan. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Syekh Ali Al-Fayumi berikut:
فكل من علم ثم لم يعمل بعلمه فهذا مثله
Artinya: “Setiap orang yang telah memperoleh ilmu, tetapi tidak mengamalkan ilmunya, maka demikianlah perumpamaannya (seperti keledai yang membawa kitab-kitab).” (Fathul Qarib ‘ala Targhib wat Tarhib, [Riyadh, Maktabah Darus Salam: 1439 H], jilid II, hlm. 83).
Lantas, mengapa Al-Qur’an memilih perumpamaan keledai yang memikul kitab-kitab tebal untuk menggambarkan orang yang tidak mengamalkan ilmunya? Apa hikmah yang terkandung di balik perumpamaan yang begitu tegas tersebut?
Pertanyaan ini patut menjadi bahan renungan. Sebab, Allah SWT tidak sekadar menggambarkan orang yang memiliki ilmu tetapi mengabaikan pengamalannya, melainkan menggunakan ilustrasi seekor keledai yang membawa kitab-kitab di punggungnya. Perumpamaan tersebut menunjukkan adanya perbedaan mendasar antara sekadar memiliki atau menguasai pengetahuan dengan benar-benar memahami, mengambil manfaat, dan menjadikannya sebagai pedoman dalam kehidupan.
Syekh Muhammad ath-Thahir Ibnu Asyur dalam kitab At-Tahrir wa at-Tanwir turut menguraikan alasan di balik penggunaan perumpamaan tersebut. Menurut beliau, terdapat kesamaan keadaan antara orang-orang yang telah diberikan pengetahuan mengenai kitab suci, tetapi tidak melaksanakan kandungannya, dengan seekor keledai yang hanya bertugas membawa kitab tanpa mengetahui dan memahami isinya.
Berikut penjelasan Syekh Ibnu Asyur:
وَقَدْ ضَرَبَ اللَّهُ لِهَؤُلَاءِ مَثَلًا بِحَالِ حِمَارٍ يَحْمِلُ أَسْفَارًا لَا حَظَّ لَهُ مِنْهَا إِلَّا الْحَمْلُ دُونَ عِلْمٍ وَلَا فَهْمٍ
Artinya: “Allah telah memberikan perumpamaan bagi mereka melalui keadaan seekor keledai yang memikul kitab-kitab tebal. Keledai tersebut tidak mendapatkan bagian apa pun dari kitab-kitab itu selain sekadar membawanya, tanpa memiliki pengetahuan maupun pemahaman tentang isinya.” (At-Tahrir wa at-Tanwir, [Tunisia, Daru Tunisia: 1984 M], jilid XXVIII, hlm. 213).
Dari penjelasan tersebut dapat dipahami bahwa seekor keledai, meskipun memiliki kemampuan untuk mengangkut beban berat di punggungnya, tidak akan memahami nilai ataupun isi benda yang dibawanya. Ia tidak mengetahui apakah barang yang dipikulnya berupa jerami, makanan, atau kitab-kitab yang sarat dengan ilmu pengetahuan. Baginya, semua itu hanyalah beban yang harus diangkut, tanpa sedikit pun pemahaman terhadap kandungannya.
Begitu pula seseorang yang tekun mempelajari ilmu, tetapi tidak memiliki kemauan untuk mengamalkannya. Ia mungkin mampu menguasai berbagai teori, menghafal banyak dalil, bahkan menjelaskan persoalan agama dengan sangat baik. Namun, apabila semua pengetahuan tersebut tidak diwujudkan dalam perbuatan, ilmu yang dimilikinya tidak memberikan manfaat sebagaimana mestinya. Pada akhirnya, proses panjang dalam menuntut ilmu hanya berhenti pada penguasaan pengetahuan, tanpa menghasilkan perubahan nyata dalam perilaku dan akhlaknya.
Selanjutnya, muncul pertanyaan lain yang tidak kalah menarik: mengapa Allah SWT secara khusus menggunakan keledai sebagai objek perumpamaan, bukan hewan lainnya?
Imam Fakhruddin ar-Razi memberikan uraian mengenai persoalan ini dalam kitab tafsirnya, Mafatih al-Ghaib. Menurut beliau, pemilihan keledai memiliki tujuan tertentu, yaitu mempertegas gambaran mengenai kebodohan dan ketidakmampuan dalam memahami sesuatu.
Beliau menjelaskan:
مَا الْحِكْمَةُ فِي تَعْيِينِ الْحِمَارِ مِنْ بَيْنِ سَائِرِ الْحَيَوَانَاتِ؟ نَقُولُ: لِوُجُوهٍ وَمِنْهَا: أَنَّ هذا التمثل لِإِظْهَارِ الْجَهْلِ وَالْبَلَادَةِ، وَذَلِكَ فِي الْحِمَارِ أَظْهَرُ
Artinya: “Apa hikmah di balik pemilihan keledai di antara seluruh jenis hewan lainnya? Kami menjawab bahwa hal tersebut memiliki beberapa alasan. Salah satunya, perumpamaan ini dimaksudkan untuk memperlihatkan kebodohan dan kebebalan, sementara sifat tersebut tampak lebih jelas pada seekor keledai.” (Mafatih al-Ghaib, [Beirut, Daru Ihya’it Turats: 1420 H], jilid XXX, hlm. 540).
Penjelasan Imam ar-Razi tersebut menunjukkan bahwa penggunaan keledai dalam ayat ini bukanlah tanpa alasan. Keledai dipilih karena secara retoris dapat menggambarkan keadaan makhluk yang mampu membawa sesuatu, tetapi tidak memahami nilai maupun kandungan benda yang dibawanya. Gambaran ini memperkuat pesan tentang betapa tidak bermanfaatnya pengetahuan apabila tidak disertai pemahaman dan pengamalan.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa orang yang memiliki ilmu tetapi tidak mengamalkannya diibaratkan seperti keledai yang membawa kitab-kitab tebal karena keduanya sama-sama memikul sesuatu yang bernilai, tetapi tidak memperoleh manfaat dari apa yang dibawanya. Ilmu yang seharusnya menjadi petunjuk dan membawa perubahan justru hanya berhenti sebagai pengetahuan tanpa diwujudkan dalam tindakan.
Adapun alasan keledai dipilih sebagai objek perumpamaan adalah karena gambaran tersebut secara kuat merepresentasikan kebodohan dan ketidakmampuan memahami sesuatu. Pesan yang hendak ditegaskan ialah bahwa kemuliaan ilmu tidak terletak pada seberapa banyak pengetahuan yang berhasil dikumpulkan, melainkan juga pada sejauh mana ilmu tersebut dipahami, diamalkan, dan memberikan manfaat dalam kehidupan.
Oleh karena itu, jangan sampai kita menjadi orang yang sibuk mengumpulkan ilmu, tetapi lalai menjalankan apa yang telah diketahui. Sebab, ilmu bukan sekadar untuk memenuhi pikiran, melainkan untuk membimbing perilaku dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.






















![Ayat Perang dan Pesan Kemanusiaan: Membaca Q.S. Al-Baqarah [2]: 216 secara Kontekstual](https://kabarumat.co/wp-content/uploads/2026/09/084800000_1541665449-20181108-Perang-Dunia-I-1-70kb-280x210.jpg)







Kenali Kami Lebih Dekat
Assalamu Alaikum Akhi Ukhti!! Selamat datang di Kabar Umat
Kami hadir setiap saat untuk menyampaikan berita terpercaya serta wawasan keislaman, keindonesiaan dan kebudayaan hanya buat Akhi Ukhti. Bantu sukseskan Visi kami satukan umat kuatkan masyarakat dengan cara share konten kami kepada teman-teman terdekat Akhi Ukhti !