Kabarumat.co – Anak bukanlah peserta dalam sebuah perlombaan yang harus selalu unggul dari anak lainnya. Setiap anak terlahir dengan potensi, keistimewaan, dan tahapan perkembangan yang berbeda-beda. Oleh sebab itu, orang tua sebaiknya tidak menjadikan pencapaian anak lain sebagai tolok ukur untuk menilai keberhasilan anaknya sendiri.
Keluarga merupakan lingkungan pertama bagi anak untuk mengenal dan memahami dirinya. Melalui pola asuh orang tua, anak mulai belajar mengenai kasih sayang, penghargaan, serta bagaimana membangun rasa percaya diri. Bahkan, perkataan sederhana yang disampaikan orang tua dapat memengaruhi cara anak menilai dan memandang dirinya sendiri.
Namun, dalam praktiknya, masih banyak orang tua yang tanpa sadar membandingkan anaknya dengan orang lain. Ungkapan seperti, “Mengapa kamu tidak sepintar temanmu?” atau “Coba lihat anak tetangga, selalu mendapatkan juara kelas,” kerap dianggap sebagai bentuk dorongan agar anak lebih berprestasi. Padahal, bagi anak, perkataan tersebut justru dapat menimbulkan perasaan tidak dihargai dan seolah-olah dirinya tidak pernah cukup baik di mata orang tua.
Ditinjau dari perspektif psikologi perkembangan anak, perilaku membanding-bandingkan dapat berdampak negatif terhadap pembentukan harga diri dan kepercayaan diri anak. Anak mungkin mulai merasa bahwa dirinya tidak memiliki kelebihan atau harus selalu mencapai prestasi tertentu agar mendapatkan pengakuan dan kasih sayang. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini berpotensi membuat anak tumbuh menjadi pribadi yang minder, takut mengalami kegagalan, serta bergantung pada penilaian orang lain.
Hal ini sejalan dengan kajian Faradilla Kurnia Ersami dan Muhammad Aditya Wisnu Wardana dalam artikel berjudul Pengaruh Toxic Parenting bagi Kesehatan Mental Anak: Literature Review (2023, hlm. 330). Kajian tersebut menguraikan hubungan antara pola pengasuhan yang tidak sehat dan risiko munculnya permasalahan psikologis pada anak. Pengalaman pengasuhan yang negatif bahkan berpotensi memengaruhi kehidupan anak hingga dewasa, termasuk dalam membangun hubungan dengan keluarganya di kemudian hari. Meski begitu, dampak tersebut tidak selalu dialami oleh setiap anak karena turut dipengaruhi oleh pola pengasuhan, kondisi lingkungan, serta dukungan emosional yang diterimanya.
Lalu, bagaimana sebenarnya Islam memandang kebiasaan orang tua yang membandingkan anaknya dengan anak orang lain?
Islam mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki keistimewaan, rezeki, dan ketentuan hidup yang telah Allah tetapkan secara berbeda-beda. Prinsip ini penting untuk dipahami oleh orang tua dalam mendidik anak. Keunggulan yang dimiliki anak lain hendaknya tidak dijadikan alasan untuk mengecilkan kemampuan ataupun merendahkan anak sendiri. Sebaliknya, orang tua perlu belajar menerima dan menghargai keunikan serta potensi yang dimiliki setiap anak.
Hal ini sebagaimana dijelaskan Allah SWT dalam QS. An-Nisa’ ayat 32:
وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللّٰهُ بِهٖ بَعْضَكُمْ عَلٰى بَعْضٍ ۗ لِلرِّجَالِ نَصِيْبٌ مِّمَّا اكْتَسَبُوْا ۗ وَلِلنِّسَاۤءِ نَصِيْبٌ مِّمَّا اكْتَسَبْنَ ۗ وَسْـَٔلُوا اللّٰهَ مِنْ فَضْلِهٖ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمًا
Artinya: “Janganlah kamu berangan-angan (iri hati) terhadap apa yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. Bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
Ayat tersebut memberikan pelajaran bahwa setiap orang memiliki bagian dan kelebihan masing-masing yang patut disyukuri. Dalam konteks pengasuhan, orang tua hendaknya tidak terjebak dalam kebiasaan mengukur kemampuan anak berdasarkan pencapaian orang lain. Sebab, setiap anak memiliki kesempatan, potensi, dan proses perkembangan yang tidak selalu sama.
Sejalan dengan pesan tersebut, Imam Fakhruddin ar-Razi dalam kitab Mafatihul Ghaib menjelaskan bahwa ketika seseorang menyaksikan berbagai kelebihan yang dimiliki orang lain, sementara dirinya merasa tidak mempunyai kelebihan serupa, keadaan tersebut dapat menimbulkan rasa sakit dalam hati dan mengganggu pikirannya.
Beliau menjelaskan:
الْمَسْأَلَةُ الثَّالِثَةُ: أَنَّ الْإِنْسَانَ إِذَا شَاهَدَ أَنْوَاعَ الْفَضَائِلِ حَاصِلَةً لِإِنْسَانٍ، وَوَجَدَ نَفْسَهُ خَالِيًا عَنْ جُمْلَتِهَا أَوْ عَنْ أَكْثَرِهَا، فَحِينَئِذٍ يَتَأَلَّمُ قَلْبُهُ وَيَتَشَوَّشُ خَاطِرُهُ.
Artinya: “Masalah ketiga: Ketika seseorang melihat berbagai macam kelebihan dimiliki oleh orang lain, sedangkan dirinya merasa tidak memiliki seluruh kelebihan tersebut atau sebagian besarnya, hatinya dapat merasa sakit dan pikirannya menjadi terganggu.”
(Mafatihul Ghaib, Beirut, Daru Ihya’it Turats Arabi, 1420 H, jilid X, hlm. 65).
Penjelasan Imam ar-Razi tersebut dapat menjadi bahan renungan bagi orang tua. Kebiasaan membandingkan anak dengan orang lain berpotensi menghadirkan perasaan tidak nyaman, rendah diri, bahkan luka batin pada anak. Oleh karena itu, daripada sibuk menuntut anak agar memiliki kelebihan seperti orang lain, orang tua sebaiknya membantu anak mengenali, mengembangkan, dan mensyukuri potensi yang telah Allah anugerahkan kepadanya.
Penjelasan Imam Fakhruddin ar-Razi tersebut mengandung hikmah yang patut direnungkan. Terlalu sibuk memperhatikan keistimewaan orang lain terkadang membuat seseorang kurang menyadari dan menghargai nikmat yang telah dimilikinya. Hal serupa dapat terjadi dalam pola pengasuhan. Orang tua yang terlalu berfokus pada pencapaian anak lain bisa saja mengabaikan kelebihan, kemampuan, dan potensi yang sebenarnya dimiliki oleh anaknya sendiri.
Memang, QS. An-Nisa’ ayat 32 tidak secara langsung menjelaskan tentang larangan membanding-bandingkan anak. Akan tetapi, kandungan ayat tersebut dapat dijadikan pedoman bagi orang tua agar tidak terjebak dalam sikap iri terhadap kelebihan orang lain. Jangan sampai keistimewaan yang dimiliki anak lain justru membuat orang tua kurang bersyukur dan tidak mampu menghargai anugerah Allah yang ada dalam keluarganya.
Anak Harus Dibimbing, Bukan Dibandingkan dan Direndahkan
Mengasuh dan mendidik anak bukan berarti membiarkan mereka tumbuh tanpa arahan. Orang tua tetap memiliki tanggung jawab untuk memberikan nasihat, menetapkan aturan, serta mengarahkan anak agar terus memperbaiki diri. Namun, semua itu dapat dilakukan melalui pendekatan yang positif tanpa harus menjadikan anak lain sebagai bahan perbandingan.
Daripada melontarkan kalimat, “Mengapa kamu tidak sehebat temanmu?”, orang tua dapat menggantinya dengan pertanyaan yang lebih membangun, seperti, “Apa yang bisa kita usahakan agar kamu menjadi lebih baik?” Begitu pula, daripada hanya menuntut anak memperoleh prestasi tertinggi, orang tua sebaiknya turut menghargai proses, kerja keras, kejujuran, dan keberanian anak dalam mencoba sesuatu.
Penting bagi orang tua untuk menyadari bahwa setiap anak mempunyai kemampuan dan keunggulan yang beragam. Sebagian anak mungkin memiliki kecerdasan akademis yang menonjol, sementara yang lain lebih berbakat dalam bidang seni, olahraga, kemampuan bersosialisasi, ataupun kepedulian terhadap lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, tugas orang tua bukanlah membentuk semua anak agar memiliki kemampuan yang seragam, melainkan mengenali keunikan masing-masing dan mendukung mereka untuk mengembangkan potensinya.
Jangan sampai keinginan untuk memotivasi anak justru berubah menjadi tindakan yang membuatnya merasa tidak memiliki kelebihan. Anak memang membutuhkan bimbingan dan arahan, tetapi mereka juga berhak mendapatkan kesempatan untuk berkembang sesuai kemampuan dan tahap pertumbuhannya tanpa terus dibayangi pencapaian orang lain.
Pada dasarnya, anak tidak membutuhkan orang tua yang senantiasa membandingkan dirinya dengan orang lain. Mereka lebih membutuhkan sosok orang tua yang mampu memahami potensinya, menerima kekurangannya, serta memberikan dukungan selama proses tumbuh kembangnya.
Sebab, keberhasilan orang tua dalam mendidik anak tidak semestinya hanya diukur dari seberapa tinggi prestasi anak dibandingkan teman-teman seusianya. Lebih dari itu, keberhasilan pengasuhan tercermin dari bagaimana anak tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, memiliki akhlak mulia, serta mampu menghormati dan menghargai dirinya sendiri maupun orang lain.
Maka, hargailah setiap kelebihan yang dimiliki anak dan tuntunlah mereka dalam memperbaiki kekurangannya. Jangan pernah menjadikan pencapaian anak orang lain sebagai tolok ukur untuk menentukan nilai diri anak sendiri.
Wallahu a‘lam bish-shawab.




























Kenali Kami Lebih Dekat
Assalamu Alaikum Akhi Ukhti!! Selamat datang di Kabar Umat
Kami hadir setiap saat untuk menyampaikan berita terpercaya serta wawasan keislaman, keindonesiaan dan kebudayaan hanya buat Akhi Ukhti. Bantu sukseskan Visi kami satukan umat kuatkan masyarakat dengan cara share konten kami kepada teman-teman terdekat Akhi Ukhti !