Pulau Qeshm Jadi Target! Amerika Serikat Luncurkan Serangan Terbatas ke Iran

Pulau Qeshm Jadi Target! Amerika Serikat Luncurkan Serangan Terbatas ke Iran
Pulau Qeshm Jadi Target! Amerika Serikat Luncurkan Serangan Terbatas ke Iran

Kabarumat.co- Amerika Serikat (AS) dilaporkan melancarkan operasi militer dengan menyasar Pulau Qeshm, Iran, pada Senin (2/11/2026) waktu setempat. Mengutip laporan Al Jazeera, sejumlah ledakan terdengar di wilayah Pulau Qeshm dan Bandar Lengeh. Rentetan ledakan tersebut terjadi pada Senin malam. Sejumlah saksi mata mengaku melihat dua pesawat melintas di atas pulau yang berada di lepas pantai selatan Iran, tidak jauh dari kawasan strategis Selat Hormuz.

Kantor Berita Iran, IRNA, melaporkan bahwa Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) berhasil mengamankan drone pengintai sekaligus umpan milik Amerika Serikat (AS) dalam kondisi utuh. Drone keempat tersebut ditangkap di wilayah barat Selat Hormuz setelah pasukan IRGC berhasil mengambil alih sistem navigasi dan kendalinya.

Pihak Angkatan Laut IRGC menyebut drone tersebut menjalankan misi untuk memetakan serta mengidentifikasi sistem pertahanan udara Iran di sepanjang pesisir Teluk Persia dan kawasan Pulau Qeshm.

Di sisi lain, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa rakyat Iran tidak akan tunduk terhadap tekanan, ancaman, maupun aksi militer yang dilakukan Amerika Serikat.

“Kami tetap berada dalam tingkat kesiagaan pertahanan tertinggi, baik di lapangan maupun dalam aspek militer. Jika Washington kembali melakukan kesalahan strategis, mereka harus menyadari bahwa kali ini akan menghadapi medan pertempuran baru dan semakin kesulitan menemukan jalan keluar dibandingkan situasi yang mereka hadapi sekarang,” kata Ghalibaf, sebagaimana dikutip dari IRNA.

Lebih lanjut, Ghalibaf menilai bahwa sikap perlawanan rakyat Iran menjadi salah satu akar utama permusuhan Amerika Serikat terhadap negaranya.

Wall Street Journal melaporkan, dengan mengutip sejumlah pejabat Amerika Serikat (AS), bahwa serangan militer terhadap Iran tersebut diklaim sebagai tindakan defensif. Operasi itu disebut menjadi bagian dari serangkaian aksi militer terbatas yang dilakukan Washington secara tertutup selama beberapa pekan terakhir.

Menurut keterangan para pejabat AS, operasi tersebut bertujuan untuk mencegah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran melakukan gangguan terhadap aktivitas pelayaran komersial di Selat Hormuz.

Mereka juga mengungkapkan bahwa insiden bermula ketika IRGC diduga meluncurkan rudal darat-ke-udara ke arah jet tempur AS. Tindakan tersebut kemudian dibalas oleh militer Washington dengan dalih mempertahankan diri.

Serangan ini terjadi di tengah upaya Presiden AS Donald Trump yang terus menyampaikan optimisme mengenai kemungkinan tercapainya kesepakatan diplomatik dengan Teheran.

“Kita belum berperang selama berbulan-bulan,” ujar Trump kepada awak media, sebagaimana dikutip dari Wall Street Journal, Selasa (3/11/2026).

Operasi militer tersebut berlangsung tidak lama setelah Presiden Donald Trump menyampaikan pernyataan yang meredam kekhawatiran mengenai potensi pecahnya perang terbuka dengan Iran, terutama menjelang pelaksanaan Pemilu Sela (Midterm Election) pada Selasa (3/11/2026).

Informasi mengenai serangan itu pun segera memengaruhi pasar keuangan global. Harga minyak mentah dunia kembali mengalami kenaikan seiring meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi terganggunya pasokan minyak global, khususnya yang melewati jalur pelayaran strategis Selat Hormuz.