Kabarumat.co – Hingga saat ini, belum terlihat indikasi bahwa perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran akan segera berakhir. Situasi tersebut bukan berarti tidak ada pihak yang menghendaki berakhirnya konflik, melainkan karena jalannya perang semakin sulit dikendalikan dan tidak lagi berjalan sesuai dengan rencana semula.
Jika mencermati pernyataan sejumlah elite dari kedua belah pihak, AS dan Iran pada dasarnya sama-sama menginginkan agar perang segera dihentikan. Pihak yang dinilai berkepentingan untuk mempertahankan keberlanjutan perang justru adalah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu beserta para menterinya yang berasal dari kelompok garis keras. Presiden AS Donald Trump, misalnya, berulang kali menyampaikan bahwa perang akan segera berakhir. Sejak awal konflik, Trump bahkan memperkirakan perang hanya akan berlangsung sekitar empat hingga lima minggu.
Sementara itu, Iran sejak awal tidak menghendaki terjadinya peperangan. Sejumlah elite Iran menyebut konflik tersebut sebagai al-harbu al-mafrudh, yakni perang yang dipaksakan dan tidak memberikan pilihan lain bagi pihak yang menghadapinya. Pada dasarnya, Iran, sebagaimana negara-negara lain, tentu lebih memilih hidup dalam keadaan damai daripada terlibat dalam peperangan.
Situasi Israel, khususnya di bawah kepemimpinan Netanyahu, memiliki karakteristik yang berbeda. Netanyahu dipandang sebagai tokoh yang menginisiasi perang tersebut dan memiliki kepentingan politik untuk melanjutkannya. Dalam kerangka kepentingan itu, perang dianggap perlu diteruskan hingga Iran mengalami kehancuran besar dan tidak lagi memiliki persenjataan yang dipandang mengancam keamanan Israel.
Dari sudut pandang tersebut, perang yang telah berlangsung selama 234 hari ini dinilai belum membuahkan hasil yang diharapkan. Faktanya, Iran masih terus meluncurkan rudal ke sejumlah negara Arab yang menjadi lokasi pangkalan militer AS, terutama di kawasan Teluk. Di sisi lain, Israel dijadwalkan menggelar pemilu pada akhir bulan ini. Berbagai dinamika militer dan kepentingan politik tersebut menjadi faktor yang mendorong Netanyahu untuk mempertahankan kelanjutan perang.
Perang yang Semakin Sulit Dikendalikan
Pada mulanya, perang ini diperkirakan berlangsung singkat, yakni tidak lebih dari lima hingga enam minggu, sebagaimana berulang kali disampaikan Presiden AS Donald Trump. Perkiraan tersebut kemungkinan didasarkan pada anggapan bahwa Iran berada dalam kondisi yang relatif lemah, sehingga AS dan Israel dapat melancarkan serangan cepat dan masif untuk melumpuhkan kekuatan Iran, baik dari sisi ekonomi maupun militer.
Dari aspek ekonomi, Iran menghadapi berbagai kesulitan yang berdampak pada kehidupan masyarakatnya. Situasi tersebut mencapai puncaknya dengan munculnya demonstrasi besar-besaran pada akhir 2025. Sementara itu, dari sisi militer, AS dan Israel sebelumnya telah menyerang fasilitas nuklir Iran, sebuah program strategis yang kerap dibanggakan Trump sebagai salah satu sasaran utama kebijakan militernya. Berbekal kondisi tersebut, AS dan Israel kemudian memilih melancarkan serangan langsung terhadap Iran pada 28 Februari. Serangan itu dilaporkan menewaskan sejumlah tokoh penting Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatullah Ali Khamenei.
Namun, pada titik inilah kekeliruan perhitungan AS dan Israel mulai terlihat. Serangan besar-besaran tersebut ternyata tidak membuat Iran runtuh sebagaimana yang mungkin diperkirakan sebelumnya. Bahkan, meskipun Ali Khamenei dan sejumlah elite penting Iran gugur pada awal perang, negara itu tetap mampu bertahan dan menyusun perlawanan. Iran justru menunjukkan kemampuan untuk bangkit, melancarkan serangan balasan, dan dalam perkembangan selanjutnya bahkan mampu memengaruhi arah serta dinamika konflik yang dihadapi AS.
Salah satu faktor penting di balik kebangkitan Iran pascaserangan 28 Februari adalah terpilihnya Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran, menggantikan ayahnya, Ayatullah Ali Khamenei. Keputusan tersebut diumumkan pada 8 Maret, sekitar 231 jam setelah serangan pertama dilancarkan pada pagi hari tanggal 28 Februari waktu Indonesia bagian barat (WIB). Penulis menyebut momentum ini sebagai “faktor 231”.
Sejak munculnya faktor 231, dinamika perang AS-Israel versus Iran mulai bergerak ke arah yang lebih berimbang. Jika dianalogikan dengan pertandingan sepak bola, Iran menghadapi gempuran AS dan Israel melalui kombinasi tiga pola serangan. Pertama, serangan rudal secara langsung ke wilayah Israel. Kedua, serangan yang diibaratkan sebagai “bola lambung” ke negara-negara Arab di kawasan Teluk. Ketiga, strategi melalui Selat Hormuz yang juga dianalogikan sebagai “bola lambung”.
Istilah “bola lambung” digunakan karena dua strategi terakhir tidak secara langsung menyasar AS, meskipun dampaknya dapat menjalar hingga ke kepentingan negara tersebut. Bahkan, strategi menyerang negara-negara Teluk dan mengganggu jalur pelayaran di Selat Hormuz juga berpotensi merugikan Iran sendiri. Akan tetapi, dalam perspektif jangka panjang, kedua langkah tersebut dinilai memberikan keuntungan strategis bagi Iran karena mampu memperluas dampak perang melampaui medan pertempuran langsung.
Pola inilah yang terus mewarnai perkembangan konflik hingga saat ini. Iran berupaya mempertahankan pengaruhnya atas Selat Hormuz sekaligus melancarkan serangan ke negara-negara Arab di kawasan Teluk sebagai balasan atas serangan AS. Konsekuensi dari strategi tersebut tidak hanya dirasakan oleh negara-negara di kawasan Timur Tengah, tetapi juga merambat ke masyarakat AS dan penduduk berbagai negara di dunia. Dengan demikian, perang yang semula diperkirakan berlangsung singkat justru berkembang menjadi konflik yang semakin kompleks, sulit dikendalikan, dan membawa dampak luas terhadap stabilitas regional maupun global.
Dalam pandangan penulis, dua strategi serangan yang dianalogikan sebagai “bola lambung” tersebut justru berpotensi menimbulkan dampak kontraproduktif bagi Iran. Serangan terhadap negara-negara Arab, misalnya, dapat merusak peluang Iran untuk memperoleh keuntungan strategis setelah berhasil menunjukkan kapasitasnya sebagai kekuatan yang mampu mengimbangi Israel, bahkan dalam batas tertentu menantang dominasi AS. Citra sebagai kekuatan penyeimbang inilah yang sebelumnya memberikan Iran ruang untuk mendapatkan simpati dan dukungan dari masyarakat Timur Tengah.
Situasi tersebut terlihat jelas dalam perang Israel-Iran pada 2025. Ketika itu, Iran memusatkan serangannya secara langsung ke Israel tanpa menjadikan negara-negara Arab sebagai sasaran. Sikap tersebut membuat Iran dipandang oleh sebagian masyarakat Timur Tengah sebagai simbol perlawanan terhadap Israel, yang selama ini dianggap bertindak sewenang-wenang. Banyak kalangan menantikan kehadiran kekuatan regional yang mampu mengimbangi dominasi Israel.
Namun, keadaan saat ini menunjukkan dinamika yang berbeda. Ketika Iran turut menyerang negara-negara Arab, khususnya di kawasan Teluk, dukungan yang sebelumnya berpotensi diperolehnya justru terancam melemah. Negara-negara Arab kembali memandang Iran sebagai ancaman, meskipun permusuhan di antara mereka tidak selalu dinyatakan secara terbuka.
Konflik Arab Saudi dan Houthi
Dalam konteks ini, konflik antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman dapat dipahami sebagai salah satu bentuk konfrontasi tidak langsung antara Arab Saudi dan Iran. Meskipun kedua negara telah melakukan rekonsiliasi pada 2022 dan tidak secara terbuka kembali menyatakan permusuhan, sejarah krisis di kawasan Teluk menunjukkan bahwa hubungan keduanya masih menjadi salah satu faktor penting dalam dinamika keamanan regional.
Krisis diplomatik antara Arab Saudi dan sejumlah negara Arab Teluk dengan Qatar pada 2017 dapat dijadikan contoh bagaimana persaingan kepentingan di kawasan ini berkembang menjadi konflik yang kompleks. Dalam situasi tertentu, pertentangan antara Arab Saudi dan Houthi juga tidak dapat dilepaskan dari rivalitas yang lebih luas antara Riyadh dan Teheran, meskipun persaingan tersebut bukan satu-satunya penyebab konflik.
Ketegangan semakin meningkat setelah pesawat yang membawa pelayat Houthi dari pemakaman Ayatullah Khamenei diserang oleh pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi pada 13 Juli. Peristiwa tersebut kemudian diikuti oleh serangan langsung Houthi terhadap Arab Saudi. Bahkan, Houthi secara khusus menempatkan Arab Saudi sebagai pihak yang menjadi sasaran permusuhan dan melarangnya melintasi Selat Bab el-Mandeb.
Perkembangan ini memberikan alasan tambahan bagi Arab Saudi untuk melanjutkan operasi militernya terhadap Houthi demi menuntaskan konflik yang selama ini belum terselesaikan. Selain pertimbangan keamanan, kepentingan ekonomi juga menjadi faktor penting. Krisis di Timur Tengah, terutama gangguan terhadap jalur pelayaran di Selat Hormuz, telah menimbulkan tekanan ekonomi bagi Arab Saudi dan negara-negara lainnya.
Kepentingan untuk mengamankan Selat Bab el-Mandeb pun tidak hanya dimiliki Arab Saudi. Sejumlah negara lain juga berkepentingan memastikan jalur pelayaran strategis tersebut tidak berada di bawah kendali Houthi ataupun menjadi instrumen tekanan Iran. Oleh karena itu, terdapat kemungkinan konflik Arab Saudi-Houthi semakin meluas dan melibatkan lebih banyak aktor, baik secara terbuka maupun melalui dukungan tidak langsung.
Persoalannya, perang antara Arab Saudi dan Houthi tidak dapat dipisahkan sepenuhnya dari konflik AS-Israel melawan Iran, setidaknya jika dilihat dari momentum dan keterkaitan kepentingan di antara para pihak. Ketika pertempuran Arab Saudi dan Houthi semakin intensif, konflik tersebut berpotensi berkembang menjadi pertikaian antarkekuatan di kawasan yang sebelumnya tidak seluruhnya terlibat secara langsung dalam perang utama.
Situasi ini semakin penting diperhatikan karena, berdasarkan catatan penulis, belakangan tidak terdapat lagi serangan langsung ke Israel yang dilakukan Iran maupun Houthi. Serangan langsung Iran ke Israel yang dicatat penulis terakhir terjadi pada 8 Juni. Apabila perkembangan tersebut dikaitkan dengan meningkatnya konflik antara Arab Saudi dan Houthi, terlihat adanya pergeseran pola peperangan: konflik yang semula berpusat pada serangan AS-Israel terhadap Iran perlahan berpotensi berubah menjadi pertarungan antarpihak di kawasan Timur Tengah sendiri.
Risiko yang muncul bukan hanya meluasnya medan pertempuran, tetapi juga menguatnya dimensi sektarian yang menghubungkan konflik geopolitik dengan perbedaan keyakinan dan aliran keagamaan, terutama antara Sunni dan Syiah. Apabila kedua dimensi ini semakin bertautan, konflik berpotensi berlangsung lebih lama dan melibatkan sentimen masyarakat yang lebih luas.
Fatwa Mufti Arab Saudi, Syekh Saleh Fauzan, pada 24 September mengenai perang melawan Houthi memperlihatkan bagaimana persoalan politik, keamanan, ekonomi, dan keagamaan dapat saling berkaitan. Dalam fatwa tersebut, Houthi disebut sebagai kelompok sesat dan golongan yang menyimpang (al-firqah ad-dhallah wa al-jama’ah al-munharifah). Mereka juga dituduh mengafirkan para sahabat Nabi Muhammad SAW, sebagaimana diberitakan Al Jazeera pada 25 September. Pernyataan semacam ini menunjukkan bahwa konflik tidak hanya berlangsung dalam ranah militer dan perebutan kepentingan strategis, tetapi juga menyentuh persoalan legitimasi keagamaan.
Kemungkinan Akhir Perang
Menurut penulis, terdapat dua kemungkinan utama mengenai bagaimana perang AS-Israel melawan Iran akan berakhir.
Pertama, melalui solusi yang ideal dan komprehensif. Pendekatan ini sejalan dengan gagasan yang selama ini disampaikan Iran, yakni menyelesaikan berbagai medan konflik secara bersamaan, meliputi Iran, Lebanon, Yaman, dan Gaza. Dengan pendekatan tersebut, penghentian perang tidak hanya difokuskan pada satu wilayah, tetapi diarahkan pada penyelesaian persoalan yang saling berkaitan di berbagai front pertempuran.
Secara konseptual, pendekatan ini menawarkan jalan keluar yang lebih menyeluruh karena berupaya menangani akar konflik, bukan sekadar menghentikan pertempuran di satu lokasi. Namun, penerapannya menghadapi tantangan yang sangat besar, terutama karena berhadapan dengan kepentingan strategis Israel untuk mempertahankan keunggulan militernya di Timur Tengah.
Dalam perspektif ini, Israel dipandang tidak menghendaki munculnya kekuatan lain yang berpotensi menandingi superioritas persenjataannya, baik kelompok nonnegara seperti Hamas, Hizbullah, dan Houthi maupun negara seperti Iran. Bahkan, menurut analisis penulis, keberatan Israel terhadap kemungkinan negara-negara lain memperoleh persenjataan canggih menunjukkan bahwa persoalan tersebut tidak terbatas pada negara yang secara terbuka dianggap sebagai musuh.
Sikap Israel terhadap rencana AS menjual jet tempur siluman F-35 kepada Turki dan Arab Saudi menjadi salah satu contoh yang dapat digunakan untuk menggambarkan persoalan tersebut. Dengan demikian, upaya mencapai perdamaian yang menyeluruh tidak cukup hanya mengandalkan penghentian serangan, tetapi juga perlu mempertimbangkan persoalan keseimbangan kekuatan, jaminan keamanan, dan kepentingan strategis seluruh pihak yang terlibat.
Kedua, melalui solusi yang tidak ideal. Dalam skenario ini, situasi Timur Tengah dibiarkan berada dalam kondisi menggantung, yakni tidak sepenuhnya damai, tetapi juga tidak berada dalam perang terbuka secara terus-menerus. Keadaan semacam ini dikenal dengan istilah la salam wa la harb, yang berarti tidak ada perdamaian, tetapi juga tidak ada perang dalam pengertian sepenuhnya.
Bagi AS dan Israel, situasi tersebut mungkin menjadi beban tersendiri, terutama ketika keduanya menghadapi momentum pemilu. Namun, dalam perspektif jangka panjang, kondisi tanpa perang maupun perdamaian yang sesungguhnya justru berpotensi memberikan keuntungan strategis bagi kedua negara. Iran dapat terus berada di bawah tekanan, terutama dalam bidang ekonomi, sehingga ruang geraknya semakin terbatas. Terlebih lagi, keterlibatan Arab Saudi dalam konflik melawan Houthi dan, dalam konteks tertentu, persaingannya dengan Iran dapat mendukung kepentingan strategis AS dan Israel di kawasan.
Persoalan mendasarnya adalah apakah Iran akan membiarkan AS dan Israel menjalankan seluruh strategi mereka tanpa memberikan perlawanan berarti. Jawabannya tentu tidak. Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, perang ini masih berlangsung karena AS dan Israel tidak sepenuhnya mampu merealisasikan seluruh taktik dan tujuan awal mereka. Dengan kata lain, dalam pandangan penulis, Iran sejauh ini memiliki kemampuan yang cukup besar untuk memengaruhi arah dan tempo peperangan, bahkan ketika harus menghadapi serangan yang jauh lebih kuat pada fase awal konflik.
Seandainya AS dan Israel sepenuhnya mampu menentukan jalannya perang sesuai dengan rencana semula, konflik ini mungkin telah berakhir dalam waktu singkat, sekitar empat hingga lima minggu, sebagaimana pernah diperkirakan Donald Trump pada awal perang. Akan tetapi, kenyataan bahwa konflik terus berlanjut menunjukkan adanya kesenjangan antara target awal dan perkembangan yang terjadi di medan pertempuran.
Dari perspektif kepentingan Iran, momentum pemilu di AS dan Israel dapat dipandang sebagai peluang strategis untuk mendorong tercapainya hasil yang menguntungkan bagi Teheran. Terlebih lagi, Iran dinilai telah berhasil menciptakan sejumlah “gol penyeimbang” setelah mengalami banyak kerugian pada fase awal perang. Karena itu, pemilu di kedua negara tersebut dapat diibaratkan sebagai batas akhir waktu normal yang perlu diperhitungkan Iran untuk memperkuat posisinya dan memperjuangkan kepentingannya.
Memasuki periode setelah pemilu, Iran berpotensi menghadapi situasi yang lebih tidak menentu. Melanjutkan perang ke dalam “babak perpanjangan waktu” tentu mengandung risiko, sebab tidak ada jaminan bahwa Iran masih memiliki kapasitas untuk mengubah keadaan yang tampaknya sulit menjadi peluang kemenangan. Dalam pertandingan sepak bola, situasi ini menyerupai momen ketika sebuah tim harus mencetak gol pada detik-detik terakhir untuk membalikkan keadaan, sebagaimana kerap terjadi dalam pertandingan dramatis.
Analogi tersebut dapat dikaitkan dengan perjuangan Timnas Indonesia melawan Timnas Bangladesh, ketika perubahan keadaan pada menit-menit akhir menjadi gambaran pentingnya memanfaatkan kesempatan yang tersisa. Demikian pula, kemampuan penjaga gawang Emil Audero dalam menepis tendangan lawan pada adu penalti final FIFA ASEAN Cup 2026 dapat menggambarkan pentingnya mempertahankan keunggulan hingga pertandingan benar-benar berakhir.
Dengan demikian, bagi Iran, persoalannya bukan sekadar bertahan menghadapi serangan AS dan Israel, melainkan juga menentukan kapan momentum yang tersedia harus dimanfaatkan untuk mencapai hasil strategis. Semakin lama perang berlangsung, semakin besar pula ketidakpastian yang harus dihadapi. Oleh sebab itu, periode menjelang pemilu AS dan Israel dapat menjadi fase krusial bagi Iran untuk memperkuat posisi tawarnya, sebelum memasuki tahap konflik berikutnya yang berpotensi membawa risiko lebih besar.




























Kenali Kami Lebih Dekat
Assalamu Alaikum Akhi Ukhti!! Selamat datang di Kabar Umat
Kami hadir setiap saat untuk menyampaikan berita terpercaya serta wawasan keislaman, keindonesiaan dan kebudayaan hanya buat Akhi Ukhti. Bantu sukseskan Visi kami satukan umat kuatkan masyarakat dengan cara share konten kami kepada teman-teman terdekat Akhi Ukhti !