kabarumat.co – Bagi para Gooners—julukan akrab bagi pendukung Arsenal—Rabu dini hari, 20 Mei 2026 WIB, mungkin terasa layaknya hari raya yang datang lebih cepat. Penantian panjang selama 22 tahun akhirnya berakhir. Setelah melewati musim-musim penuh dahaga gelar, Arsenal sukses kembali merebut trofi Premier League dan membawanya pulang ke London Utara.
Kepastian juara itu hadir bukan lewat pertandingan Arsenal sendiri, melainkan dari hasil laga di kandang Bournemouth. Manchester City, pesaing terdekat yang selama ini tampil nyaris tanpa cela, hanya mampu bermain imbang 1-1. Gol El Junior Kroupi pada menit ke-42 sempat mengejutkan publik Etihad, sebelum Erling Haaland menyamakan skor di akhir pertandingan. Namun tambahan satu angka tak cukup untuk menjaga asa City. Arsenal pun resmi memastikan gelar liga pertamanya sejak musim legendaris 2003/2004, era The Invincibles.
Dua dekade lebih tanpa trofi liga jelas bukan rentang waktu yang singkat. Ada kekecewaan yang terus berulang, ejekan sebagai “tim nyaris juara”, hingga loyalitas suporter yang berkali-kali diuji. Pada titik inilah sepak bola melampaui sekadar permainan sebelas lawan sebelas. Ia menjadi ruang pembelajaran tentang salah satu kebajikan manusia yang paling mendalam: kesabaran.
Sabar sebagai Keteguhan Jiwa
Dalam karya monumentalnya, Ihya’ Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menjelaskan sabar bukan sekadar pasrah menahan derita. Menurut Hujjatul Islam itu, sabar adalah kekuatan jiwa dalam mengendalikan hawa nafsu dan tetap teguh pada nilai-nilai spiritual.
Al-Ghazali juga menerangkan bahwa bentuk sabar memiliki nama yang berbeda sesuai konteksnya. Menahan syahwat disebut ‘iffah (menjaga kehormatan). Keteguhan di medan perang disebut syaja’ah (keberanian). Sedangkan kemampuan meredam amarah dinamakan hilm—sikap santun dan bijaksana.
Jika ditarik ke dunia sepak bola, kesetiaan para fans Arsenal selama puluhan tahun dapat dibaca sebagai bentuk tsabat—keteguhan hati. Mereka bertahan melewati masa-masa sulit, pergantian pelatih, kegagalan demi kegagalan, hingga olok-olok dari rival. Namun mereka tetap hadir di stadion, tetap rela begadang di depan layar kaca, dan tetap menolak berpaling kepada klub-klub yang lebih sering mengangkat trofi.
Menariknya, Al-Ghazali tidak memandang penderitaan sebagai sesuatu yang romantis untuk dicari-cari. Ia mengutip sebuah riwayat ketika Sayyidina Ali bin Abi Thalib berdoa meminta kesabaran, lalu Rasulullah SAW menegurnya:
“Apakah engkau meminta bala kepada Allah? Mintalah afiat kepada-Nya.” (HR At-Tirmidzi)
Dari riwayat itu, Al-Ghazali menegaskan bahwa bersyukur atas nikmat jauh lebih utama dibanding sekadar bersabar atas ujian. Sebab manusia sejatinya diarahkan untuk meraih kebaikan dan kebahagiaan, bukan sengaja mengejar penderitaan. Maka ketika Arsenal akhirnya kembali menjadi juara, tantangan spiritual berikutnya justru dimulai: bagaimana mengekspresikan rasa syukur dengan benar.
Alegori Kuda Raja dan Hakikat Syukur
Untuk menjelaskan tingkatan syukur, Imam Al-Ghazali membuat ilustrasi tentang seseorang yang menerima hadiah seekor kuda dari seorang raja.
Tipe pertama adalah mereka yang bahagia hanya karena memperoleh kudanya. Yang mereka lihat semata nilai dan manfaat si kuda: kendaraan mewah, simbol prestise, atau alat transportasi. Kebahagiaan mereka tidak berbeda meskipun kuda itu ditemukan begitu saja di tengah padang pasir. Dalam pandangan Al-Ghazali, kelompok ini belum memahami hakikat syukur karena hanya terpukau pada nikmat, bukan kepada Sang Pemberi Nikmat.
Tipe kedua adalah mereka yang bergembira karena hadiah itu berasal dari sang Raja. Mereka merasa dihormati dan diperhatikan. Kebahagiaan mereka lahir dari relasi dengan pemberi hadiah, bukan semata dari bendanya. Menurut Al-Ghazali, inilah bentuk awal syukur yang dimiliki orang-orang saleh—beribadah sambil berharap pahala dan takut akan hukuman.
Adapun tipe ketiga merupakan tingkatan tertinggi. Mereka memahami bahwa kuda itu hanyalah sarana agar dirinya dapat semakin dekat dan mengabdi kepada sang Raja. Fokus utamanya bukan pada hadiah, jabatan, atau kemewahan, melainkan pada kedekatan dengan Raja itu sendiri. Bahkan jika harus memilih antara kedudukan tinggi yang jauh dari raja atau posisi rendah tetapi selalu dekat dengannya, ia akan memilih yang kedua.
Bagi golongan ini, dunia hanyalah ladang tempat menanam amal sebelum panen di akhirat. Mereka justru khawatir apabila limpahan nikmat membuat hati lalai dari Allah SWT.
Di penghujung pembahasannya, Al-Ghazali mengutip ungkapan sufistik terkenal dari Imam As-Syibli:
الشُّكْرُ رُؤْيَةُ الْمُنْعِمِ لَا رُؤْيَةُ النِّعْمَةِ
“Syukur adalah memandang Sang Pemberi Nikmat, bukan sekadar nikmat itu sendiri.”
Secara psikologis, orang yang mampu mencapai tingkat syukur semacam ini biasanya tidak mudah terikat pada materi. Mereka tidak menjadikan harta atau pencapaian duniawi sebagai ukuran utama kebahagiaan. Karena itu, hidup terasa lebih ringan dan hati lebih mudah merasa cukup.
Kemenangan Arsenal musim 2025/2026 tentu pantas dirayakan setelah penantian panjang yang melelahkan. Namun euforia itu semestinya juga menjadi momentum untuk bertumbuh secara spiritual. Jangan sampai kita hanya terpaku pada trofi dan lupa pada makna kehidupan yang lebih luas.
Semoga kebahagiaan ini menjadi jalan untuk semakin mengingat Allah SWT, sekaligus menyadari bahwa ujung dari kesabaran yang indah adalah kemampuan untuk bersyukur dengan tulus. Semoga kita semua termasuk golongan hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur.
Kenali Kami Lebih Dekat
Assalamu Alaikum Akhi Ukhti!! Selamat datang di Kabar Umat
Kami hadir setiap saat untuk menyampaikan berita terpercaya serta wawasan keislaman, keindonesiaan dan kebudayaan hanya buat Akhi Ukhti. Bantu sukseskan Visi kami satukan umat kuatkan masyarakat dengan cara share konten kami kepada teman-teman terdekat Akhi Ukhti !