kabarumat.co – Sejarah perempuan di Makkah dan Madinah kerap disampaikan melalui perspektif maskulin, di mana laki-laki ditempatkan sebagai pusat narasi dalam ranah sosial dan keagamaan. Dalam tatanan sosial Arab pra-Islam, perempuan ditempatkan pada posisi subordinat, dengan peran yang dibatasi dan seringkali menjadi sasaran stigma. Anggapan bahwa perempuan tidak pantas hadir di ruang publik, seharusnya hanya berada di ranah domestik, atau bahkan dipandang sebagai sumber kesialan, mencerminkan dominasi budaya patriarki yang kuat.
Pandangan ini tertanam dalam struktur sosial masyarakat saat itu. Pembatasan terhadap perempuan tidak sekadar isu moral atau etika individu, melainkan bagian dari sistem sosial yang secara formal maupun kultural melegitimasi ketimpangan gender.
Tubuh, kebebasan bergerak, dan suara perempuan dikontrol dengan dalih menjaga kehormatan, tradisi, dan stabilitas kabilah. Dalam kerangka ini, perempuan kerap kehilangan kesempatan untuk menentukan arah hidupnya sendiri. Praktik ekstrem, seperti penguburan bayi perempuan hidup-hidup, menunjukkan secara nyata bagaimana nilai-nilai patriarki dijalankan dengan kekerasan. Sejak lahir, eksistensi perempuan dapat dihapus demi melindungi kehormatan atau kepentingan keluarga.
Dengan demikian, perempuan tidak hanya mengalami marjinalisasi, tetapi juga dianggap sebagai simbol beban sosial dan sumber aib. Fenomena ini tidak terbatas pada Jazirah Arab saja, melainkan juga terjadi di berbagai peradaban besar di dunia. Muhammad Al-Ghazali menjelaskan bahwa masa kejahiliahan sebelum diutusnya Nabi Muhammad SAW membebani hampir seluruh bangsa, termasuk masyarakat Arab, Romawi, Cina, Yunani, Hindia, Persia, dan lainnya.
Mubarakfuri menegaskan bahwa kehidupan sosial pada masa pra-Islam dipenuhi dengan berbagai penyimpangan moral. Hubungan bebas tanpa ikatan resmi, konsumsi minuman keras, dan pemborosan harta merupakan fenomena yang lazim. Selain itu, penindasan terhadap kelompok yang lebih lemah, khususnya perempuan, sering terjadi.
Namun, menurut Muhammad Al-Ghazali, perempuan Arab pra-Islam tidak selalu berada dalam kondisi yang lebih buruk dibandingkan perempuan di Yunani atau Romawi, karena peradaban-peradaban besar tersebut juga tidak selalu lebih maju dalam menghargai perempuan. Pandangan ini menunjukkan bahwa ketidakadilan terhadap perempuan merupakan fenomena yang meluas dalam sejarah masyarakat kuno. Praktik merendahkan perempuan juga ditemui dalam berbagai peradaban besar, termasuk Arab, Yunani, dan Romawi.
Dalam masyarakat jahiliyah, perempuan seringkali dipandang lebih rendah dan rentan. Bayi perempuan kadang dibunuh karena dianggap membawa kelemahan atau potensi kemiskinan bagi keluarga. Hak-hak perempuan hampir tidak dihormati; mereka sering menjadi objek, diperdagangkan, dan tidak memiliki kontrol atas harta atau tubuh mereka sendiri. Poligami tanpa batas yang diperbolehkan bagi laki-laki semakin memperkuat posisi subordinat perempuan dalam struktur sosial.
Kondisi ini kemudian dikoreksi melalui ajaran Islam. QS. An-Nisa’ ayat 19 menegaskan larangan mewarisi perempuan secara paksa, melarang perlakuan yang merugikan mereka, dan menekankan pentingnya memperlakukan perempuan dengan baik. Ayat ini turun sebagai respons terhadap praktik jahiliyah, termasuk kasus Abu Qais bin al-Aslat, di mana seorang janda bisa “diwarisi” oleh kerabat laki-laki tanpa haknya dihormati. Kisah Kubaisyah binti Ma’n al-Anshariyyah menjadi salah satu contoh nyata latar belakang turunnya ayat tersebut.
Dengan datangnya Islam, praktik sosial yang merendahkan perempuan mulai dibatalkan. Perempuan tidak lagi diperlakukan sebagai objek atau komoditas sosial, tetapi diakui sebagai individu yang memiliki hak, kehormatan, dan perlindungan dalam masyarakat. Sejarah ini menunjukkan bahwa sebelum Islam, perempuan merupakan kelompok yang tertindas, namun Islam membawa reformasi yang menjamin hak-hak dan kesejahteraan mereka.
Kenali Kami Lebih Dekat
Assalamu Alaikum Akhi Ukhti!! Selamat datang di Kabar Umat
Kami hadir setiap saat untuk menyampaikan berita terpercaya serta wawasan keislaman, keindonesiaan dan kebudayaan hanya buat Akhi Ukhti. Bantu sukseskan Visi kami satukan umat kuatkan masyarakat dengan cara share konten kami kepada teman-teman terdekat Akhi Ukhti !