kabarumat.co – Pembelaan terhadap turats pada dasarnya lahir sebagai respons atas gelombang kritik tajam para pemikir reformis terhadap tradisi keilmuan Arab-Islam yang dinilai stagnan. Secara sosial, gagasan ini berakar dari kegelisahan intelektual Muslim Arab yang menyaksikan kemunduran dunia Islam di Timur dibandingkan pesatnya kemajuan Barat.
Dari kegelisahan tersebut muncul sejumlah tokoh pembaru di berbagai negeri Arab seperti Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, Abdul Qadir al-Maghribi, dan Thahir al-Jazairi. Namun, perbincangan mengenai pembaruan turats secara lebih sistematis baru menguat setelah tahun 1967, ketika para akademisi dari beragam latar ideologi mulai mengartikulasikannya secara lebih spesifik.
Kekalahan koalisi Arab dari Israel—yang didukung Amerika Serikat—dalam Perang Enam Hari menjadi titik balik penting. Peristiwa ini mengguncang kesadaran kolektif masyarakat Arab. Kekalahan tersebut dipandang sebagai kegagalan nasionalisme Arab, otoritarianisme politik, serta model sosial-politik yang berlaku saat itu. Dampaknya, muncul kritik luas terhadap struktur sosial, budaya, politik, dan ekonomi yang selama ini dianggap mapan. Meski lahir dalam momentum yang sama, kritik-kritik tersebut bergerak dalam spektrum ideologi yang berbeda.
Kalangan Islamis mengusulkan kebangkitan negara Islam sebagai solusi alternatif. Kaum liberal mendorong demokratisasi negara-negara Arab. Sementara kelompok Marxis menilai kekalahan itu sebagai akibat dari penerapan sosialisme yang belum tuntas. Dari dinamika kritik inilah lahir pemikiran Arab kontemporer, termasuk diskursus tajdid turats yang menonjol.
Madrasah Pemikiran dalam Tajdid
Secara umum, perdebatan tentang tajdid turats diperebutkan oleh dua arus besar: progresif dan neotradisional. Kelompok progresif berupaya membaca ulang teks dan tradisi Islam melalui kerangka modern—menekankan keadilan sosial, kesetaraan gender, HAM, dan inklusivitas. Sebaliknya, kelompok neotradisional berusaha menghidupkan kembali ajaran klasik Ahlussunnah, fikih mazhab, dan tasawuf sebagai pijakan menjawab tantangan zaman.
Seruan tajdid mula-mula menguat dari kalangan progresif. Menurut Ahmed el-Tayeb, terdapat tiga poros utama dalam narasi pembaruan turats: Madrasah Suriah, Madrasah Maghrib, dan Madrasah Mesir. Madrasah di sini merujuk pada komunitas intelektual yang berbagi orientasi dan metodologi serupa dalam membaca turats.
Madrasah Suriah
Dalam Madrasah Suriah, tajdid berangkat dari kerangka Marxisme-Leninisme. Tradisi turats ditelusuri untuk menemukan figur dan gagasan yang dianggap selaras dengan konsep materialisme historis—pandangan bahwa dinamika sejarah manusia ditentukan oleh faktor material dan struktur produksi ekonomi.
Pendekatan ini cenderung menyingkirkan dimensi metafisik dalam turats. Tokoh-tokoh klasik seperti Al-Farabi, Ibrahim an-Nazzam, dan kelompok Ikhwan al-Safa diangkat sebagai representasi kecenderungan rasional-materialistik dalam sejarah intelektual Islam.
Dengan demikian, tajdid dalam perspektif ini pada dasarnya merupakan seleksi atas turats dengan menonjolkan unsur-unsur yang dianggap mendukung materialisme historis ala Karl Marx, sembari memarginalkan dimensi metafisisnya.
Madrasah Maghrib
Madrasah Maghrib memusatkan perhatian pada kritik terhadap struktur nalar peradaban Arab, terutama melalui pemikiran Muhammad Abid al-Jabiri. Ia mendefinisikan “nalar Arab” sebagai seperangkat prinsip epistemologis yang membentuk cara suatu peradaban memperoleh pengetahuan.
Dalam analisisnya, nalar Arab terbagi menjadi dua: nalar ketimuran (teologis) yang bertumpu pada ilmu kalam—diwakili antara lain oleh Al-Ghazali dan Fakhr al-Din al-Razi—serta nalar kebaratan (rasional-ilmiah) yang bertumpu pada logika dan matematika, sebagaimana dirumuskan oleh Ibn Rushd dan Ibn Bajjah.
Menurut pembacaan ini, dominasi nalar teologis-mistis menyebabkan stagnasi, sementara nalar rasional-ilmiah justru mengandung orientasi masa depan. Karena itu, turats dipandang turut berkontribusi terhadap kemunduran dunia Arab akibat dominasi pola pikir yang dianggap tidak rasional.
Madrasah Mesir
Adapun Madrasah Mesir, yang dipelopori oleh Hasan Hanafi, mengajukan pendekatan berbeda melalui konsep at-turats wa at-tajdid. Jika dua madrasah sebelumnya berfokus pada pembaruan atas turats, Hanafi memandang turats bukan sekadar warisan intelektual masa lalu, melainkan endapan psikologis yang hidup dalam kesadaran sosial masyarakat.
Dengan demikian, turats bukan hanya teks di perpustakaan, tetapi realitas aktif yang membentuk perilaku dan cara pandang masyarakat. Maka proyek tajdid dalam perspektif ini berarti mentransformasi realitas sosial kontemporer dengan mengubah—bahkan bila perlu mengganti—struktur kesadaran yang dibentuk oleh turats yang dianggap menghambat kemajuan.
Di sinilah letak perdebatan tajam antara kubu progresif dan neotradisional: apakah turats harus direkonstruksi secara kritis demi perubahan sosial, atau justru dijaga kesinambungannya sebagai fondasi otentik tradisi. Wallahu a‘lam.
Kenali Kami Lebih Dekat
Assalamu Alaikum Akhi Ukhti!! Selamat datang di Kabar Umat
Kami hadir setiap saat untuk menyampaikan berita terpercaya serta wawasan keislaman, keindonesiaan dan kebudayaan hanya buat Akhi Ukhti. Bantu sukseskan Visi kami satukan umat kuatkan masyarakat dengan cara share konten kami kepada teman-teman terdekat Akhi Ukhti !