Kabarumat.co – Kepolisian Republik Indonesia (Polri) terus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi radikalisme di masyarakat, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi. Pengawasan ini dilakukan untuk mencegah potensi tindakan radikal yang mungkin terjadi. “Polri bersama lembaga terkait lainnya terus memantau adanya aktivitas radikalisme di masyarakat,” kata Kadiv Humas Polri Irjen Sandi Nugroho saat ditemui di Gedung Rupatama Mabes Polri, Jakarta, pada Rabu (12/2/2025).
Sandi menegaskan bahwa meskipun aktivitas radikalisme tidak terlihat secara langsung, hal tersebut tetap menjadi perhatian Polri agar tidak terkejut dengan potensi kegiatan radikal di masyarakat. “Kehadiran atau ketiadaan kegiatan ini tetap menjadi peringatan bagi kita semua,” ujar Sandi.
Untuk mencegah penyebaran paham radikal, Polri bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk lembaga keagamaan dan kemasyarakatan. “Polri berkolaborasi dengan semua pihak terkait untuk bersama-sama menjaga agar NKRI tetap aman dan tidak terpecah,” katanya.
Sandi juga menekankan bahwa menjaga moderasi dalam beragama adalah tanggung jawab setiap warga negara Indonesia. “Keberagaman harus terus kita jaga bersama. Polri tidak bisa bekerja sendiri. Dengan kebersamaan, kita dapat menjaga toleransi dan kerukunan umat beragama di Indonesia,” ujarnya.
Sebelumnya, anggota eks Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) mengungkapkan bahwa meskipun HTI dibubarkan pada 2017, ideologi ekstrem yang mereka anut masih tetap berkembang. Pembubaran tersebut hanya menghapus status badan hukum HTI, namun tidak menghentikan penyebaran ideologinya.
“Meskipun sudah dilarang, pelarangan hanya bersifat administratif, tidak mengubah ideologinya,” kata Ayik Heriansyah, eks anggota HTI, saat ditemui di Jakarta pada 5 Februari 2025.
Ayik, mantan pimpinan HTI Bangka Belitung, menjelaskan bahwa anggota HTI yang masih menganut ideologi khilafah kini menggunakan berbagai nama lembaga sebagai kedok. Ia memperkirakan jumlah lembaga semacam itu mencapai ratusan. “Mereka menggunakan berbagai nama lembaga untuk kamuflase, puluhan hingga ratusan lembaga mungkin ada,” ujar Ayik.
Meskipun anggota HTI tidak lagi membawa atribut resmi organisasi, mereka tetap terlibat dalam aksi-aksi besar dengan cara yang tidak mencolok. Namun, menurut Ayik, meskipun tampaknya tidak terlihat jelas, tanda-tanda tersebut masih bisa dikenali sebagai anggota HTI.
Kenali Kami Lebih Dekat
Assalamu Alaikum Akhi Ukhti!! Selamat datang di Kabar Umat
Kami hadir setiap saat untuk menyampaikan berita terpercaya serta wawasan keislaman, keindonesiaan dan kebudayaan hanya buat Akhi Ukhti. Bantu sukseskan Visi kami satukan umat kuatkan masyarakat dengan cara share konten kami kepada teman-teman terdekat Akhi Ukhti !