Kampus penting dalam membantengi dari paham radikalisme dan terorisme. Karena, kampus menjadi wadah bagi semaiannya generasi penerus bangsa. Untuk itu, perlu ada pencegahan dini yang berarti di dalam tubuh kampus.
Sejak dasawarsa terakhir, kampus secara tidak sadar telah dimasuki oleh kelompok radikal. Mereka mencoba menggerogoti bangsa dari hulu: kampus. Maka yang terjadi, mahasiswa-mahasiswi pernah menjadi korban dengan mengebom kantor polisi dan gereja.
Apalagi kini, di beberapa kampus, baru menyelenggarakan penerimaan mahasiswa baru. Di mana, mereka sama sekali belum tahu tentang organisasi dan kelompok-kelompok yang punya ambisi untuk melakukan radikalisasi dan terorisasi.
Mahasiswa Baru Korban Empuk
Mahasiswa baru adalah umpan paling mudah untuk dijadikan korban. Karena mahasiswa-mahasiswi ini, adalah seseorang yang ingin tahu banyak hal tentang kampus. Mereka ingin menjalani proses atau mencari jati diri sebagai mahasiswa yang ideal di kampus atau kehidupan sosial.
Oleh karena itu, mereka tertarik untuk ikut organisasi apa saja, yang penting menantang dan mendorong. Ambisi meledak-ledak demikian yang akan dimanfaatkan oleh kelompok radikal. Secara sederhana, kelompok radikal merekrut mereka. Pada akhirnya, mahasiswa ini akan masuk pada kelompok radikal ini.
Dan kita sudah bisa membayangkan setelah mereka masuk pada organisasi hitam ini. Pertama, mereka akan menjadi anggota dan penerus. Kedua, mereka akan menjadi korban amaliah daripada paham radikal ini, sebagai salah satu pembutian keroyalan. Mereka bisa ngebom dan atau berangkat ke Afghanistan.
Jika demikian, maka kampus sudah menjadi ladang dalam terorisasi. Kampus menjadi tani baru bagi kelompok radikalisme untuk merekrut anggota baru menjadi teroris. Kampus bisa menjadi pabrik teroris.
Tentu, kita tidak ingin mengubah menjadi bangunan tua yang di dalamnya berisi manusia-manusia hitam. Kita ingin sebisa mungkin hal itu tidak pernah dan tidak akan pernah terjadi. Lalu bagaimana caranya?
Yang Perlu Disiapkan
Hal yang perlu disiapkan dalam menghadapi ekspansi ideologi transnasional di tengah perkembangan teknologi, bagi mahasiswa baru, adalah melalui program di kampus itu sendiri. Pertama-tama dosen dan pegawainya harus dibanteng terlebih dahulu dari virus radikalisme.
Karena, dosen dan pegawai kampus adalah berperan sangat penting dalam mentransmisikan ilmu pengetahuan, wawasan, dan pembangunan karakter bagi para mahasiswa/I di kampus. Bisa dikatakan, dosen dan pegawai kampus adalah banteng hulunya. Jika dosen dan para pegawainya sudah terkena paham teroris dan radikalisme, kampus sudah terkena jantung terdalam dan pertahanan terkuatnya.
Sementara itu, kampus juga harus segan dalam memecat siapa pun yang masih menjalani dan beraktivitas berpaham radikalisme, termasuk adalah mahasiswa, takmir masjid kampus, dan tukang parkir. Karena jika dibiarkan, hal itu akan menjadi penyakit bagi perkembangan kampus. Kampus menjadi mandek. Kampus menjadi tidak becus dan berbahaya. Manusia kampus bisa memusuhi negara.
Kampus Pertaruhan
Maka itu, yang perlu dilakukan adalah bagaimana memperkuat kampus dari tantangan adanya paham radikalisme dan terorisme. Sekarang untuk membantu mencegah tumbuhnya radikalisme di lingkungan kampus, dapat melalui penguatan pemahaman ketahanan nasional, revitalisasi nilai-nilai Pancasila, serta moderasi beragama. Ini harus masuk dalam kurikulum dan juga ditatarkan organisasi mahasiswa.
Kemudian selanjutnya, kampus harus mampu mengemban amanah menjadi lembaga yang dapat mencerdaskan kehidupan bangsa. Bukan lembaga yang mengotori atau menjadi beban bangsa di mana akademisinya hanya tidur dan melakukan korupsi waktu dan duit. Artinya, kampus harus bersih dari radikalisme dan korupsiisme. Jika kampus lepas dari ini, maka kita yakin kampus bisa dipertaruhkan keberadaan dan manfaatnya.
Leave a Review