Flash Sale! to get a free eCookbook with our top 25 recipes.

Penindakan Radikalisme Digital: Langkah Tegas Kemkomdigi untuk Keamanan Siber

Penindakan Radikalisme Digital: Langkah Tegas Kemkomdigi untuk Keamanan Siber
Penindakan Radikalisme Digital: Langkah Tegas Kemkomdigi untuk Keamanan Siber

kabarumat.co – Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) menegaskan komitmennya untuk mengambil tindakan tegas terhadap konten radikal yang tersebar di dunia digital.

Direktur Jenderal Pengawasan Ruang Digital Kemkomdigi, Alexander Sabar, menjelaskan bahwa pengawasan dilakukan dengan berkoordinasi bersama berbagai pihak, termasuk Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

“Kami akan terus memantau penyebaran konten radikalisme. Selain pemantauan internal, kami juga menindaklanjuti laporan dari masyarakat serta instansi terkait,” ujarnya di Jakarta, Kamis (2/10/2025).

Alexander menambahkan bahwa laporan yang diterima dapat berujung pada permintaan penghapusan konten di platform media sosial atau bahkan pemblokiran akses terhadap situs yang dianggap menyebarkan paham ekstrem.

“Apabila BNPT menemukan konten radikal, mereka akan menyerahkannya kepada kami untuk segera diproses penghapusan atau pemutusan akses,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala BNPT, Komjen Pol Eddy Hartono, mengingatkan bahwa dunia permainan daring kini menjadi sasaran baru kelompok radikal. “Ada sekitar 13 anak dari berbagai daerah di Indonesia yang terhubung melalui gim online Roblox, yang kemudian diarahkan masuk ke jaringan simpatisan teroris,” ungkap Eddy.

Dia menjelaskan bahwa interaksi awal di gim daring sering berlanjut ke platform tertutup seperti Telegram atau WhatsApp, yang menjadi tempat indoktrinasi lebih intensif. BNPT memberikan contoh kasus internasional tahun 2024, ketika seorang remaja 16 tahun di Singapura ditangkap setelah membuat simulasi zona militer Afghanistan di gim Roblox untuk menarik pengikut sebelum mengalihkannya ke grup tertutup.

“Ini adalah tantangan besar bagi kita semua. Anak-anak harus dilindungi dari paparan ideologi radikal yang dapat masuk melalui aktivitas digital mereka,” tegas Eddy.