Flash Sale! to get a free eCookbook with our top 25 recipes.

Sawah Terendam Banjir, BPS: Produksi Padi Aceh, Sumut, dan Sumbar Terancam

kabarumat.co – Badan Pusat Statistik (BPS) mencermati adanya ancaman terhadap produksi padi akibat banjir yang terjadi di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Bencana tersebut diperkirakan dapat memperbesar risiko gagal panen pada masa tanam saat ini.

Deputi Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, menyampaikan bahwa hasil pemantauan menunjukkan sebagian areal persawahan di wilayah terdampak berada dalam kondisi rentan terhadap kegagalan panen. Dari keseluruhan luas lahan padi, sekitar 11,43 persen tercatat masuk kategori berpotensi tidak menghasilkan produksi.

BPS menjelaskan bahwa meningkatnya risiko tersebut tidak terlepas dari curah hujan ekstrem yang terjadi pada November 2025. Hujan dengan intensitas tinggi memicu banjir di sejumlah wilayah sentra produksi padi, sehingga berdampak pada kondisi tanaman serta lahan pertanian. Ia menuturkan bahwa persentase potensi gagal panen mengalami lonjakan signifikan dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Pernyataan tersebut disampaikan dalam konferensi pers pada Senin (5/1/2026), sebagaimana dikutip dari kanal YouTube Badan Pusat Statistik.

BPS menilai perubahan situasi tersebut berdampak pada realisasi panen pada November 2025 serta menjadi aspek penting yang perlu diperhatikan dalam perkiraan panen pada beberapa bulan mendatang. Ia menyebutkan bahwa kondisi tersebut memengaruhi luas panen pada November 2025 dan berpotensi berdampak pada capaian luas panen dalam tiga bulan berikutnya. Kondisi nasional lahan padi

Selain ancaman gagal panen, BPS juga mencatat sebagian lahan padi di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat masih berada pada fase pertumbuhan atau standing crop. Pada November 2025, porsi lahan standing crop di ketiga provinsi tersebut tercatat mencapai 34,63 persen, menurun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang berada di angka 36,70 persen.

Berdasarkan Survei Kerangka Sampel Area (KSA) BPS pada November 2025, secara nasional mayoritas lahan pertanian padi berada pada fase standing crop. Porsinya tercatat sebesar 33,25 persen dari total luas lahan padi di Indonesia. Selain itu, lahan yang digunakan untuk komoditas nonpadi mencapai 26,26 persen, sedangkan lahan yang masih dalam tahap persiapan tanam sebesar 17,16 persen.

BPS juga mencatat lahan yang diberakan atau dibiarkan mencapai 14,87 persen, lahan yang sedang memasuki masa panen sebesar 7,19 persen, serta lahan yang berpotensi mengalami gagal panen secara nasional berada di angka 1,26 persen. Lembaga tersebut turut mengamati adanya perubahan fase lahan dibandingkan bulan sebelumnya. Pada November 2025, peningkatan proporsi lahan pada fase standing crop diiringi dengan penurunan luas lahan yang diberakan maupun lahan yang ditanami selain padi dibandingkan kondisi Oktober 2025.

Lebih lanjut, BPS menjelaskan bahwa tanaman padi yang telah memasuki fase generatif umumnya akan dipanen dalam kurun waktu sekitar satu bulan. Sementara itu, padi pada fase vegetatif akhir diperkirakan baru akan dipanen dalam dua bulan ke depan, sedangkan tanaman pada fase vegetatif awal diproyeksikan memasuki masa panen sekitar tiga bulan mendatang.