Flash Sale! to get a free eCookbook with our top 25 recipes.

ITB Bahas Strategi Penanggulangan Tindak Terorisme di Indonesia dalam Studium Generale

Kabarumat.co – Institut Teknologi Bandung (ITB) kembali menggelar kuliah umum Studium Generale, di Aula Barat ITB Kampus Ganesha, dengan topik “Strategi Penanggulangan Tindak Pidana Terorisme di Indonesia”. Kuliah umum tersebut mengundang tiga pembicara, yakni Brigjen. Pol. Arif Makhfudiharto, S.I.K., M.H., AKBP Jim Brilliant Birnes, dan Kiki Muhammad Iqbal.

Brigjen. Arif menyampaikan pentingnya atribut Ideologi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) terkait isu terorisme. “Indonesia sudah mengalami banyak konflik vertikal dan horizontal. Kita bisa bertahan karena adanya rasa nasionalisme, Pancasila, dan kesadaran akan keberagaman. Ketiganya merupakan hal penting yang diperlukan untuk mengintegrasikan rakyat Indonesia menjadi satu bangsa yang tak terpisahkan,” tuturnya.

Sementara itu, AKBP Jim mengatakan bahwa terorisme adalah segala perbuatan yang menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan yang menimbulkan suasana teror atau rasa takut secara meluas, yang dapat menimbulkan kerusakan, kehancuran, dan korban yang bersifat massal.

“Terorisme adalah kejahatan terhadap kemanusiaan dan tidak ada kaitannya dengan agama mana pun. Terorisme terjadi bukan karena agama, tetapi karena sikap orang yang koruptif, yakni orang memiliki pandangan eksklusif terhadap kelompok lain,” ucapnya.

Beliau juga menjelaskan bagaimana konsep hubungan yang terbentuk dalam kelompok terorisme, isu-isu yang memengaruhi terjadinya tindak terorisme, pola rekrutmen dan perkembangan terorisme di Indonesia, karakteristik terorisme di Indonesia, serta strategi yang sudah dilakukan oleh Densus 88.

“Terorisme merupakan ancaman nyata terhadap kehidupan dan keberlangsungan Indonesia dalam mewujudkan cita-citanya. Peran aktif dan kerja sama berbagai komponen bangsa dibutuhkan dalam upaya penanggulangannya,” ujarnya.

Sementara itu, Kiki, mantan Napi Teroris (Napiter) asal Cileunyi bercerita tentang masa lalunya terkait terorisme. “Saya terlibat dalam terorisme mulai tahun 2010, yakni kasus bom Cibiru. Lalu di tahun 2017 terkait kasus bom Kampung Melayu. Saat di Nusa Kambangan, ada program safari dakwah yang diadakan Tim Densus 88 yang dapat membantu saya keluar dari pemahaman radikal kepada pemahaman moderat,” tuturnya.

Saat ini, saya bersyukur bisa bersama-sama dengan Tim Densus 88, BNPT, Kesbangpol memberikan wawasan, nasihat, pencerahan kepada masyarakat Kabupaten Bandung khususnya, supaya bisa mengantisipasi dan mencegah dari pemahaman intoleransi, radikalisme, dan terorisme,” tandasnya.