kabarumat.co – Kemenangan Hay’at Tahrir al-Syam (HTS) di Suriah telah menimbulkan dampak besar bagi umat Muslim di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Banyak organisasi dan kelompok militan Islam dari berbagai negara memberikan ucapan selamat karena keberhasilan HTS menggulingkan rezim Bashar al-Assad yang dikenal sebagai penguasa diktator yang kejam dan lama berkuasa.
Mengutip The Guardian, sejumlah cabang Ikhwanul Muslimin menyambut dengan suka cita kemenangan HTS dan memberikan apresiasi kepada rakyat Suriah atas kejatuhan rezim Assad. Ikhwanul Muslimin, yang merupakan gerakan Islamis veteran dengan cita-cita mendirikan pemerintahan Islam, turut memberi selamat atas pencapaian tersebut. Beberapa kelompok Ikhwanul Muslimin di negara-negara seperti Yordania dan Lebanon juga menunjukkan dukungan mereka. Pejabat lokal pun menyampaikan simpati dan dukungan kepada HTS dan perjuangannya.
Namun, kemenangan HTS tidak semata-mata bisa diartikan sebagai kebangkitan umat Islam. Kemenangan itu juga merupakan hasil kerja keras berbagai kelompok rakyat Suriah yang beragam etnis dan agama, termasuk komunitas Kristen Ortodoks. Selain itu, peran diplomasi antara Suriah dengan negara-negara seperti Inggris, Amerika Serikat, Qatar, dan Turki turut memberikan kontribusi signifikan dalam menggulingkan rezim tersebut.
Di Indonesia, kemenangan HTS harus diwaspadai karena berpotensi dimanfaatkan kelompok ekstremis dan radikal untuk menyerukan jihad global dan pembentukan khilafah. Dengan narasi kemenangan HTS sebagai kebangkitan Islam dan penegakan khilafah, masyarakat perlu berhati-hati terhadap informasi yang tersebar di media sosial agar tidak terpengaruh untuk hijrah ke Suriah dengan tujuan berjihad atau menegakkan khilafah di Indonesia.
Hijrah ke Bumi Syam: Benarkah Seindah Itu?
Banyak contoh masyarakat Indonesia yang pernah hijrah ke Suriah namun akhirnya kembali dengan penyesalan. Mereka menyadari bahwa mereka terbuai oleh rayuan kelompok radikal atau informasi palsu yang beredar luas di media sosial. Contohnya adalah Nurshadrina Khaira Dhania, seorang perempuan muda yang pada 2015 hijrah ke Suriah setelah terpengaruh oleh narasi kemewahan dan keutamaan tinggal di negara khilafah.
Namun kenyataan yang ia alami jauh berbeda. Dalam berbagai forum, ia menceritakan pengalaman pahit tentang betapa berbeda gambaran yang disampaikan kelompok radikal dengan realita, yang justru dipenuhi kekerasan, kekasaran, dan sikap sombong antar sesama Muslim.
Hal yang sama juga dialami oleh Febri Ramdani, penulis buku “300 Hari di Bumi Syam.” Ia berbagi kisah ketakutannya selama hijrah ke Suriah dan perjuangannya yang panjang untuk kembali ke Indonesia bersama keluarganya. Tempat yang selama ini dibayangkannya penuh ketenangan dan kemakmuran ternyata sarat dengan konflik berdarah dan kekerasan yang terus berlangsung.
Karena itu, kita harus waspada dan tidak mudah terbujuk oleh janji-janji manis untuk hijrah ke Suriah. Banyak saudara kita yang telah menyesal mengambil langkah tersebut. Dari kisah-kisah mereka, penting bagi kita untuk terus menyebarkan informasi yang benar agar tidak ada korban serupa. Perjalanan kembali ke Indonesia setelah hijrah ke Suriah sangat berat dan berliku. Narasi jihad yang mengajak hijrah ke Bumi Syam demi khilafah harus kita tolak bersama.
Melawan Propaganda dan Meningkatkan Kesadaran
Media sosial kini menjadi sarana utama penyebaran propaganda kelompok radikal. Mereka menggunakan platform seperti Facebook, X, dan Telegram untuk menyebarkan narasi yang menarik, termasuk janji kesejahteraan, keadilan, dan kehidupan ideal di bawah khilafah. Visualisasi kemewahan dan persatuan umat Muslim digunakan sebagai daya tarik.
Namun kenyataannya sering kali berbeda jauh. Seperti yang dialami Nurshadrina dan Febri, gambaran “Bumi Syam yang damai” hanyalah ilusi. Pengalaman mereka membuktikan bahwa banyak korban propaganda justru terjebak dalam konflik berdarah dan penderitaan yang berkepanjangan.
Pendidikan dan literasi digital sangat penting untuk menangkal propaganda ini. Pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat harus bekerja sama meningkatkan kesadaran akan bahaya narasi radikal, terutama di kalangan generasi muda yang rentan terhadap pengaruh ekstremis.
Program literasi digital harus mengajarkan cara mengenali berita palsu, memverifikasi sumber informasi, dan memahami bahaya ideologi radikal. Narasi alternatif yang mengedepankan nilai-nilai Islam moderat, kasih sayang, dan kemanusiaan juga perlu diperkuat agar masyarakat tidak mudah terjebak dalam propaganda sesat.
Mantan korban propaganda seperti Nurshadrina dan Febri dapat berbagi pengalaman berharga melalui buku, seminar, atau media sebagai peringatan dan pembelajaran bagi masyarakat. Kesaksian mereka membantu menjelaskan bagaimana propaganda radikal bekerja dan menjadi pengingat bagi mereka yang mempertimbangkan hijrah ke wilayah konflik.
Makna jihad yang disalahgunakan kelompok radikal harus diluruskan. Dalam Islam, jihad memiliki arti luas yang mencakup perjuangan spiritual, intelektual, dan sosial. Hijrah ke Bumi Syam demi mendukung kelompok radikal bukanlah bagian dari jihad yang sesuai ajaran Islam, melainkan penyimpangan yang membahayakan diri sendiri dan orang lain.
Ulama, cendekiawan, dan tokoh masyarakat perlu terus menyampaikan pemahaman jihad yang benar. Dengan menyebarkan ajaran damai, Islam dapat menjadi benteng untuk melawan radikalisme dan terorisme.
Kenali Kami Lebih Dekat
Assalamu Alaikum Akhi Ukhti!! Selamat datang di Kabar Umat
Kami hadir setiap saat untuk menyampaikan berita terpercaya serta wawasan keislaman, keindonesiaan dan kebudayaan hanya buat Akhi Ukhti. Bantu sukseskan Visi kami satukan umat kuatkan masyarakat dengan cara share konten kami kepada teman-teman terdekat Akhi Ukhti !