Flash Sale! to get a free eCookbook with our top 25 recipes.

Antara Zaman, Dahr, dan Waqt: Menyingkap Hakikat Waktu dalam Tasawuf

Antara Zaman, Dahr, dan Waqt: Menyingkap Hakikat Waktu dalam Tasawuf
Antara Zaman, Dahr, dan Waqt: Menyingkap Hakikat Waktu dalam Tasawuf

Kabarumat.co – Ada satu premis yang begitu gamblang hingga hampir tak pernah kita pertanyakan: waktu tidak menunggu siapa pun. Ia merupakan salah satu kesadaran eksistensial paling tua dalam pengalaman manusia—terpantul dalam petuah para bijak, ratapan para penyair, dan bahkan dalam sumpah Al-Qur’an demi masa: wal-‘Aṣr.

Time waits for no one,” judul lagu Freddie Mercury yang direkam pada 1986, pada dasarnya bukan sekadar gambaran tentang jarum jam yang terus bergerak. Ungkapan itu menyiratkan pengakuan bahwa manusia hidup dalam arus yang searah: waktu terus bergerak, tidak dapat diputar kembali, dan tidak dapat ditawar. Inilah waktu dalam pengertian dahr—waktu yang berjalan dan menggilas segala sesuatu.

Dalam penafsiran sebagian ulama, pengertian ini memiliki kaitan dengan hadis qudsi: “Jangan mencela dahr, karena Akulah dahr.” Waktu, dalam pengertian ini, tampil sedemikian absolut sehingga mencelanya seakan-akan berarti mencela Dia yang menguasai seluruh perjalanan keberadaan.

Tetapi di tempat lain, jauh dari mimbar dan majelis zikir, fisika teoretis justru mulai mengguncang anggapan paling mendasar kita mengenai waktu. Pada 1995, fisikawan Edward Witten mengajukan sebuah kerangka yang kemudian dikenal sebagai M-Theory. Gagasan tersebut membuka kemungkinan bahwa realitas memiliki sebelas dimensi dan bahwa lima versi teori dawai yang sebelumnya tampak sebagai teori-teori terpisah sesungguhnya merupakan manifestasi berbeda dari suatu struktur yang lebih fundamental.

Dalam kerangka semacam ini, ruang-waktu tidak lagi harus diperlakukan sebagai panggung tetap tempat seluruh peristiwa berlangsung. Ia bahkan dapat dipahami sebagai sesuatu yang emergent—sesuatu yang muncul dari struktur yang lebih mendasar. Ruang, waktu, brane, dan dawai mungkin hanyalah aspek yang tampak dari suatu realitas matematis yang jauh lebih kompleks daripada empat dimensi yang kita alami sehari-hari.

Tulisan ini mencoba membaca dua bahasa tersebut secara berdampingan: bahasa eksistensial-spiritual tentang waktu yang tidak pernah menunggu, dan bahasa matematis-fisis yang membuka kemungkinan bahwa waktu bukanlah fondasi terakhir dari realitas.

Namun, sejak awal perlu ditegaskan bahwa tulisan ini tidak hendak menyatakan bahwa fisika teoretis telah “membuktikan” metafisika Sufi—atau sebaliknya. Yang dilakukan di sini adalah pembacaan analogis. Dalam semangat pemikiran para perenialis seperti Syeikh Isa Nuruddin (Frithjof Schuon), sains modern dapat dilihat bukan sebagai otoritas yang menggantikan metafisika tradisional, melainkan sebagai salah satu bahasa pengetahuan manusia. Jika direnungkan secara mendalam, bahasa itu kadang-kadang memperlihatkan gema dari intuisi yang telah lama dirumuskan oleh tradisi-tradisi kebijaksanaan.

Tiga Wajah Waktu dalam Tradisi Sufi

Dalam tradisi Islam, terutama dalam elaborasi para metafisikawan Sufi, “waktu” tidak direduksi menjadi satu istilah tunggal. Setidaknya terdapat tiga konsep yang memiliki nuansa berbeda: zaman, dahr, dan waqt.

Zaman menunjuk pada waktu yang dapat diukur: waktu kalender, waktu jam, atau waktu yang secara sederhana kita bagi menjadi masa lalu, masa kini, dan masa depan. Inilah waktu sebagaimana biasanya dipahami dalam pengalaman sehari-hari dan dalam pengertian fisikal yang paling umum.

Dahr memiliki cakupan yang lebih luas. Ia dapat menunjuk pada durasi kosmis yang menyeluruh, suatu rentang yang mencakup keseluruhan perjalanan alam semesta. Dalam pemikiran metafisis tertentu, dahr bahkan didekatkan dengan gagasan tentang keabadian, sehingga ia tidak sekadar dipahami sebagai urutan momen yang satu mengikuti momen lainnya.

Adapun waqt—yang justru menjadi salah satu istilah paling penting dalam kosakata Sufi—memiliki karakter yang berbeda. Waqt bukan sekadar waktu yang mengalir, melainkan saat kini yang dihayati dengan penuh kehadiran oleh seorang sālik, sang penempuh jalan spiritual.

Ibn ‘Arabi dan para penerusnya menyebut seorang Sufi sebagai ibn al-waqt, “anak dari saat”. Sebutan ini menegaskan bahwa kehidupan spiritual tidak seharusnya digantungkan pada sesuatu yang telah berlalu ataupun sesuatu yang belum tiba. Yang sungguh-sungguh tersedia bagi manusia adalah saat yang sedang dihadapi: al-waqt al-ḥāḍir, saat yang hadir.

Menariknya, Ibn ‘Arabi juga mengembangkan doktrin tajaddud al-amthāl, yakni pembaruan yang terus-menerus atas keserupaan.

Menurut pandangan ini, alam semesta tidak berlangsung secara kontinu dalam pengertian sederhana. Pada setiap saat, alam mengalami pembaruan eksistensial: ia seakan-akan diciptakan kembali, sehingga kesinambungan yang kita rasakan sebenarnya merupakan rangkaian penciptaan baru yang memiliki keserupaan sedemikian rupa sehingga tampil di hadapan kita sebagai satu arus keberadaan yang utuh.

Dengan demikian, waktu bukanlah sungai yang mengalir secara mandiri. Ia lebih menyerupai rangkaian kilatan eksistensi yang terus diperbarui oleh Yang Maha Ada pada setiap “sekarang” yang tak terbagi.

Waktu yang Melingkar

Akan tetapi, kosmologi waktu Ibn ‘Arabi memiliki lapisan lain yang menarik untuk diperhatikan. Lapisan ini bukan bertentangan dengan tajaddud al-amthāl, melainkan justru melengkapinya.

Dalam al-Futūḥāt al-Makkiyyah, Ibn ‘Arabi membedakan jenis-jenis waktu berdasarkan daya jiwa yang melahirkannya. Ia berbicara mengenai waktu alami-inderawi (zaman ṭabī‘ī), yang berkaitan dengan daya aktif jiwa, dan waktu supra-alami atau spiritual (zaman warā’ al-ṭabī‘ah), yang berhubungan dengan daya intelektif.

Yang menarik, waktu alami-imajinal—waktu yang kita alami dalam kehidupan sehari-hari—digambarkan memiliki karakter dawrī: melingkar atau sirkular. Ia bersifat relatif, terputus-putus (discrete), dan tidak homogen. Dengan demikian, waktu tidak harus dibayangkan sebagai garis lurus yang bergerak terus-menerus dari masa lalu menuju masa depan.

Pandangan ini berkaitan dengan kosmologi klasik yang diwarisi Ibn ‘Arabi dari tradisi filsafat Peripatetik. Dalam kerangka tersebut, waktu dipahami sebagai “ukuran gerak” (miqdār al-ḥarakah). Sementara gerak paling mendasar dalam kosmos—gerak falak, terutama al-falak al-aṭlas atau falak al-aflāk, yakni lingkaran langit terluar yang menaungi keseluruhan alam—dipahami sebagai gerak rotasional.

Karena waktu diukur melalui gerak falak, waktu pun mewarisi karakter geraknya: melingkar.

Pergantian siang dan malam, perputaran musim, serta berbagai siklus kosmis yang lebih luas menjadi gambaran bahwa apa yang kita alami sebagai “aliran” linear mungkin sesungguhnya merupakan bagian-bagian dari suatu gerak yang berulang dan kembali pada porosnya.

Di sinilah dua ajaran Ibn ‘Arabi mengenai waktu—tajaddud al-amthāl, pembaruan penciptaan pada setiap saat, dan sifat dawrī, atau melingkar, dari waktu alami—dapat dibaca sebagai dua dimensi yang saling melengkapi.

Yang pertama bersifat vertikal: setiap ān, setiap “sekarang”, merupakan penciptaan baru yang tidak identik dengan saat sebelumnya, kecuali dalam keserupaan.

Yang kedua bersifat horizontal: rangkaian “sekarang” yang terputus itu, ketika dilihat sebagai keseluruhan, tidak mesti membentuk garis lurus tanpa akhir menuju masa depan. Ia dapat dipahami sebagai suatu busur yang bergerak dalam lingkaran.

Seperti falak yang terus berputar, waktu tidak semata-mata “maju” menuju sesuatu yang sama sekali baru. Ia juga mengandung dimensi kembali, pengulangan, dan siklus.

Sejumlah pengkaji modern pemikiran Ibn ‘Arabi, termasuk Mohamed Haj Yousef dalam kajiannya mengenai konsep waktu dalam al-Futūḥāt al-Makkiyyah, melihat adanya resonansi tertentu antara gagasan tentang waktu yang diskret, relatif, dan melingkar ini dengan sejumlah problem mengenai waktu dalam fisika modern.

Namun, sekali lagi, resonansi bukanlah identitas. Kesamaan struktur pemikiran tidak berarti bahwa Ibn ‘Arabi sedang mengantisipasi teori fisika modern. Ia hanya menunjukkan bahwa dua tradisi pemikiran yang berkembang melalui jalan berbeda dapat berhadapan dengan teka-teki yang sama: apa sebenarnya waktu itu?

Ketika Waktu Tak Lagi Menjadi Panggung

Sebelum Edward Witten memperkenalkan M-Theory pada 1995 dalam sebuah konferensi di University of Southern California, teori dawai telah berkembang dalam lima formulasi yang berbeda: Tipe I, Tipe IIA, Tipe IIB, serta dua varian teori dawai heterotik. Masing-masing tampak seperti teori tersendiri, meskipun secara umum beroperasi dalam kerangka sepuluh dimensi ruang-waktu.

Witten menunjukkan bahwa teori-teori tersebut, bersama supergravitasi sebelas dimensi, memiliki keterhubungan melalui jaringan dualitas matematis. Kelimanya dapat dipandang sebagai batas atau manifestasi berbeda dari suatu struktur yang lebih mendasar—struktur yang kemudian dikenal sebagai M-Theory.

Yang menarik dari perkembangan ini bukan semata-mata munculnya satu dimensi tambahan. Implikasinya jauh lebih mendalam: ia membuka pertanyaan mengenai apakah ruang-waktu itu sendiri benar-benar merupakan unsur paling fundamental dari realitas.

Dalam berbagai pendekatan terhadap gravitasi kuantum yang berkembang di sekitar gagasan-gagasan tersebut, termasuk prinsip holografik, muncul kemungkinan bahwa ruang-waktu yang kita alami bukanlah panggung dasar realitas, melainkan sesuatu yang muncul dari struktur yang lebih fundamental, termasuk struktur informasi.

Dalam beberapa model, realitas empat dimensi yang kita kenal bahkan dapat dibayangkan sebagai semacam brane—permukaan atau lembaran—yang berada dalam ruang berdimensi lebih tinggi, atau bulk. Dengan perspektif seperti ini, apa yang kita sebut sebagai “aliran waktu” dapat dipandang sebagai manifestasi atau proyeksi dari struktur geometris yang jauh lebih kaya.

Dengan kata lain, fisika teoretis modern, melalui jalur matematis yang sama sekali berbeda dari metafisika Sufi, sampai pada sebuah pertanyaan yang memiliki kemiripan tertentu: bagaimana jika waktu yang kita alami sebagai sesuatu yang absolut dan linear bukanlah tingkat terdalam dari realitas?

Di titik ini, kedua bahasa tersebut dapat dipertemukan—bukan sebagai dua teori yang identik, melainkan sebagai dua analogi yang dapat saling menerangi.

Antara Time Waits for No One dan Ibn al-Waqt

Pada tingkat fenomenal, time waits for no one sepenuhnya benar. Dalam zaman, dalam pengalaman keseharian manusia yang fana, waktu memang bergerak maju dan tidak pernah menunggu.

Dari sinilah kesadaran Islam mengenai kefanaan (fanā’) dan kematian (żikr al-mawt) memperoleh salah satu pijakannya. Karena waktu manusia terbatas dan tidak dapat diulang, setiap saat memperoleh nilai yang tak tergantikan. Pesan ini terasa kuat dalam Surah al-‘Aṣr, ketika manusia dinyatakan berada dalam kerugian kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, dan saling menasihati dalam kebenaran serta kesabaran.

Namun, jika fisika modern membuka kemungkinan bahwa waktu bukan kategori fundamental, maka secara analogis ia membawa kita kembali kepada konsep waqt dalam tradisi Sufi: bukan waktu sebagai arus yang terus mengalir, melainkan saat yang hadir dan terus diperbarui.

Doktrin tajaddud al-amthāl Ibn ‘Arabi—bahwa alam mengalami pembaruan penciptaan pada setiap “sekarang”—dapat dibaca secara analogis dengan gagasan bahwa realitas ruang-waktu yang kita alami mungkin merupakan manifestasi dari struktur yang lebih dalam.

Analogi ini tentu tidak berarti bahwa brane dalam fisika sama dengan konsep metafisis dalam tasawuf. Ia hanya membantu membuka suatu cara pandang: sesuatu yang kita alami sebagai realitas mandiri mungkin sebenarnya bergantung pada tingkat keberadaan yang melampauinya.

Dalam metafisika Ibn Sina dan tradisi sesudahnya, misalnya, mumkin al-wujūd—yang mungkin ada—tidak memiliki keberadaan dari dirinya sendiri, melainkan bergantung pada wājib al-wujūd, Yang Niscaya Ada.

Dalam kerangka pemikiran perenial Syeikh Isa, perjumpaan semacam ini bukan sesuatu yang sepenuhnya mengejutkan. Sains modern, ketika mendorong pertanyaannya sampai batas-batas paling ekstrem—melalui relativitas, mekanika kuantum, atau teori dawai—kadang-kadang justru berhadapan kembali dengan pertanyaan metafisis yang telah lama diajukan tradisi-tradisi kebijaksanaan.

Bahasa dan metodenya memang berbeda. Tetapi pertanyaannya terkadang beririsan.

Bukan berarti fisika telah “menemukan” Tuhan atau membuktikan tasawuf. Yang lebih tepat adalah mengatakan bahwa akal manusia, ketika mengikuti konsekuensi pemikirannya sampai batas terjauh, dapat kembali berhadapan dengan pertanyaan yang sejak lama direnungkan metafisika: apakah apa yang kita alami sebagai fondasi realitas benar-benar merupakan fondasi terakhir, ataukah ia sendiri bergantung pada sesuatu yang lebih dalam?

Dua Bahasa, Satu Pertanyaan

Kejujuran ilmiah sekaligus kejujuran spiritual menuntut satu catatan penting. M-Theory hingga kini tetap merupakan kerangka teoretis-matematis yang belum memperoleh verifikasi eksperimental langsung. Ia merupakan salah satu kandidat dalam upaya memahami gravitasi kuantum, bukan fakta yang telah dibuktikan secara eksperimental.

Karena itu, menjadikannya sebagai “bukti ilmiah” bagi metafisika Sufi merupakan kekeliruan kategoris. Hal tersebut mencampuradukkan dua bahasa yang bekerja pada wilayah berbeda: bahasa matematis-empiris dan bahasa simbolik-spiritual.

Yang lebih menarik justru bukan memaksakan keduanya menjadi sama, melainkan mengamati bahwa keduanya—dengan jalan yang sepenuhnya berbeda—sama-sama menggugat kenaifan kita dalam memahami waktu sebagai sesuatu yang mutlak, sederhana, dan berdiri sendiri.

Fisika mengajukan pertanyaan itu melalui persamaan, geometri, dan dualitas. Tasawuf menghadapinya melalui kontemplasi, pengalaman batin, dan pembacaan atas wahyu.

Keduanya tidak bertemu sebagai satu disiplin. Mereka bertemu sebagai dua jendela yang menghadap pada arah pertanyaan yang serupa: bagaimana jika sesuatu yang tampak sebagai fondasi sesungguhnya hanyalah tirai (ḥijāb) yang menutupi sesuatu yang lebih dalam?

Dengan perspektif itu, dahr yang seakan-akan menggilas dan tidak pernah menunggu dapat dibaca bukan sebagai tingkat terakhir realitas, melainkan sebagai salah satu penampakan (maẓhar) dari tatanan keberadaan yang lebih dalam—sesuatu yang tidak tunduk pada waktu, tetapi menjadi sumber bagi setiap “sekarang” yang terus diperbarui.

Mungkin di sinilah pertemuan kedua bahasa tersebut memperoleh arti spiritual yang paling praktis.

Manusia tetap harus hidup dalam zaman: dalam waktu yang bergerak, dalam usia yang menyusut, dalam kesempatan yang tidak dapat diulang. Setiap kelalaian membawa kerugian yang tidak dapat dikembalikan.

Tetapi kesadaran bahwa waktu fenomenal mungkin bukan lapisan paling dasar dari realitas—baik dalam bahasa Ibn ‘Arabi tentang pembaruan penciptaan di setiap saat maupun dalam bahasa fisika mengenai kemungkinan struktur yang melampaui ruang-waktu yang kita kenal—membuka jalan menuju apa yang disebut para Sufi sebagai ibn al-waqt.

Hidup sepenuhnya dalam saat kini bukan berarti menyangkal waktu yang terus berjalan. Sebaliknya, ia berarti menghadirkan kesadaran penuh pada setiap saat, sambil menyadari bahwa di balik segala sesuatu yang berlalu mungkin terdapat sesuatu yang tidak berlalu.

Kesadaran semacam itulah yang memungkinkan manusia menjalani waktu tanpa sepenuhnya diperbudak oleh kecemasan terhadap waktu.

Pandhita Wiku Magelung pernah berkata kepada kami:

“Ke mana juntrungannya usia yang telah kita tempuh sebelum sampai pada detik ini? Umurmu yang sekarang mungkin belum berjalan setahun penuh. Jika dikalkulasi, masih lebih banyak usia yang sudah kita lalui. Dengan kata lain, jauh lebih banyak pengalaman yang telah kita jalani pada masa terdahulu daripada saat ini.

Lalu, jika kita mati pada usia sekarang ini, yang berhenti adalah usia tubuh. Sementara jiwa kita akan terus mengembara dalam waktu yang bukan lagi meruang—melainkan berpindah ke dimensi lain yang kian sukar dimengerti.

Entah mengabadi atau tidak. Namun yang niscaya, membayangkan selama-lamanya itu jelas mengerikan—bagi kita yang diciptakan dari ketiadaan.”

Dan mungkin, pada akhirnya, pertanyaan tentang waktu bukan terutama soal berapa lama kita hidup, melainkan soal di mana kita benar-benar hadir ketika kehidupan sedang berlangsung.