Kabarumat.co – Menaati pemimpin dalam perkara yang baik merupakan bagian dari kewajiban sebagai warga negara. Seorang pemimpin pada dasarnya hadir untuk membawa dan memperjuangkan aspirasi rakyat. Namun, bagaimana jika kebijakan seorang pemimpin justru bertentangan dengan suara dan kepentingan rakyat? Bagaimana jika kekuasaan yang dimiliki malah digunakan untuk membatasi, merampas, atau memangkas hak-hak masyarakat? Dalam kondisi seperti itu, apakah rakyat dibenarkan untuk melakukan pemberontakan?
Tulisan ini mengajak kita kembali melihat keteladanan Nabi Musa ketika berhadapan dengan seorang penguasa yang kejam dan bertindak sewenang-wenang. Sosok penguasa tersebut tentu tidak asing dalam sejarah dan kisah keagamaan: dialah Raja Firaun, simbol kekuasaan yang zalim dan menindas.
Firaun sebenarnya merupakan sebuah gelar atau julukan bagi raja-raja Mesir pada masa lampau. Salah satu sosok Firaun yang dikenal dalam kisah Nabi Musa AS adalah Ramses II. Pada 1881, jasad Ramses II ditemukan. Namun, perlu diketahui bahwa tidak semua jasad Firaun berhasil ditemukan hingga saat ini. Kemudian, pada 1974, seorang ilmuwan asal Prancis, Dr. Maurice Bucaille, bersama timnya meneliti jasad tersebut dan menyimpulkan adanya indikasi bahwa Ramses II meninggal karena tenggelam.
Kini, jasad yang diyakini sebagai Ramses II masih dapat disaksikan di museum di Kairo, Mesir, dalam kondisi yang telah dimumikan dan relatif tetap terjaga.
Al-Qur’an menggambarkan Firaun sebagai sosok penguasa yang melampaui batas dan bertindak sewenang-wenang. Ia seakan lupa bahwa kekuasaan bukanlah milik mutlak manusia, melainkan amanah yang Allah SWT berikan kepada siapa pun yang Dia kehendaki. Allah pula yang berkuasa memberikan dan mencabut kekuasaan tersebut.
Karena itu, kekuasaan semestinya tidak digunakan sesuka hati. Seorang pemimpin memiliki tanggung jawab untuk menjalankan kekuasaannya dengan adil dan tidak menzalimi orang-orang yang berada di bawah kepemimpinannya.
Hal ini sebagaimana ditegaskan Allah SWT dalam QS. Yunus ayat 92:
فَٱلْيَوْمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنْ خَلْفَكَ ءَايَةً ۚ وَإِنَّ كَثِيرًا مِّنَ ٱلنَّاسِ عَنْ ءَايَٰتِنَا لَغَٰفِلُونَ
“Pada hari ini Kami selamatkan jasadmu agar kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang setelahmu. Sungguh, kebanyakan manusia lengah terhadap tanda-tanda kekuasaan Kami.”
Tafsir Surat Yunus Ayat 92
Dalam Tafsir Al-Misbah, Quraish Shihab menjelaskan bahwa ketika Firaun mengalami kebinasaan, Allah menyelamatkan dan mengangkat jasadnya dari laut. Jasad tersebut kemudian menjadi tanda dan pelajaran bagi orang-orang yang sebelumnya mengagungkan bahkan menuhankan Firaun.
Orang-orang yang menyaksikan peristiwa tersebut tentu tidak pernah membayangkan bahwa akhir kekuasaan Firaun akan begitu tragis. Sosok yang sebelumnya memiliki kekuasaan besar dan memaksa kaumnya untuk tunduk kepadanya pada akhirnya justru menemui kematian dalam keadaan yang mengenaskan. Peristiwa ini menjadi bukti bahwa sebesar apa pun kekuasaan yang dimiliki manusia, semuanya tetap berada di bawah kehendak dan kekuasaan Allah SWT.
Namun demikian, tidak semua manusia mampu mengambil pelajaran dari berbagai tanda kekuasaan Allah yang terbentang di alam semesta. Banyak di antara mereka yang melihat berbagai bukti tersebut, tetapi memilih untuk mengabaikannya dan tidak merenungkannya.
Ayat ini juga dapat dipahami sebagai isyarat bahwa jasad Firaun tetap dipelihara agar menjadi pelajaran bagi generasi setelahnya. Dari jasad tersebut, manusia dapat merenungkan betapa tragisnya akhir kehidupan seseorang yang pernah mengklaim dirinya sebagai Tuhan. Ia bahkan memaksa kaum yang berada di bawah kekuasaannya untuk mengakui bahwa tidak ada Tuhan selain dirinya. Pada akhirnya, kesombongan dan kekuasaannya tidak mampu menyelamatkannya dari ketetapan Allah SWT.
Firaun bukan hanya dikenal sebagai seorang penguasa yang zalim, tetapi juga sebagai sosok yang kejam, sombong, dan tidak peduli terhadap keselamatan rakyatnya. Salah satu bentuk kekejamannya terlihat dari kebijakannya membunuh setiap bayi laki-laki yang lahir dari kalangan Bani Israil. Tindakan tersebut menunjukkan betapa sewenang-wenangnya Firaun menggunakan kekuasaannya.
Dalam Tafsir Ibnu Katsir, penjelasan mengenai QS. Yunus ayat 92 juga menegaskan bahwa jasad Firaun diselamatkan agar menjadi bukti bagi Bani Israil bahwa penguasa yang selama ini mereka takuti telah benar-benar binasa. Peristiwa tersebut sekaligus menunjukkan bahwa hanya Allah SWT yang memiliki kuasa mutlak atas kehidupan dan kematian manusia. Sebesar apa pun kekuasaan yang dimiliki seseorang, ia tetap tidak akan mampu bertahan ketika Allah menetapkan kebinasaan baginya.
Menghadapi Kezaliman Tanpa Pemberontakan
Meskipun Nabi Musa AS berhadapan dengan Firaun, seorang penguasa yang dikenal melampaui batas dan melakukan berbagai bentuk kezaliman, Allah SWT tidak memerintahkannya untuk melakukan pemberontakan. Sebaliknya, Nabi Musa AS justru diperintahkan untuk menghadapi Firaun dengan cara yang santun dan penuh kelembutan.
Allah SWT berfirman dalam QS. Taha ayat 43–44:
اذهبا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى
فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ
“Pergilah kamu berdua kepada Firaun. Sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia ingat atau takut.”
Ayat tersebut menunjukkan bahwa dalam menghadapi penguasa yang bahkan telah melampaui batas seperti Firaun, Nabi Musa AS tetap diperintahkan untuk menyampaikan kebenaran dengan perkataan yang baik dan lembut. Perintah tersebut menunjukkan pentingnya memilih cara yang tepat dalam menyampaikan nasihat dan menghadapi kekuasaan yang zalim.
Dalam penafsiran ayat tersebut, Wahbah az-Zuhaili juga menjelaskan sejumlah hikmah yang dapat diambil, di antaranya pentingnya menjalankan perintah Allah, menjauhi tindakan pemberontakan, serta mengedepankan perkataan yang santun dan lembut. Sikap tersebut menjadi metode dakwah yang diajarkan Allah bahkan ketika berhadapan dengan Firaun yang dikenal angkuh dan sombong. Nabi Musa AS, yang dipilih langsung oleh Allah, tetap diperintahkan untuk berbicara kepadanya dengan cara yang baik.
Jika terhadap Firaun saja Allah memerintahkan Nabi Musa AS untuk menyampaikan kebenaran dengan perkataan yang lembut, maka dalam menghadapi pemimpin yang tingkat kezalimannya tidak sampai seperti Firaun, pendekatan yang sama tentu patut menjadi bahan renungan. Kritik dan nasihat kepada pemimpin dapat disampaikan secara tegas, lugas, dan santun tanpa harus ditempuh melalui tindakan pemberontakan.
Dengan demikian, keteladanan Nabi Musa AS mengajarkan bahwa menghadapi kesalahan atau kezaliman tidak selalu harus dilakukan dengan cara yang keras. Kebenaran tetap dapat disampaikan dengan tegas, tetapi dibingkai dengan adab, kelembutan, dan cara yang bijaksana.




















![Ayat al-Nūr dan Jalan Menuju Makrifat: Telaah Sufistik atas QS. al-Nūr [24]: 35](https://kabarumat.co/wp-content/uploads/2026/09/Tasawuf-70kb-280x210.jpg)






Kenali Kami Lebih Dekat
Assalamu Alaikum Akhi Ukhti!! Selamat datang di Kabar Umat
Kami hadir setiap saat untuk menyampaikan berita terpercaya serta wawasan keislaman, keindonesiaan dan kebudayaan hanya buat Akhi Ukhti. Bantu sukseskan Visi kami satukan umat kuatkan masyarakat dengan cara share konten kami kepada teman-teman terdekat Akhi Ukhti !