Flash Sale! to get a free eCookbook with our top 25 recipes.

Melampaui Perbedaan Mazhab: Wafatnya Pemimpin Syiah Iran Memantik Solidaritas Islam Indonesia

Melampaui Perbedaan Mazhab: Wafatnya Pemimpin Syiah Iran Memantik Solidaritas Islam Indonesia
Melampaui Perbedaan Mazhab: Wafatnya Pemimpin Syiah Iran Memantik Solidaritas Islam Indonesia

Kabarumat.co – Konflik antara Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel yang bermula dari serangan udara Israel ke Teheran pada 13 Juni 2025 mencapai titik kulminasi ketika Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, wafat pada 28 Februari 2026. Di Indonesia, peristiwa tersebut turut mengubah dinamika wacana publik. Narasi anti-Syiah yang sebelumnya kerap muncul berangsur mereda dan berganti dengan gelombang simpati serta solidaritas.

Sejumlah organisasi Islam besar, seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Khamenei. Ucapan duka juga datang dari berbagai tokoh nasional, di antaranya Megawati Soekarnoputri dan Jusuf Kalla.

Perhatian publik kemudian bergeser pada sikap pemerintah Indonesia yang semula tidak mengirimkan delegasi resmi untuk menghadiri prosesi pemakaman. Pemerintah hanya menugaskan Duta Besar RI untuk Republik Islam Iran, Rolliansyah Soemirat. Keputusan tersebut memicu perdebatan, terutama setelah beredar informasi bahwa Duta Besar tidak dapat mengikuti prosesi utama karena Iran mengharapkan perwakilan dengan tingkat menteri atau kepala negara.

Di tengah kritik yang berkembang, pemerintah akhirnya mengirimkan Menteri Luar Negeri Sugiono bersama Ketua MPR Ahmad Muzani ke Teheran. Keduanya didampingi Ketua Umum PBNU K.H. Yahya Cholil Staquf, Ketua PP Muhammadiyah Syafiq A. Mughni, serta Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri, Santo Darmosumarto.

Secara langsung, wafatnya Ayatollah Ali Khamenei dinilai tidak membawa dampak signifikan terhadap kehidupan sosial-keagamaan di Indonesia. Masyarakat Muslim pada umumnya mampu membedakan posisi politik luar negeri Iran dengan keberadaan mazhab Syiah sebagai bagian dari khazanah Islam.

Namun demikian, perdebatan yang berkembang justru memperlihatkan kecenderungan baru. Kritik terhadap absennya Presiden Prabowo Subianto maupun lambatnya pengiriman delegasi resmi menunjukkan bahwa sebagian masyarakat Muslim lebih menonjolkan semangat solidaritas sesama umat Islam dibandingkan perbedaan mazhab. Dalam konteks tersebut, sekat antara Sunni dan Syiah tampak tidak lagi menjadi isu utama.

Keberangkatan Delegasi Indonesia: Respons atas Aspirasi Publik atau Perubahan Sikap Diplomatik?

Delegasi Indonesia tiba di Iran pada Jumat, 10 Juli 2026. Dalam kunjungan tersebut, Menteri Luar Negeri Sugiono mengunjungi Mashhad dan mengadakan pertemuan bilateral dengan Menteri Luar Negeri Iran, Seyyed Abbas Araghchi.

Pertemuan itu menghasilkan penegasan komitmen kedua negara untuk memperkuat hubungan bilateral melalui kerja sama yang lebih konkret di berbagai sektor strategis. Selain itu, kedua menteri juga bertukar pandangan mengenai perkembangan situasi kawasan dan internasional serta menegaskan pentingnya penyelesaian konflik melalui dialog, diplomasi, penghormatan terhadap kedaulatan negara, dan hukum internasional.

“Kami menegaskan komitmen untuk terus memperkuat hubungan Indonesia–Iran melalui peningkatan kerja sama yang lebih konkret di berbagai bidang prioritas. Kami juga bertukar pandangan mengenai perkembangan situasi regional dan global, serta menegaskan pentingnya penyelesaian berbagai konflik melalui dialog, diplomasi, penghormatan terhadap kedaulatan negara, dan hukum internasional,” ujar Sugiono.

Kehadiran delegasi Indonesia yang turut melibatkan tokoh-tokoh NU dan Muhammadiyah dipandang sebagai simbol penghormatan bangsa Indonesia kepada rakyat Iran sekaligus membawa pesan perdamaian dan solidaritas antarbangsa.

Selain bertemu Menteri Luar Negeri Iran, delegasi Indonesia juga melakukan pembicaraan dengan Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf. Pertemuan tersebut menegaskan komitmen kedua negara untuk memperkuat diplomasi parlemen, meningkatkan pertukaran antarparlemen, serta mempererat hubungan antarmasyarakat sebagai fondasi kemitraan Indonesia–Iran.

Pentingnya Tingkat Representasi dalam Diplomasi

Pengamat Timur Tengah Universitas Indonesia, Prof. Yon Mahmudi, menilai bahwa penyampaian belasungkawa dalam hubungan antarnegara tidak dapat dipisahkan dari dimensi politik dan ekonomi. Menurutnya, kedua aspek tersebut memang dapat dibahas dalam forum lain, tetapi simbol kehadiran dalam momen penting seperti pemakaman memiliki makna diplomatik yang besar, terlebih di tengah meningkatnya sentimen publik akibat konflik Iran dengan AS dan Israel.

“Untungnya kemudian pemerintah mendengarkan aspirasi dan kritik masyarakat. Pada saat proses pemakaman berlangsung dan Indonesia hanya diwakili oleh Duta Besar, itu tampaknya tidak dapat diterima karena yang diharapkan adalah perwakilan setingkat menteri atau lebih tinggi. Negara-negara Timur Tengah sangat memperhatikan hierarki dalam hubungan diplomatik maupun bisnis internasional,” ujar Mahmudi kepada Alif, Sabtu (10/7).

Pemerintah Iran diketahui secara resmi mengundang Indonesia untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Ayatollah Ali Khamenei di kompleks Makam Imam Reza, Mashhad. Delegasi Indonesia menjadi rombongan resmi pertama yang melakukan penghormatan di makam tersebut.

Kunjungan itu berlangsung ketika situasi kawasan Timur Tengah masih sangat dinamis. Selain memperlihatkan eratnya hubungan Indonesia-Iran yang telah terjalin selama puluhan tahun, kehadiran delegasi juga dipandang sebagai cerminan konsistensi politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif dalam membangun kerja sama dengan berbagai negara sekaligus mendorong perdamaian internasional.

Mahmudi menilai momentum tersebut justru membuka ruang komunikasi yang lebih substansial antara kedua negara.

“Apakah ini akan memperkuat hubungan Indonesia dengan Iran? Saya kira iya. Pertemuan Menlu, Ketua MPR, dan para tokoh ormas dengan pejabat tinggi Iran memberikan kesempatan berdialog lebih panjang. Kehadiran pada pemakaman memang bersifat simbolis, tetapi komitmen Indonesia akhirnya tetap ditunjukkan. Ke depan komunikasi kedua negara justru dapat semakin diperkuat,” katanya.

Indonesia dan Tantangan Politik Luar Negeri di Dunia Islam

Sorotan terhadap pemerintah semakin menguat setelah Presiden Prabowo Subianto menyatakan Indonesia bergabung dalam Board of Peace (BOP), lembaga yang dibentuk Presiden AS Donald Trump untuk mendukung pemulihan Gaza. Di tengah meningkatnya sentimen anti-AS dan anti-Israel akibat konflik di Timur Tengah, kebijakan tersebut memunculkan kritik bahwa pemerintah kurang menunjukkan empati terhadap perjuangan Palestina. Respons pemerintah yang dinilai lambat ketika konflik Iran-AS-Israel pecah turut memperkuat persepsi tersebut.

Meski demikian, Mahmudi menegaskan bahwa Indonesia tetap memiliki posisi strategis di dunia Islam sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia yang menjalankan politik luar negeri bebas dan aktif.

“Semangat bebas aktif harus menjadi dasar setiap keputusan politik luar negeri Indonesia. Kepentingan nasional tetap harus menjadi pertimbangan utama, tanpa berada di bawah tekanan negara adidaya. Prinsip itu juga harus diwujudkan melalui komunikasi yang aktif dengan berbagai negara,” ujarnya.

Di sisi lain, Mahmudi mengingatkan bahwa peningkatan kedekatan Indonesia dengan Iran maupun dukungan terhadap Palestina tetap memiliki konsekuensi geopolitik. Karena itu, diplomasi Indonesia perlu dijalankan secara cermat dengan tetap mengedepankan kepentingan nasional, bukan sekadar mencari panggung di tingkat internasional.

“Hubungan Indonesia yang semakin dekat dengan Iran bisa saja tidak menyenangkan Amerika Serikat. Namun, jika didasarkan pada prinsip politik luar negeri yang bebas dan aktif, Indonesia harus percaya diri menjalankannya. Dalam situasi geopolitik yang semakin kompleks, posisi Indonesia sebagai middle power justru menjadi semakin penting karena banyak negara membutuhkan mitra yang mampu menjembatani berbagai kepentingan,” tambahnya.

Sebagai delegasi resmi pertama yang memberikan penghormatan di makam Ayatollah Ali Khamenei di Imam Reza Shrine, Mashhad, rombongan Indonesia membawa pesan perdamaian, persaudaraan, kepedulian, dan saling menghormati. Melalui akun Instagram resmi Kementerian Luar Negeri RI, Menteri Sugiono menegaskan bahwa kunjungan tersebut merupakan wujud komitmen Indonesia untuk terus menjaga hubungan persahabatan di tengah dinamika kawasan yang semakin kompleks.