kabarumat.co – Kasus Hantavirus yang muncul di kapal pesiar MV Hondius hingga menyebabkan tiga orang meninggal dunia dan lima lainnya dinyatakan terpapar menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat. Menanggapi hal tersebut, epidemiolog Universitas Indonesia, dr. Syahrizal Syarif, meminta masyarakat Indonesia tidak panik karena jenis Hantavirus yang ada di Indonesia berbeda dengan yang ditemukan di wilayah Amerika. Ia menjelaskan, Hantavirus terdiri dari beberapa varian dengan efek yang berbeda pada tubuh manusia. Ada jenis yang menyerang paru-paru, sementara jenis lainnya dapat memengaruhi fungsi ginjal.
“Untuk Indonesia, situasi Hantavirus sebenarnya tidak terlalu mengkhawatirkan. Memang penyakit ini tergolong baru muncul di Indonesia, sekitar tahun 2015. Yang perlu dipahami, Hantavirus memiliki dua jenis utama,” kata Syahrizal, Senin (11/5/2026).
Ia menerangkan, jenis Hantavirus yang menyerang paru-paru umumnya ditemukan di kawasan Amerika dan Amerika Selatan. Virus tersebut ditularkan melalui tikus serta dapat memicu gangguan serius pada sistem pernapasan. Sementara itu, jenis Hantavirus yang ditemukan di Indonesia lebih banyak menyerang ginjal.
“Ada jenis yang menyerang paru-paru dan ada juga yang menyerang ginjal. Hantavirus yang menyerang paru-paru biasanya berasal dari tikus di Amerika dan Amerika Selatan. Sedangkan di Indonesia, jenis yang ditemukan cenderung menyerang ginjal,” jelasnya.
Meski sama-sama berasal dari tikus, menurut Syahrizal pola penularan kedua jenis virus tersebut berbeda. Ia juga menyinggung kasus di kapal pesiar MV Hondius yang diduga memungkinkan terjadinya penularan antarmanusia, mengingat ada pasangan suami istri yang sama-sama terinfeksi.
“Berdasarkan temuan di kapal pesiar tersebut, karena ada pasangan suami istri yang sama-sama terinfeksi, besar kemungkinan virus itu dapat menular dari manusia ke manusia. Sedangkan jenis Hantavirus yang ada di Indonesia tidak menular antarmanusia,” katanya.
Syahrizal juga menekankan bahwa masyarakat tidak perlu terlalu cemas karena jumlah kasus Hantavirus di Indonesia masih tergolong rendah. Dalam dua tahun terakhir, kasus yang tercatat disebut hanya sekitar 23 kasus.
“Masyarakat Indonesia tidak perlu terlalu khawatir karena jenis Hantavirusnya berbeda. Selama dua tahun terakhir, jumlah kasusnya hanya sekitar 23, jadi sangat sedikit,” ujarnya.
Syahrizal menjelaskan, gejala Hantavirus yang ditemukan di Indonesia umumnya meliputi demam, nyeri tubuh, rasa lemas, hingga gangguan pada ginjal. Pelaksana Tugas (Plt) Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) itu pun mengingatkan masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan rumah, terutama gudang atau area yang berpotensi menjadi tempat berkembangnya tikus.
Ia juga menyarankan masyarakat tidak langsung menyapu kotoran tikus karena partikel tersebut bisa berubah menjadi debu dan berisiko terhirup ke saluran pernapasan. Menurutnya, penggunaan cairan disinfektan serta masker merupakan langkah sederhana tetapi penting untuk mengurangi risiko penularan.
“Penyakit ini sangat berkaitan dengan kebersihan, terutama jika di rumah terdapat gudang yang menjadi sarang tikus. Karena itu, saat membersihkan gudang sebaiknya memakai masker agar penyakit tidak masuk ke dalam tubuh,” tutupnya.
Kenali Kami Lebih Dekat
Assalamu Alaikum Akhi Ukhti!! Selamat datang di Kabar Umat
Kami hadir setiap saat untuk menyampaikan berita terpercaya serta wawasan keislaman, keindonesiaan dan kebudayaan hanya buat Akhi Ukhti. Bantu sukseskan Visi kami satukan umat kuatkan masyarakat dengan cara share konten kami kepada teman-teman terdekat Akhi Ukhti !