kabarumat.co – Di tengah pesatnya perkembangan dunia digital, media sosial kini telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Hampir segala sesuatu bisa dibagikan dan diakses dengan mudah—mulai dari berita penting hingga urusan pribadi yang seharusnya bersifat privat. Aktivitas sehari-hari, termasuk ibadah, sering kali diunggah dalam bentuk foto, video, atau cerita. Sebagian orang melakukannya dengan niat menyebarkan semangat dan inspirasi, namun tanpa disadari, ada pula yang menjadikannya ajang pamer kebaikan demi mendapatkan pengakuan.
Fenomena ini dapat menumbuhkan penyakit hati bernama sum’ah, kerabat dekat dari riya’ dan ujub. Sum’ah muncul ketika seseorang menampilkan atau menceritakan amalnya dengan tujuan agar didengar dan dipuji orang lain. Sekilas tampak sepele, namun jika dibiarkan, ia bisa mengikis keikhlasan dan menghapus nilai pahala dari amal tersebut.
Secara etimologis, istilah sum’ah berasal dari kata sami’a yang berarti “mendengar”. Dalam ‘Umdatul Qari, dijelaskan bahwa:
وَمعنى السُّمْعَةِ التَّنْوِيهُ بِالْعَمَلِ وَتَشْهِيرُهُ لِيَرَاهُ النَّاسُ وَيَسْمَعُوا بِهِ
Artinya: “Sum’ah adalah tindakan menonjolkan dan menyebarkan amal perbuatan agar dilihat dan didengar oleh orang lain.”
(Badruddin al-‘Aini, ‘Umdatul Qari Syarh Shahih al-Bukhari, [Beirut: Dar Ihyaut Turats al-‘Arabi, t.t.], juz XXIII, hlm. 86).
Abu Thalib al-Makki dalam Qutul Qulub menjelaskan bahwa sum’ah berakar dari dorongan hawa nafsu dan kelemahan jiwa. Ia menulis:
كان العبد يسمع بعمله غير الله عزّ وجلّ…
“Seorang hamba memperdengarkan amalnya kepada selain Allah, berharap dipuji oleh makhluk. Karena dikuasai hawa nafsu dan lemahnya jiwa, ia pun telah menyekutukan Allah dalam amalnya.”
(Qutul Qulub, [Beirut: Darul Kutub al-‘Ilmiyyah, 2005], juz I, hlm. 113).
Perilaku memperdengarkan amal demi validasi manusia menunjukkan hilangnya keikhlasan. Rasulullah ﷺ telah memberi peringatan keras dalam hadis sahih riwayat Bukhari dan Muslim:
مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللهُ بِهِ، وَمَنْ رَاءَى رَاءَى اللهُ بِهِ
“Barang siapa memperdengarkan amalnya agar dipuji, maka Allah akan memperdengarkan (aib) amalnya. Dan siapa yang berbuat riya’, maka Allah akan menampakkan (niat buruk) amalnya.”
Riya’ dan sum’ah memiliki akar yang sama—keinginan untuk dipuji manusia. Bedanya, riya’ berkaitan dengan penglihatan (ingin dilihat), sedangkan sum’ah berkaitan dengan pendengaran (ingin didengar). Seperti dijelaskan oleh Syekh Ibnu Hajar al-‘Asqalani:
الرياء مشتق من الرؤية… والسمعة مشتقة من السمع…
“Riya’ berasal dari kata ru’yah (melihat), yakni menampakkan ibadah agar dilihat orang lain. Sedangkan sum’ah berasal dari sami’a (mendengar), memiliki makna serupa namun terkait dengan pendengaran.”
(Fathul Bari, [Beirut: Darul Ma‘rifat, 1379 H], juz XI, hlm. 336).
Dalam konteks masa kini, riya’ dan sum’ah sering muncul dalam bentuk soft flexing—memamerkan aktivitas ibadah seperti umrah, sedekah, atau kegiatan sosial di media sosial. Meskipun terkadang diniatkan untuk memberi inspirasi, tak jarang terselip rasa bangga ketika mendapat pujian. Di sinilah batas tipis antara syiar dan sum’ah.
Namun, tidak semua bentuk penampilan amal termasuk sum’ah. Allah ﷻ berfirman:
وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
“Adapun terhadap nikmat Tuhanmu, maka nyatakanlah (sebagai bentuk syukur).”
(QS. Ad-Dhuha [93]: 11)
Menampakkan nikmat Allah, termasuk amal saleh, bisa menjadi bentuk syukur jika diniatkan dengan benar. Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menegaskan:
“Dalam hadis disunnahkan untuk menyembunyikan amal saleh, namun terkadang diperbolehkan menampakkannya bila dapat menjadi teladan bagi orang lain.”
(Fathul Bari, juz XI, hlm. 337).
Artinya, niat menjadi faktor penentu utama. Flexing ibadah bisa bernilai pahala jika diniatkan untuk memberi inspirasi dan mengajak pada kebaikan, tetapi bisa berubah menjadi dosa jika tujuannya hanyalah mencari pujian. Hanya diri sendiri yang benar-benar tahu niat di balik amal yang dilakukan.
Di era budaya pamer dan kebutuhan akan validasi digital, menjaga keikhlasan menjadi ujian berat. Media sosial mendorong kita menampilkan “versi terbaik” diri, sehingga mudah terjebak dalam pencitraan. Karena itu, penting untuk mengingat pesan Rasulullah ﷺ bahwa amal yang tulus adalah amal yang dilakukan semata-mata karena Allah, bukan karena pandangan manusia.
Flexing ibadah tidak selalu tercela; ia bisa menjadi sarana dakwah jika diniatkan untuk menebar kebaikan. Namun, jika tujuan utamanya adalah pujian, itulah sum’ah yang harus dihindari. Maka tanyakanlah pada hati: apakah kita ingin dilihat manusia, atau ingin dilihat Allah?
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Kenali Kami Lebih Dekat
Assalamu Alaikum Akhi Ukhti!! Selamat datang di Kabar Umat
Kami hadir setiap saat untuk menyampaikan berita terpercaya serta wawasan keislaman, keindonesiaan dan kebudayaan hanya buat Akhi Ukhti. Bantu sukseskan Visi kami satukan umat kuatkan masyarakat dengan cara share konten kami kepada teman-teman terdekat Akhi Ukhti !