kabarumat.co – Manusia adalah makhluk yang dianugerahi akal dan nafsu. Ketika akal digunakan oleh manusia secara optimal, dirinya dapat mencapai derajat yang paling mulia. Namun, jika nafsu yang justru menguasai, maka derajat kemanusiaannya akan merosot tajam, bahkan bisa lebih rendah daripada binatang.
Keberadaan nafsu dalam diri manusia membuat mereka terdorong untuk memiliki berbagai hal yang mendukung kehidupan dan memuaskan hasrat duniawi. Pada dasarnya, dorongan ini tidaklah salah. Akan tetapi, jika nafsu mengambil alih kendali akal, manusia akan melupakan tujuan hidup yang hakiki dan hanya terpaku pada kesenangan duniawi, seolah-olah kebahagiaan sejati terletak sepenuhnya pada hal-hal materiil. Inilah yang dikenal dengan istilah hedonisme.
Secara umum, hedonisme merupakan pandangan hidup yang menempatkan kenikmatan dan kepuasan duniawi sebagai tujuan utama kehidupan. Individu dengan pandangan ini cenderung terfokus pada hal-hal yang bersifat materi.
Setiap tindak-tanduknya selalu diarahkan untuk mengejar kekayaan dan hal-hal yang bersifat duniawi semata. Karena perhatiannya hanya tertuju pada aspek materi, mereka jarang sekali—bahkan mungkin tidak pernah—memperhatikan kebutuhan spiritual, padahal sisi rohani sebenarnya jauh lebih penting daripada kebutuhan jasmani.
Rasa cinta manusia terhadap harta dan segala hal yang bersifat materi memang muncul secara alami dan tidak bisa disangkal. Sebab, kecenderungan ini merupakan bagian dari naluri dasar manusia. Hal ini juga ditegaskan dalam firman Allah SWT dalam Surat Ali ‘Imran ayat 14.
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوٰتِ مِنَ النِّسَاۤءِ وَالْبَنِيْنَ وَالْقَنَاطِيْرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْاَنْعَامِ وَالْحَرْثِۗ ذٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۗ وَاللّٰهُ عِنْدَهٗ حُسْنُ الْمَاٰبِ
Artinya: “Dijadikan indah bagi manusia kecintaan pada aneka kesenangan yang berupa perempuan, anak-anak, harta benda yang bertimbun tak terhingga berupa emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik.” (QS. Ali ‘Imran [14)
Ayat tersebut menjelaskan bahwa dalam diri setiap manusia telah tertanam rasa cinta terhadap berbagai hal yang menimbulkan syahwat. Di antaranya adalah wanita, keturunan, harta, dan sebagainya. Ini menunjukkan bahwa secara fitrah, manusia memang menyukai kenikmatan duniawi yang bersifat material.
Menurut al-Zamakhsyari, ada dua alasan mengapa hal-hal tersebut disebut sebagai asy-syahwati atau al-musytahât (hal-hal yang diinginkan dengan syahwat). Pertama, karena semua yang disebut dalam ayat itu merupakan hal-hal yang sangat diminati oleh manusia, sebab mereka meyakini bahwa kebahagiaan dan kenikmatan hidup terletak pada hal-hal tersebut.
Kedua, istilah syahwat sendiri mengandung makna negatif. Oleh karena itu, penyebutan istilah ini dalam ayat bertujuan sebagai peringatan agar manusia bersikap waspada terhadap godaan-godaan duniawi tersebut. (Lihat: Al-Zamakhsyari, Al-Kasysyaf, [Beirut, Darul Kitab al-‘Arabi, 1407 H.], juz 1, hlm. 342)
Pada dasarnya, mengejar kenikmatan dunia tidak dilarang selama masih dalam batas yang wajar. Sebab, tak bisa dipungkiri bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki kebutuhan fisik dan material untuk bertahan hidup. Oleh karena itu, wajar jika manusia mendambakan materi karena memang mereka memerlukannya.
Dalam hal ini, Allah swt, berfirman:
قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِيْنَةَ اللّٰهِ الَّتِيْٓ اَخْرَجَ لِعِبَادِهٖ وَالطَّيِّبٰتِ مِنَ الرِّزْقِۗ قُلْ هِيَ لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَّوْمَ الْقِيٰمَةِۗ كَذٰلِكَ نُفَصِّلُ الْاٰيٰتِ لِقَوْمٍ يَّعْلَمُوْنَ
Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Siapakah yang mengharamkan perhiasan (dari) Allah yang telah Dia sediakan untuk hamba-hamba-Nya dan rezeki yang baik-baik? Katakanlah, ‘Semua itu adalah untuk orang-orang yang beriman (dan juga tidak beriman) dalam kehidupan dunia, (tetapi ia akan menjadi) khusus (untuk mereka yang beriman saja) pada hari Kiamat.’” Demikianlah Kami menjelaskan secara terperinci ayat-ayat itu kepada kaum yang mengetahui.” (QS. Al-A’raf [32)
Islam adalah agama yang menyeluruh, yang tidak hanya mengatur perkara akhirat tetapi juga memperhatikan urusan dunia sebagai bagian dari tujuannya. Oleh karena itu, mencari kebutuhan hidup yang bersifat duniawi tidaklah dilarang, karena dorongan terhadap pemenuhan materi memang menjadi salah satu cara agar kehidupan di dunia dapat terus berlangsung. Yang dilarang dalam ajaran Islam adalah kecintaan terhadap dunia yang berlebihan, hingga membuat seseorang lalai terhadap kewajiban dan tujuan akhiratnya.
Al-Qur’an secara tegas melarang perilaku hedonis, yakni gaya hidup yang semata-mata berfokus pada pencarian kenikmatan duniawi. Orang-orang dengan pola hidup seperti ini menghabiskan seluruh waktu dan energi mereka untuk mengumpulkan kekayaan, karena mereka meyakini bahwa harta dan kenikmatan dunia akan terus mereka nikmati tanpa akhir. Allah Swt. pun memperingatkan hal ini dalam firman-Nya.
أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ (1) حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ (2) كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ (3) ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ (4) كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ (5) لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ (6) ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ (7) ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ (8)
Artinya: “Berbangga-bangga dalam memperbanyak (dunia) telah melalaikanmu [1]. sampai kamu masuk ke dalam kubur [2]. Sekali-kali tidak! Kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu) [3]. Sekali-kali tidak (jangan melakukan itu)! Kelak kamu akan mengetahui (akibatnya) [4]. Sekali-kali tidak (jangan melakukan itu)! Sekiranya kamu mengetahui dengan pasti, (niscaya kamu tidak akan melakukannya) [5]. Pasti kamu benar-benar akan melihat (neraka) Jahim [6]. Kemudian, kamu pasti benar-benar akan melihatnya dengan ainulyakin [7]. Kemudian, kamu pasti benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang megah di dunia itu) [8].” (QS. Al-Takatsur [1-8)
Ayat tersebut menjelaskan bahwa upaya mengejar kekayaan dan kenikmatan duniawi sering kali membuat manusia lalai terhadap kehidupan akhirat. Menurut al-Syaukani, ayat ini menjadi bukti bahwa terlalu tenggelam dalam urusan dunia adalah sikap yang dipandang buruk dalam syariat. Manusia berlomba-lomba mengejar kenikmatan dunia, lalu merasa bangga dengan pencapaian yang diraih, dan hal itu akan terus berlangsung hingga kematian datang menjemput. (As-Syaukani, Fathul Qadir, [Beirut, Dar Ibnu Katsir, 1414 H.], juz 5, hlm. 597)
Dari penjelasan ini dapat disimpulkan bahwa hedonisme merupakan sikap dan pandangan hidup yang tidak dibenarkan dalam Islam. Namun, ini tidak berarti bahwa Islam melarang manusia untuk merasakan kenikmatan dunia. Yang dilarang adalah ketika seseorang terlalu sibuk mengejar dunia hingga melupakan tujuan akhiratnya. Wallahu a‘lam.
Kenali Kami Lebih Dekat
Assalamu Alaikum Akhi Ukhti!! Selamat datang di Kabar Umat
Kami hadir setiap saat untuk menyampaikan berita terpercaya serta wawasan keislaman, keindonesiaan dan kebudayaan hanya buat Akhi Ukhti. Bantu sukseskan Visi kami satukan umat kuatkan masyarakat dengan cara share konten kami kepada teman-teman terdekat Akhi Ukhti !