Nabi Muhammad: Utusan Allah dan Seorang Manusia dalam Perspektif Surah Al-Kahfi Ayat 110

Nabi Muhammad: Utusan Allah dan Seorang Manusia dalam Perspektif Surah Al-Kahfi Ayat 110
Nabi Muhammad: Utusan Allah dan Seorang Manusia dalam Perspektif Surah Al-Kahfi Ayat 110

Kabarumat.co – Sebagai seorang nabi dan rasul, Nabi Muhammad SAW menempati kedudukan yang sangat mulia di hadapan Allah SWT. Beliau merupakan penerima wahyu, memiliki akhlak yang luhur, serta menjadi figur teladan bagi seluruh umat Islam. Meskipun demikian, di balik kedudukan dan kemuliaannya sebagai utusan Allah, Rasulullah tetap merupakan seorang manusia yang menjalani kehidupan dengan berbagai pengalaman sebagaimana manusia pada umumnya. Beliau merasakan lapar dan lelah, mengalami kesedihan, serta pernah menderita sakit akibat luka yang dialaminya. Dalam kehidupan sehari-hari, beliau juga menjalankan kehidupan berkeluarga, membantu pekerjaan istrinya, dan menghadapi beragam persoalan kehidupan. Pemahaman terhadap sisi kemanusiaan Rasulullah menjadi penting agar keteladanan beliau dapat dipahami secara lebih dekat dan kontekstual. Hal ini karena perhatian yang terlalu besar terhadap kemuliaan dan keistimewaan beliau terkadang membuat aspek kehidupan Rasulullah sebagai seorang manusia kurang mendapat perhatian.

Dalam Surah Al-Kahfi ayat 110, Allah SWT memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk menyampaikan kepada umatnya bahwa beliau pada hakikatnya adalah seorang manusia sebagaimana manusia lainnya. Hal yang membedakan beliau adalah kedudukannya sebagai nabi dan rasul yang memperoleh wahyu dari Allah SWT. Wahyu tersebut menjadi petunjuk sekaligus landasan dalam menjalankan tugas kerasulan dan menyampaikan ajaran Allah kepada umat manusia. Allah SWT berfirman:

قُلْ اِنَّمَآ اَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوْحٰٓى اِلَيَّ اَنَّمَآ اِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۚ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاۤءَ رَبِّهٖ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَّلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهٖٓ اَحَدًاࣖ

Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu yang diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa.’ Siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya hendaklah melakukan amal saleh dan tidak menjadikan apa pun dan siapa pun sebagai sekutu dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 110)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa Nabi Muhammad SAW memiliki dimensi kemanusiaan sekaligus kedudukan khusus sebagai penerima wahyu. Pernyataan bahwa beliau adalah manusia seperti manusia lainnya menegaskan sisi kemanusiaan Rasulullah, sedangkan wahyu yang diterimanya menjadi pembeda sekaligus dasar pelaksanaan tugas kerasulannya. Pada bagian akhir ayat, Allah SWT juga menegaskan pentingnya beramal saleh dan menjaga kemurnian tauhid dengan tidak menyekutukan-Nya dalam beribadah.

Memahami Sisi Kemanusiaan Rasulullah

Dalam ayat tersebut, Allah SWT menggunakan ungkapan بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ (basyarun mitslukum) yang bermakna “seorang manusia seperti kalian”. Ungkapan tersebut menunjukkan bahwa Nabi Muhammad SAW memiliki karakteristik dan kebutuhan manusiawi sebagaimana manusia pada umumnya. Beliau tetap membutuhkan makanan, minuman, dan waktu untuk beristirahat, serta mengalami berbagai kondisi dan perasaan yang lazim dialami oleh manusia dalam kehidupan sehari-hari.

Pemahaman mengenai sisi kemanusiaan Rasulullah SAW dapat membantu umat Islam melihat keteladanan beliau secara lebih dekat dalam kehidupan sehari-hari. Setiap ajaran yang disampaikan kepada umat tidak hanya beliau ucapkan, tetapi juga beliau praktikkan secara langsung. Bahkan, dalam beberapa keadaan, Rasulullah SAW menghadapi kesulitan yang lebih berat dibandingkan dengan sebagian sahabatnya.

Syekh Mutawalli Asy-Sya’rawi dalam kitab Khawatir Haulal Qur’an menjelaskan bahwa penegasan mengenai kemanusiaan Nabi Muhammad SAW memiliki hubungan yang erat dengan kedudukan beliau sebagai uswah atau teladan bagi umat. Beliau menjelaskan:

(قُلْ) أي: يا محمد، وهذا كلام جديد ﴿قُلْ إِنَّمَآ أَنَاْ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ …﴾ [الكهف: ١١٠] يعني: خُذُوني أُسْوة، فأنا لست ملَكًا إنما أنا بشر مثلكم، وحملتُ نفسي على المنهج الذي أطالبكم به، فأنا لا آمركم بشيء وأنا عنه بنجْوَى. بل بالعكس كان ﷺ َ أقلَّ الناس حَظًّا من مُتَعِ الحياة وزينتها. فكان في المؤمنين به الأغنياء الذين يتمتعون بأطايب الطعام ويرتدُونَ أغْلى الثياب في حين كان ﷺ َ يمر عليه الشهر والشهران دون أنْ يُوقَد في بيته نار لطعام، وكان يرتدي المرقّع من الثياب، كما أن أولاده لا يرثونه، كما يرث باقي الناس، ولا تحل لهم الزكاة كغيرهم، فحُرِموا من حَقٍّ تمتع به الآخرون. لذلك كان ﷺ َ أدنى الأسوات أي: أقل الموجودين في مُتع الحياة وزُخْرفها، وهذا يلفتنا إلى أن الرسالة لم تُجْرِ لمحمد نفعًا دنيويًا، ولم تُميِّزه عن غيره في زَهْرة الدنيا الفانية، إنما مَيَّزتْه في القيم والفضائل.

Artinya: “(Katakanlah) artinya: Wahai Muhammad. Dan ini merupakan kalimat/pembahasan baru. ‘Katakanlah: Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu…[QS. Al-Kahf: 110], maknanya: Jadikanlah aku sebagai teladan (uswah). Aku bukanlah seorang malaikat, melainkan manusia seperti kalian, dan aku telah menundukkan diriku untuk meniti jalan/manhaj yang aku tuntut dari kalian. Aku tidak pernah memerintahkan sesuatu kepada kalian sementara aku sendiri menghindar darinya. Bahkan sebaliknya, Rasulullah SAW adalah orang yang paling sedikit menikmati kenikmatan dan perhiasan dunia. Di antara orang-orang yang beriman kepada beliau, terdapat orang-orang kaya yang menikmati makanan-makanan lezat dan mengenakan pakaian-pakaian termahal, sementara beliau SAW pernah melewati satu hingga dua bulan tanpa ada api yang dinyalakan di rumahnya untuk memasak makanan. Beliau mengenakan pakaian yang bertambal, anak-anak/keturunan beliau tidak mewarisi hartanya sebagaimana manusia lainnya, dan zakat pun tidak halal bagi mereka. Mereka diharamkan dari hak yang justru dinikmati oleh orang lain. Oleh karena itu, beliau SAW adalah sosok teladan yang paling bersahaja (adnā al-aswāt), yakni yang paling sedikit mengambil bagian dari kenikmatan dan kemewahan dunia. Hal ini menyadarkan kita bahwa risalah kenabian sama sekali tidak memberikan keuntungan materiil duniawi bagi Muhammad, serta tidak membedakan beliau dari yang lain dalam hal kemewahan dunia yang fana. Risalah tersebut hanya membedakan dan mengunggulkan beliau dalam hal nilai-nilai (al-qiyam) dan keutamaan-keutamaan (al-fadhail).” (Khawatir Haulal Qur’an, [Kairo, Akhbarul Yaum: 1997 M], jilid XV, hlm. 9012).

Penjelasan Syekh Asy-Sya’rawi tersebut menunjukkan bahwa Rasulullah SAW tidak hanya menyampaikan ajaran kepada umatnya, tetapi juga menerapkannya dalam kehidupan pribadi. Keteladanan beliau tercermin melalui cara hidup yang sederhana, kesabaran dalam menghadapi kesulitan, serta kesungguhan dalam menjalankan tugas kerasulan. Rasulullah SAW bahkan mengalami berbagai kondisi yang terkadang lebih berat daripada keadaan yang dialami oleh sebagian sahabatnya.

Oleh sebab itu, kajian mengenai kehidupan Rasulullah SAW tidak cukup hanya melihat kedudukan beliau sebagai nabi dan rasul, tetapi juga perlu memperhatikan berbagai pengalaman manusiawi yang beliau alami. Pengalaman tersebut memberikan gambaran tentang bagaimana Rasulullah SAW menghadapi berbagai ujian kehidupan dengan kesabaran, keteguhan, dan tanggung jawab. Dengan demikian, sisi kemanusiaan beliau dapat menjadi bagian penting dalam memahami keteladanan Rasulullah SAW secara lebih utuh.

1. Rasulullah SAW Pernah Mengalami Kelaparan

Salah satu bentuk pengalaman manusiawi yang pernah dialami Rasulullah SAW adalah rasa lapar. Sejumlah riwayat menggambarkan bahwa beliau menjalani kehidupan dengan penuh kesederhanaan dan pada waktu-waktu tertentu menghadapi keterbatasan makanan. Kondisi tersebut salah satunya terjadi ketika kaum Muslimin melaksanakan penggalian parit dalam peristiwa Perang Khandaq.

Pada saat itu, para sahabat mengadukan keadaan mereka yang mengalami kelaparan kepada Rasulullah SAW. Mereka bahkan menunjukkan batu yang diikatkan pada perut sebagai upaya untuk menahan rasa lapar. Namun, keadaan yang dialami Rasulullah SAW ternyata tidak lebih ringan. Ketika para sahabat memperlihatkan satu batu yang mereka ikatkan pada perut masing-masing, Rasulullah SAW justru menunjukkan bahwa beliau mengikatkan dua batu pada perutnya. Peristiwa tersebut menggambarkan bahwa Rasulullah SAW juga mengalami keterbatasan dan penderitaan sebagaimana manusia pada umumnya, bahkan dalam kondisi tertentu beliau merasakan kesulitan yang lebih berat daripada orang-orang di sekitarnya.

Peristiwa tersebut juga diriwayatkan oleh sahabat Abu Thalhah RA. Ia menceritakan:

عَنْ أَبِي طَلْحَةَ، قَالَ شَكَوْنَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم الْجُوعَ وَرَفَعْنَا عَنْ بُطُونِنَا عَنْ حَجَرٍ حَجَرٍ فَرَفَعَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَنْ بَطْنِهِ عَنْ حَجَرَيْنِ

Artinya: “Dari Abu Thalhah RA, ia berkata: ‘Kami mengadukan rasa lapar kepada Rasulullah SAW, lalu kami menyingkap kain dari perut kami dan memperlihatkan batu yang digunakan sebagai ganjalan pada perut masing-masing. Rasulullah SAW kemudian menyingkap kain dari perut beliau, dan ternyata beliau menggunakan dua buah batu sebagai ganjalan.’” (HR. At-Tirmidzi).

Riwayat tersebut menggambarkan kondisi sulit yang dialami Rasulullah SAW bersama para sahabat. Dalam keadaan lapar, beliau tetap menjalankan aktivitas dan tanggung jawabnya tanpa meninggalkan para sahabat yang sedang menghadapi kesulitan. Peristiwa ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW memiliki pemahaman yang mendalam terhadap penderitaan yang dialami orang-orang di sekitarnya karena beliau sendiri pernah merasakan keadaan serupa. Beliau tidak hanya memberikan perintah atau nasihat, tetapi turut berada di tengah-tengah para sahabat dan merasakan kesulitan yang mereka alami.

2. Rasulullah SAW Pernah Mengalami Luka dalam Peperangan

Pengalaman manusiawi Rasulullah SAW juga terlihat dari berbagai penderitaan fisik yang beliau alami. Salah satunya terjadi dalam Perang Uhud. Dalam peristiwa tersebut, Rasulullah SAW mengalami luka pada bagian kepala dan wajah. Gigi seri beliau juga mengalami patah akibat serangan yang dilakukan oleh pihak musuh. Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa Rasulullah SAW, sebagaimana manusia lainnya, dapat merasakan sakit akibat luka fisik.

Peristiwa tersebut diriwayatkan oleh Anas bin Malik RA:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كُسِرَتْ رَبَاعِيَتُهُ يَوْمَ أُحُدٍ وَشُجَّ فِي رَأْسِهِ فَجَعَلَ يَسْلُتُ الدَّمَ عَنْهُ وَيَقُولُ ‏ “‏كَيْفَ يُفْلِحُ قَوْمٌ شَجُّوا نَبِيَّهُمْ وَكَسَرُوا رَبَاعِيَتَهُ وَهُوَ يَدْعُوهُمْ إِلَى اللَّهِ ‏”

Artinya: “Bahwasanya Rasulullah SAW patah gigi serinya pada hari Perang Uhud dan mengalami luka pada kepala. Beliau kemudian mengusap darah yang mengalir seraya bersabda, ‘Bagaimana mungkin suatu kaum akan memperoleh keberuntungan setelah mereka melukai nabi mereka dan mematahkan gigi serinya, padahal ia menyeru mereka kepada Allah?’” (HR. Muslim).

Hadis tersebut memberikan gambaran mengenai beratnya perjuangan Rasulullah SAW dalam menyampaikan risalah Islam. Dalam menjalankan tugasnya, beliau tidak hanya menghadapi penolakan secara lisan, tetapi juga berbagai ancaman dan tindakan kekerasan yang membahayakan keselamatannya. Luka yang dialaminya dalam Perang Uhud menjadi salah satu bukti bahwa perjalanan dakwah Rasulullah SAW diwarnai dengan berbagai ujian dan penderitaan. Hal ini menunjukkan bahwa tugas kerasulan tidak selalu berlangsung dalam keadaan mudah, melainkan membutuhkan kesabaran, keteguhan, dan pengorbanan.

3. Rasulullah SAW Pernah Mengalami Kesedihan

Selain mengalami rasa lapar, kelelahan, dan penderitaan fisik, Rasulullah SAW juga merasakan kesedihan sebagaimana manusia pada umumnya. Dalam perjalanan hidupnya, beliau mengalami kehilangan orang-orang yang dicintainya, di antaranya istri beliau, Khadijah RA, serta putranya, Ibrahim. Ketika Ibrahim meninggal dunia, Rasulullah SAW menunjukkan kesedihannya dengan menangis.

Tangisan Rasulullah SAW tersebut sempat membuat Abdurrahman bin Auf RA bertanya mengenai keadaan beliau. Rasulullah kemudian menjelaskan bahwa tangisan tersebut merupakan wujud kasih sayang. Beliau juga mengajarkan bahwa kesedihan dan air mata merupakan bagian dari fitrah manusia. Seseorang diperbolehkan merasakan kesedihan dan menangis ketika kehilangan orang yang dicintai, selama ucapan dan tindakannya tetap berada dalam batas yang diridhai Allah SWT.

Peristiwa tersebut diriwayatkan oleh Anas bin Malik RA:

قال أنس – رضي الله عنه -: دخلنا معَ رسولِ الله على أبي سَيْفٍ القَيْنِ – وكان ظِئرًا لإبراهيمَ – فأخذَ رسولُ الله إبراهيمَ فَقَبَّلَهُ وشمَّه، ثم دخلنا عليهِ بعدَ ذلكَ، وإبراهيمُ يجودُ بنفسه، فجعلَتْ عينا رسولِ الله تَذْرِفَانِ، فقالَ له عبدُ الرحمن بن عَوْفٍ: وأنتَ يا رسولَ الله؟ فقالَ: «يا ابن عوفٍ! إنها رحمةٌ»، ثم أَتْبَعَها بأُخرى فقال: «إن العينَ تَدمعُ، والقلبُ يحزنُ، ولا نقولُ إلا ما يُرضي ربنا، وإنا لفِراقِكَ يا إبراهيم لَمَحْزُونون».

Artinya: “Anas RA berkata: Kami masuk bersama Rasulullah SAW ke rumah Abu Saif al-Qayn, yang merupakan suami dari ibu susuan Ibrahim, putra Rasulullah. Rasulullah kemudian mengambil Ibrahim, menciumnya, dan mencium aromanya. Setelah itu, kami kembali mendatanginya ketika Ibrahim sedang menghadapi sakaratul maut. Kedua mata Rasulullah pun meneteskan air mata. Abdurrahman bin Auf berkata, ‘Engkau juga menangis, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Wahai Ibnu Auf, sesungguhnya ini adalah kasih sayang.’ Kemudian beliau bersabda, ‘Sesungguhnya mata meneteskan air mata, hati bersedih, tetapi kami tidak mengatakan kecuali sesuatu yang diridhai Tuhan kami. Sungguh, kami bersedih atas perpisahan denganmu, wahai Ibrahim.’” (HR. Bukhari).

Hadis tersebut menunjukkan bagaimana Rasulullah SAW menghadapi kehilangan orang yang beliau cintai. Beliau tidak menyangkal rasa sedih yang muncul dan tidak pula menahan air matanya. Namun, di tengah kesedihan tersebut, Rasulullah tetap menjaga perkataan dan sikapnya agar tidak bertentangan dengan ketentuan dan keridaan Allah SWT. Sikap tersebut menjadi teladan bahwa menangis dan merasakan kesedihan merupakan sesuatu yang wajar ketika seseorang kehilangan orang yang dicintainya. Yang perlu dijaga adalah bagaimana seseorang mengendalikan ucapan dan perilakunya agar tetap berada dalam batas yang sesuai dengan ajaran agama.

Mengapa Sisi Kemanusiaan Rasulullah SAW Perlu Dipahami?

Berbagai peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa Rasulullah SAW mengalami sejumlah keadaan yang juga menjadi bagian dari kehidupan manusia pada umumnya. Beliau pernah merasakan lapar, mengalami penderitaan akibat luka, serta merasakan kesedihan ketika kehilangan orang yang dicintainya. Memahami pengalaman tersebut dapat membantu umat Islam mengenal Rasulullah SAW secara lebih dekat sekaligus memahami bagaimana beliau menghadapi berbagai persoalan kehidupan.

Setidaknya terdapat dua pelajaran penting yang dapat diambil dari pemahaman terhadap sisi kemanusiaan Rasulullah SAW.

1. Rasulullah SAW Memahami Kesulitan yang Dialami Manusia

Rasulullah SAW dikenal memiliki kepedulian yang besar terhadap orang-orang yang mengalami kesulitan. Kepedulian tersebut tidak terlepas dari pengalaman hidup yang telah beliau lalui. Sejak masa kanak-kanak, Rasulullah SAW telah menghadapi berbagai keadaan yang tidak mudah. Ayah beliau wafat sebelum kelahirannya, sedangkan ibunya meninggal ketika beliau berusia enam tahun. Setelah itu, beliau berada dalam pengasuhan kakeknya, Abdul Muthalib, kemudian diasuh oleh pamannya, Abu Thalib.

Selain kehilangan orang tua sejak usia dini, Rasulullah SAW juga pernah mengalami keterbatasan dalam kehidupan ekonomi sebelum Allah SWT memberikan kecukupan kepadanya. Kondisi tersebut antara lain digambarkan dalam Surah Ad-Duha ayat 6–8:

اَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيْمًا فَاٰوٰىۖ وَوَجَدَكَ ضَاۤلًّا فَهَدٰىۖ وَوَجَدَكَ عَاۤىِٕلًا فَاَغْنٰىۗ

Artinya: “Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu; mendapatimu sebagai seorang yang tidak tahu (tentang syariat), lalu Dia memberimu petunjuk (wahyu); dan mendapatimu sebagai seorang yang fakir, lalu Dia memberimu kecukupan?” (QS. Ad-Duha: 6–8).

Syekh Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsirul Munir menjelaskan bahwa ayat tersebut mengingatkan Nabi Muhammad SAW terhadap berbagai nikmat dan karunia yang telah Allah SWT berikan kepadanya. Di antara nikmat tersebut adalah perlindungan setelah mengalami keadaan yatim, petunjuk setelah sebelumnya belum mengetahui syariat, serta kecukupan setelah berada dalam keadaan kekurangan.

Penjelasan tersebut sebagaimana terdapat dalam kutipan berikut:

عدد الله تعالى نعمه ومننه على نبيه محمد ﷺ، وذكر منها في السورة ثلاثا هي الإيواء بعد اليتم، والهدى بعد الغفلة، والإغناء بعد الفقر. أما الإيواء فقد تكفله بعد موت أبيه وأمه جده عبد المطلب، ثم عمه أبو طالب فكفله وآزره، ودفع عنه الأذى. وأما الهدى فهو بيان القرآن والشرائع، فهداه الله إلى أحكام القرآن وشرائع الإسلام، بعد الجهل بها والغفلة عنها. وأما الإغناء فهو الإمداد بالفضل والمال والرزق بالتجارة في مال خديجة رضي الله عنها. وفي زمان الرسالة أغناه بمال أبي بكر، ثم بمال الأنصار بعد الهجرة، ثم بالغنيمة.

Artinya: “Allah SWT menyebutkan nikmat-nikmat dan karunia-Nya kepada Nabi-Nya, Muhammad SAW, dan menyebutkan tiga di antaranya dalam surah ini (Surah Ad-Duha), yaitu perlindungan setelah keadaan yatim, petunjuk setelah ketidaktahuan atau kelalaian, dan kecukupan setelah kemiskinan. Adapun perlindungan, Allah mengurus dan melindunginya setelah wafatnya ayah dan ibunya melalui kakeknya, Abdul Muthalib, kemudian pamannya, Abu Thalib, yang mengasuhnya, mendukungnya, serta melindunginya dari berbagai gangguan. Adapun petunjuk adalah penjelasan mengenai Al-Qur’an dan syariat. Allah memberikan petunjuk kepadanya mengenai hukum-hukum Al-Qur’an dan syariat Islam setelah sebelumnya beliau belum mengetahuinya. Sedangkan kecukupan adalah pemberian karunia, harta, dan rezeki melalui perdagangan dengan harta Khadijah RA. Pada masa kerasulan, Allah juga memberikan kecukupan melalui harta Abu Bakar, kemudian harta kaum Anshar setelah hijrah, dan selanjutnya melalui harta rampasan perang.” (Tafsirul Munir, [Damaskus, Darul Fikr: 1411 H], jilid XXX, hlm. 288–289).

Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa perjalanan hidup Rasulullah SAW sejak masa kanak-kanak tidak terlepas dari berbagai ujian. Beliau mengalami kehilangan kedua orang tua, tumbuh dalam pengasuhan anggota keluarganya, dan pernah merasakan keterbatasan dalam kehidupan. Berbagai pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan hidup beliau sebelum menerima wahyu dan menjalankan tugas sebagai rasul.

Pengalaman hidup tersebut juga dapat menjadi dasar bagi umat Islam dalam menumbuhkan kepedulian terhadap orang lain. Ketika berhadapan dengan seseorang yang sedang mengalami kesulitan, umat Islam dapat meneladani Rasulullah SAW dengan berusaha memahami keadaan orang tersebut serta memberikan bantuan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.

2. Keteladanan Rasulullah SAW dalam Kehidupan Sehari-hari

Sisi kemanusiaan Rasulullah SAW juga dapat ditemukan dalam kehidupan beliau bersama keluarga. Meskipun memiliki kedudukan sebagai nabi dan rasul, beliau tetap menjalankan peran sebagai anggota keluarga dan tidak segan membantu pekerjaan rumah tangga. Kesibukan beliau dalam berdakwah dan membimbing umat tidak menjadikan kehidupan keluarga terabaikan.

Hal tersebut antara lain digambarkan dalam riwayat dari Aisyah RA. Ketika ditanya mengenai aktivitas Rasulullah SAW ketika berada di rumah, Aisyah menjelaskan bahwa beliau biasa membantu pekerjaan keluarganya. Rasulullah SAW bersabda:

كَانَ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ

Artinya: “Rasulullah SAW biasa membantu pekerjaan keluarganya. Apabila waktu salat telah tiba, beliau segera melaksanakan salat.” (HR. Bukhari).

Hadis tersebut memberikan gambaran mengenai kehidupan Rasulullah SAW di lingkungan keluarganya. Beliau tidak menganggap pekerjaan rumah tangga sebagai sesuatu yang harus sepenuhnya dilakukan oleh anggota keluarga yang lain. Sebaliknya, beliau turut membantu pekerjaan tersebut dan tetap menempatkan ibadah sebagai bagian penting dalam kehidupan sehari-hari.

Keteladanan ini dapat diterapkan dalam kehidupan keluarga dengan membangun sikap saling membantu, memperhatikan kebutuhan anggota keluarga, serta membagi waktu secara seimbang antara pekerjaan, keluarga, dan ibadah. Dengan demikian, akhlak mulia tidak hanya diwujudkan dalam hubungan dengan masyarakat secara luas, tetapi juga dalam interaksi dengan orang-orang terdekat.

Penutup

Surah Al-Kahfi ayat 110 menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah seorang manusia yang memperoleh wahyu dari Allah SWT. Sebagai manusia, beliau mengalami berbagai keadaan yang juga dirasakan oleh manusia lainnya, seperti lapar, kelelahan, sakit, dan kesedihan akibat kehilangan orang yang dicintai. Pada saat yang sama, kedudukan beliau sebagai nabi dan rasul menjadikan seluruh pengalaman tersebut sebagai bagian dari keteladanan yang dapat dipelajari oleh umat.

Pengalaman Rasulullah SAW dalam menghadapi kesulitan memberikan gambaran mengenai pentingnya kesabaran dan keteguhan dalam menjalani kehidupan. Ketika mengalami kesedihan, beliau menunjukkan bahwa seseorang boleh menangis dan merasakan kehilangan, tetapi tetap harus menjaga perkataan dan sikapnya agar sesuai dengan keridaan Allah SWT. Dalam kehidupan keluarga, beliau juga memberikan contoh mengenai pentingnya saling membantu dan menunjukkan kepedulian kepada anggota keluarga.

Dengan demikian, memahami sisi kemanusiaan Rasulullah SAW tidak berarti mengurangi kemuliaan beliau sebagai nabi dan rasul. Sebaliknya, pemahaman tersebut dapat membantu umat Islam melihat keteladanan beliau secara lebih dekat dan nyata. Berbagai pengalaman manusiawi yang beliau lalui menunjukkan bagaimana ajaran Islam diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam menghadapi kesulitan, mengelola kesedihan, maupun membangun hubungan dengan keluarga dan sesama manusia. Wallahu a’lam.