Flash Sale! to get a free eCookbook with our top 25 recipes.

Mengenal Sosok Ibunda Habib Hasan Bin Jafar Assegaf

Mengenal Sosok Ibunda Habib Hasan Bin Jafar Assegaf
Baca Artikel Ini

Di balik kepiawaian Pendiri Majelis Nurul Musthofa Habib Hasan bin Jafar Assegaf dalam bidang dakwah, terdapat sosok krusial yang mempengaruhi beliau. Dialah ibunda Habib Hasan yakni mendiang Syarifah Fatma.

As-Sayyid Al Habib Hasan bin Jaffar Assegaff ialah salah satu ulama kharismatik yang ada di Jakarta saat ini, namanya dikenal sebagai pendiri sekaligus pemimpin salah satu majlis taklim terbesar di Jakarta, yaitu Majelis Nurul Musthofa. Ribuan jamaah yang didominasi anak-anak muda Jakarta setia setiap malam Ahad hadir di majelisnya, yang kini berpusat di Masjid Nurul Musthofa Center Cilodong, Depok.

Di balik kebesaran nama Al Habib Hasan bin Jafar Assegaf, siapa sangka jika ulama kharismatik ini bisa menjadi ulama besar yang dikenal masyarakat. Ribuan jamaah ini buah dari baktinya dan doa serta didikan sang ibunda yang bernama Syarifah Fatma Binti Hasan Bin Mukhsin Bin Imam Qutbul Makkin Al Habib Abdulloh Bin Mukhsin Al Athos (Kramat Empang Bogor).

Sejak kecil, Habib Hasan selalu dididik oleh ibundanya dengan berpegang teguh penuh perhatian terhadap ajaran para leluhurnya terutama adat kebiasaan para habaib seperti pembacaan Alquran, ratib, maulid, dan ziarah para aulia. “Sedari kecil umi selalu mengajarkan saya membiasakan menjalankan apa yang dilakukan para leluhur dulu. Seperti membaca Alquran, ratib, maulid, serta ziarah ke makam para Aulia,” kata Habib Hasan dalam rilis yang diterima Republika.co.id, Ahad (8/8).

Semenjak kecil Syarifah Fatma sudah membiasakan anak-anaknya dengan didikan yang beliau dapatkan dari ayahnya, yaitu Al-Habib Hasan bin Muhsin Al-Athos yang beliau dapatkan langsung dari ayahanda dan kakeknya.

Ibundanya mendidik dengan cara menceritakan kepada anak-anaknya tentang cerita-cerita yang beliau dapat dari ayahnya tentang para Aulia serta kakek-kakeknya, terutama Habib Abdullah bin Muhsin Al-Athos. Sehingga cerita-cerita tersebut menjadi motivasi bagi Habib Hasan bersama saudara-saudaranya untuk mengikuti jejak para leluhurnya semenjak kecil. Disebutkan mereka semua terdidik dan terarahkan dengan akhlak budi pekerti luhur melalui cerita yang mereka dapat dari ibundanya.

“Banyak yang umi ceritakan ke kami anak-anaknya mengenai sejarah serta perjalanan dakwah aulia terdahulu, bagaimana perjuangan dakwah mereka yang hingga kini jadi motivasi saya dalam berdakwah,” kata Habib Hasan.

Dengan niat mewujudkan cita-cita sang ibunda, diaingin memiliki seorang putra untuk meneruskan estafet dakwah dari ayah dan kakeknya. Sehingga pada akhirnya, Habib Hasan memutuskan untuk terjun berdakwah ke Jakarta.

Di setiap dakwahnya, Habib Hasan selalu berpegang pada pesan ibundanya, yaitu tentang ajaran cinta dan kasih sayang melalui jalur baginda Nabi Muhammad SAW. Yakni menghidupkan kembali sunnah kebiasaan yang dulu Nabi jalankan dalam kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat. Hal inilah yang ia selalu pegang dan ajarkan kepada murid-muridnya saat ini sehingga dakwahnya dapat diterima oleh penduduk Kota Jakarta .

Kini meski sang ibunda telah wafat pada tahun lalu, rasa cinta dan bakti Habab Hasan pun tak pernah putus. Jelang memperingati satu tahun wafat ibundanya (haul), sebagai tanda cinta dan bakti Al-Habib Hasan bin Jafar Assegaff menggelar acara doa dan zikir bersama. Acara doa dan zikir bersama itu sekaligus doa untuk negeri menyambut kemerdekaan Republik Indonesia yang akan diselenggarakan pada Sabtu 14 Agustus usai Maghrib di Masjid Nurul Musthofa Center Cilodong, Depok.

“Di satu tahun wafatnya umi, saya ingin memberikan sesuatu kepadanya. Yaitu berdoa untuknya sekaligus zikir bersama untuk negeri kita Indonesia yang hingga kini masih dilanda pandemi. Apalagi momen ini berdekatan dengan hari kemerdekaan Indonesia,” ujar Habib Hasan.