Kabarumat.co – Di balik kemeriahan Piala Dunia, polemik mengenai ekspresi keagamaan seorang pesepak bola Muslim kembali memperlihatkan bahwa Islamofobia masih menjadi tantangan nyata bagi nilai sportivitas, toleransi, dan perdamaian global.
Nama Lamine Yamal kembali menghiasi pemberitaan internasional. Kali ini, perhatian publik bukan semata tertuju pada performa gemilangnya di lapangan, tetapi juga pada aksi sujud syukur yang dilakukannya setelah pertandingan. Bagi umat Islam, sujud syukur merupakan bentuk ungkapan terima kasih kepada Tuhan atas nikmat dan keberhasilan yang diperoleh. Namun, di media sosial, respons terhadap tindakan tersebut tidak sepenuhnya positif.
Di samping pujian atas penampilannya, muncul pula berbagai komentar bernada sinis, bahkan mengandung sentimen Islamofobia. Sebuah ekspresi religius yang bersifat pribadi bergeser menjadi perdebatan mengenai identitas, agama, dan batas kebebasan berekspresi di ruang publik.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa Piala Dunia bukan sekadar ajang olahraga. Kompetisi yang mempertemukan beragam bangsa, budaya, bahasa, dan agama tersebut juga menjadi cermin dinamika masyarakat global. Di atas lapangan, para pemain dipersatukan oleh semangat kompetisi yang sehat dan sportivitas. Sebaliknya, di ruang digital, identitas keagamaan masih kerap menjadi sasaran prasangka, stereotip, dan polarisasi.
Ketika ungkapan syukur seorang atlet lebih banyak diperdebatkan daripada prestasi yang diraihnya, persoalan yang sesungguhnya muncul bukan hanya soal penerimaan terhadap satu agama, melainkan komitmen bersama dalam menghormati keberagaman sebagai fondasi kehidupan yang damai.
Islamofobia yang Masih Mengakar
Fenomena yang dialami Lamine Yamal bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Islamofobia masih menjadi persoalan yang mengemuka di berbagai negara. Laporan European Union Agency for Fundamental Rights (FRA) tahun 2024 menunjukkan bahwa hampir separuh Muslim di 13 negara Uni Eropa, yakni sekitar 47 persen, pernah mengalami diskriminasi dalam lima tahun terakhir. Angka tersebut meningkat dibandingkan survei sebelumnya.
Di Inggris, organisasi Tell MAMA mencatat sebanyak 6.313 kasus kebencian terhadap Muslim sepanjang 2024, menjadi jumlah tertinggi sejak lembaga itu didirikan. Sementara itu, American Muslim Poll 2025 juga memperlihatkan meningkatnya sentimen negatif terhadap komunitas Muslim di Amerika Serikat.
Berbagai data tersebut menegaskan bahwa prasangka terhadap Islam bukan sekadar persepsi, melainkan realitas sosial yang masih berlangsung. Situasi ini semakin diperparah oleh perkembangan media sosial. Algoritma platform digital cenderung mempromosikan konten yang memicu emosi dibandingkan konten yang menghadirkan pemahaman. Akibatnya, potongan video berdurasi singkat dapat memancing ribuan komentar penuh kebencian tanpa memberikan ruang bagi konteks yang utuh.
Dalam perspektif sosiologi, Émile Durkheim melalui The Elementary Forms of Religious Life (1912) menjelaskan bahwa simbol dan ritual keagamaan merupakan bagian dari identitas kolektif yang memberi makna bagi kehidupan manusia. Dengan demikian, ekspresi keagamaan tidak mungkin sepenuhnya dipisahkan dari ruang publik.
Pandangan tersebut sejalan dengan gagasan Jürgen Habermas dalam The Postnational Constellation (1998), yang menegaskan bahwa masyarakat demokratis harus mampu mengakomodasi keberagaman keyakinan selama tidak melanggar hak orang lain. Menghormati ekspresi religius seorang atlet merupakan bagian dari penghormatan terhadap kebebasan beragama yang dijamin dalam masyarakat demokratis.
Indonesia sesungguhnya memiliki modal sosial yang kuat melalui nilai-nilai Pancasila dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Namun, derasnya arus informasi global membuat polarisasi yang berkembang di berbagai negara dengan mudah masuk ke ruang digital nasional. Tanpa kemampuan literasi digital yang memadai, masyarakat berpotensi mengadopsi prasangka tanpa memahami konteks yang melatarbelakanginya.
Olahraga sebagai Jembatan Perdamaian
Martin Gurri dalam The Revolt of the Public (2014) mengingatkan bahwa media sosial telah mengubah cara opini publik terbentuk. Informasi yang paling cepat menyebar bukan selalu yang paling akurat, melainkan yang paling mampu membangkitkan emosi. Dalam kondisi seperti itu, prasangka terhadap identitas agama dapat dengan mudah berkembang menjadi kebencian kolektif.
Padahal, olahraga sejak lama dipandang sebagai instrumen diplomasi dan perdamaian. Joseph S. Nye melalui Soft Power: The Means to Success in World Politics (2004) menjelaskan bahwa olahraga merupakan salah satu bentuk kekuatan lunak (soft power) yang mampu membangun kepercayaan, mempererat hubungan antarbangsa, dan mengurangi sekat-sekat sosial. Semangat FIFA, For the Game. For the World., menegaskan bahwa sepak bola seharusnya menjadi ruang yang mempersatukan manusia, bukan memperdalam perbedaan identitas.
Dalam ajaran Islam, sujud syukur bukanlah simbol kemenangan atas orang lain, melainkan bentuk kerendahan hati di hadapan Tuhan. Karena itu, ketika sujud syukur dipersoalkan hanya karena identitas agama pelakunya, hal tersebut menunjukkan bahwa prasangka masih lebih dominan daripada upaya memahami makna sebuah praktik keagamaan.
Mewujudkan perdamaian global tidak cukup hanya dengan mengutuk Islamofobia. Upaya yang lebih mendasar adalah memperkuat pendidikan toleransi, meningkatkan literasi digital, serta mendorong media dan platform digital agar lebih bertanggung jawab dalam menekan penyebaran ujaran kebencian. Di sisi lain, organisasi olahraga internasional perlu memastikan bahwa arena pertandingan menjadi ruang yang aman bagi setiap atlet untuk mengekspresikan identitas budaya maupun keyakinannya tanpa rasa takut mengalami diskriminasi.
Pada akhirnya, kemenangan terbesar dalam Piala Dunia bukanlah ketika sebuah negara berhasil mengangkat trofi juara, melainkan ketika olahraga mampu mempertemukan manusia tanpa mempersoalkan warna kulit, asal-usul, kebangsaan, maupun agama. Di tengah dunia yang semakin terpolarisasi, sepak bola mengajarkan bahwa perbedaan keyakinan tidak harus menghalangi persamaan harapan untuk hidup damai.
Ketika ekspresi keagamaan dipandang sebagai ancaman, sesungguhnya yang sedang diuji bukanlah satu agama tertentu, melainkan kemampuan peradaban modern dalam menghormati kebebasan beragama, memelihara toleransi, dan menjaga perdamaian dunia. Di situlah makna terdalam Piala Dunia: bukan hanya panggung kompetisi, tetapi juga jembatan kemanusiaan bagi dunia yang semakin membutuhkan saling pengertian.
Kenali Kami Lebih Dekat
Assalamu Alaikum Akhi Ukhti!! Selamat datang di Kabar Umat
Kami hadir setiap saat untuk menyampaikan berita terpercaya serta wawasan keislaman, keindonesiaan dan kebudayaan hanya buat Akhi Ukhti. Bantu sukseskan Visi kami satukan umat kuatkan masyarakat dengan cara share konten kami kepada teman-teman terdekat Akhi Ukhti !