Kabarumat.co – Di tengah berbagai bencana yang melanda sejumlah wilayah, ada pemandangan yang terkadang terasa kontras di layar telepon genggam kita. Ketika sebagian saudara kita sedang menghadapi rumah yang porak-poranda, kehilangan harta benda, bahkan harus merelakan orang-orang yang mereka cintai, linimasa media sosial justru dipenuhi gosip, drama kehidupan para selebritas, serta beragam informasi yang kebenarannya belum tentu dapat dipastikan.
Kondisi tersebut semestinya menjadi bahan perenungan bersama. Saat masyarakat di sejumlah wilayah masih berjuang bangkit dari musibah yang belum sepenuhnya berlalu di Aceh, menghadapi gempa bumi di Nusa Tenggara Timur, maupun berusaha mengatasi kebakaran hutan di Kalimantan, ruang digital kita idealnya tidak hanya menjadi tempat mencari hiburan. Media sosial juga dapat menjadi ruang untuk menumbuhkan kepedulian, menggerakkan aksi, dan menghadirkan manfaat bagi mereka yang sedang mengalami kesulitan.
Kekuatan media sosial tidak bisa dipandang sebelah mata. Sebuah unggahan dapat tersebar dan menjangkau ribuan orang hanya dalam hitungan menit. Karena itu, ketika bangsa sedang menghadapi berbagai ujian akibat bencana, sudah semestinya media sosial dimanfaatkan untuk memperkuat solidaritas, membagikan informasi mengenai kebutuhan dan bantuan, serta mengajak lebih banyak orang berkontribusi sesuai kemampuan masing-masing. Bahkan tindakan sederhana sekalipun dapat berarti besar bagi mereka yang tengah berjuang meringankan beban akibat bencana.
Dalam ajaran Islam, kepedulian terhadap penderitaan sesama merupakan bagian penting dari keimanan. Seorang Muslim tidak sepatutnya bersikap acuh terhadap kesulitan yang dialami saudaranya. Kehidupan antarsesama bahkan digambarkan layaknya satu tubuh yang saling terhubung; ketika satu bagian merasakan sakit, bagian lainnya turut merasakan dampaknya. Karena itu, kepedulian seharusnya tidak berhenti pada rasa iba, tetapi diwujudkan dalam sikap dan tindakan nyata.
Berikut versi parafrase yang lebih halus, mengalir, dan bernuansa artikel opini/dakwah, dengan substansi dalil tetap dipertahankan:
Menulis
Membantu meringankan kesulitan yang dialami sesama bukan hanya merupakan bentuk kepedulian sosial, tetapi juga memiliki nilai ibadah yang besar. Allah swt menjanjikan balasan bagi orang yang berusaha mengurangi kesusahan saudaranya, salah satunya dengan meringankan kesusahannya pada hari kiamat. Rasulullah saw bersabda:
مَنْ نَـفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُـرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا ، نَـفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُـرْبَةً مِنْ كُـرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ
Artinya, “Siapa saja yang membantu menghilangkan satu kesulitan seorang Mukmin di dunia, niscaya Allah akan menghilangkan darinya satu kesulitan pada hari kiamat.” (HR Muslim).
Semangat untuk saling membantu juga ditegaskan dalam Al-Qur’an. Allah swt memerintahkan umat manusia untuk bekerja sama dalam kebajikan dan ketakwaan, sekaligus melarang kerja sama dalam perbuatan dosa dan permusuhan. Allah swt berfirman:
وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِۖ
Artinya, “Tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa, dan janganlah kamu saling menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan.” (QS Al-Maidah: 2).
Ayat dan hadits tersebut menjadi pengingat bahwa dalam kondisi bencana, perhatian dan energi kita seharusnya diarahkan pada sesuatu yang membawa manfaat. Tidak selayaknya waktu dan ruang digital justru dipenuhi pembicaraan mengenai kehidupan pribadi artis atau tokoh tertentu yang tidak memiliki kaitan dengan kepentingan masyarakat, terlebih jika informasi tersebut belum terjamin kebenarannya.
Islam mengajarkan agar seorang Muslim mampu memilah antara sesuatu yang bermanfaat dan sesuatu yang tidak memiliki nilai kemaslahatan. Rasulullah saw bersabda:
مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ
Artinya, “Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah ia meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya.” (HR At-Tirmidzi).
Imam Al-Ghazali, sebagaimana dikutip oleh Imam Al-Harari, memberikan penjelasan mengenai makna sesuatu yang tidak bermanfaat. Menurutnya, hal tersebut mencakup perkataan atau perbuatan yang apabila ditinggalkan, seseorang tidak mendapatkan dosa dan tidak pula mengalami kerugian, baik dalam kehidupan dunia maupun akhirat.
Dengan pengertian tersebut, pembicaraan mengenai urusan pribadi orang lain yang tidak berkaitan dengan kemaslahatan, termasuk gosip mengenai kehidupan selebritas, dapat menjadi contoh perkara yang tidak perlu memenuhi perhatian kita. Imam Al-Ghazali menjelaskan:
قال الغزالي: وحد (ما لا يعنيك): أن تتكلم بكل ما لو سكت عنه .. لم تأثم ولم تتضرر في حال ولا مآل.
Artinya, “Batasan sesuatu yang tidak bermanfaat bagimu adalah engkau membicarakan sesuatu yang jika engkau memilih diam darinya, engkau tidak berdosa dan tidak mengalami kerugian, baik sekarang maupun di kemudian hari.” (Muhammad Amin Al-Harari, Syarah Sunan Ibnu Majah, [Jeddah, Darul Minhaj: 2016], juz XXIV, halaman 38).
Karena itu, bencana sejatinya tidak hanya menguji ketangguhan masyarakat dalam menghadapi musibah, tetapi juga menguji sejauh mana kepedulian dan kepekaan kita terhadap penderitaan sesama. Jarak seharusnya tidak menjadi alasan untuk tidak peduli. Meskipun berada jauh dari lokasi bencana, kita tetap dapat mengambil bagian melalui berbagai cara.
Tidak semua orang memiliki kesempatan untuk turun langsung ke daerah terdampak. Tidak semua orang memiliki kemampuan ekonomi untuk memberikan bantuan dalam jumlah besar. Namun, hampir setiap orang memiliki peluang untuk melakukan kebaikan. Kita dapat membagikan informasi yang benar dan dapat dipercaya, mempertemukan mereka yang membutuhkan dengan pihak yang mampu memberikan bantuan, atau sekadar memberikan dukungan moral kepada para korban.
Di tengah derasnya arus informasi, kita perlu lebih bijak menentukan apa yang layak memenuhi linimasa. Kurangi pembicaraan yang tidak penting. Kurangi percakapan yang hanya menguras perhatian tanpa memberikan manfaat. Hindari pula menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya.
Sebaliknya, mari memperbanyak kabar tentang kepedulian dan solidaritas. Sebarkan informasi mengenai bantuan yang dibutuhkan. Perbanyak doa bagi mereka yang terdampak. Tumbuhkan empati. Dan jika memiliki kemampuan, wujudkan kepedulian tersebut melalui tindakan nyata.
Media sosial pada hakikatnya bukan hanya ruang untuk menyampaikan apa yang sedang kita pikirkan. Dengan penggunaan yang tepat, media sosial dapat menjadi sarana untuk menunjukkan kepedulian, menyebarkan manfaat, dan menghubungkan mereka yang membutuhkan dengan orang-orang yang siap membantu.
Karena itu, kualitas seseorang di ruang digital tidak semestinya hanya diukur melalui jumlah pengikut, komentar, atau tanda suka yang diperoleh. Ukuran yang tidak kalah penting adalah seberapa besar manfaat dan kebaikan yang dapat lahir dari apa yang kita bagikan.
Terlebih dalam situasi bencana, sebelum menekan tombol unggah, bagikan, atau komentar, ada baiknya kita berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri: Apakah informasi ini bermanfaat? Apakah kebenarannya dapat dipertanggungjawabkan? Apakah orang lain memang membutuhkannya?
Semoga media sosial yang kita gunakan tidak menjadi ruang untuk memperpanjang kegaduhan, melainkan menjadi jembatan yang mempertemukan kepedulian dengan kebutuhan. Sebab, sebuah informasi yang benar dapat mengantarkan bantuan kepada orang yang membutuhkan. Sebuah ajakan sederhana dapat menggerakkan banyak orang untuk peduli. Dan sebuah unggahan yang lahir dari empati mungkin saja menjadi jalan bagi berkurangnya kesusahan seseorang.
Wallahu a’lam.



























Kenali Kami Lebih Dekat
Assalamu Alaikum Akhi Ukhti!! Selamat datang di Kabar Umat
Kami hadir setiap saat untuk menyampaikan berita terpercaya serta wawasan keislaman, keindonesiaan dan kebudayaan hanya buat Akhi Ukhti. Bantu sukseskan Visi kami satukan umat kuatkan masyarakat dengan cara share konten kami kepada teman-teman terdekat Akhi Ukhti !