Kabarumat.co – Mbah Hasyim Asy’ari (1871–1947 M) tidak hanya dikenal sebagai ulama besar dan pendiri Nahdlatul Ulama, tetapi juga sebagai figur yang menempatkan ajaran agama sebagai sumber kekuatan moral dalam menghadapi penindasan dan penjajahan. Di tengah tekanan pemerintahan kolonial maupun pendudukan Jepang, beliau tidak memilih untuk bersikap pasif. Bagi beliau, menjaga kehormatan dan kedaulatan bangsa merupakan bagian dari pengabdian kepada Allah sekaligus bentuk tanggung jawab terhadap tanah air.
Pada masa pendudukan Jepang sekitar 1942, Mbah Hasyim pernah mengalami penahanan karena menolak melakukan penghormatan kepada Kaisar Jepang yang dianggap tidak sejalan dengan prinsip keyakinannya. Peristiwa tersebut mencerminkan keteguhan sikap beliau bahwa prinsip dan keyakinan tidak semestinya ditukar dengan rasa aman atau kepentingan pribadi. Bahkan ketika berada di balik jeruji, keteguhan seorang ulama yang berpegang pada akidah tidak mudah digoyahkan oleh tekanan kekuasaan.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 1945, perjuangan bangsa belum serta-merta selesai. Kehadiran kembali Belanda bersama pasukan Sekutu membawa ancaman terhadap kemerdekaan yang baru saja diraih. Dalam kondisi tersebut, Mbah Hasyim mengeluarkan Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. Seruan itu menegaskan kewajiban mempertahankan kemerdekaan dari ancaman penjajahan kembali dan turut mendorong tumbuhnya keberanian rakyat untuk mempertahankan Republik, terutama dalam rangkaian perjuangan yang berpuncak pada Pertempuran Surabaya.
Namun, Resolusi Jihad perlu dipahami sesuai latar sejarahnya. Seruan tersebut bukanlah legitimasi bagi kekerasan yang dilakukan tanpa batas, melainkan respons terhadap situasi ketika bangsa Indonesia sedang mempertahankan kemerdekaan dari upaya kolonial untuk kembali menguasai wilayah Indonesia. Pemahaman terhadap konteks sejarah menjadi penting agar nilai perjuangan para ulama tidak ditafsirkan secara serampangan atau dipisahkan dari keadaan yang melatarbelakanginya.
Warisan Mbah Hasyim yang paling penting barangkali bukan hanya berupa sebuah resolusi atau fatwa, melainkan keteladanan dalam hal moral dan keberanian. Beliau memperlihatkan bahwa seorang ulama memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan apa yang diyakininya sebagai kebenaran, meskipun pilihan tersebut dapat membawa konsekuensi dan risiko. Keteguhan moral semacam inilah yang membuat sosok Mbah Hasyim tetap mendapatkan tempat penting dalam ingatan sejarah bangsa.
Kondisi Indonesia masa kini tentu berbeda jauh dengan situasi ketika bangsa berada di bawah penjajahan. Tantangan nasional sekarang lebih banyak berkaitan dengan kebijakan publik, pembangunan, perekonomian, pendidikan, kesejahteraan, serta berbagai persoalan yang muncul dalam kehidupan demokrasi. Dalam konteks tersebut, perbedaan pandangan terhadap kebijakan pemerintah merupakan sesuatu yang lumrah, selama kritik dan aspirasi disampaikan melalui mekanisme yang konstitusional, damai, santun, serta bertanggung jawab.
Dalam kerangka itulah muncul harapan agar para tokoh bangsa, termasuk para ulama, tetap menjalankan peran moralnya sebagai pemberi nasihat, pengingat, sekaligus penyampai kritik konstruktif apabila terdapat kebijakan yang dianggap perlu diperbaiki. Peran tersebut justru menjadi bagian penting dari demokrasi yang sehat, karena masyarakat membutuhkan ruang bagi berbagai pandangan untuk disampaikan secara terbuka tanpa mengorbankan persatuan.
Semangat yang diwariskan Mbah Hasyim pada akhirnya tidak harus diwujudkan melalui bentuk perjuangan yang sama seperti pada masa revolusi. Zaman telah berubah, demikian pula bentuk tantangan yang dihadapi bangsa. Akan tetapi, keberanian untuk menyampaikan kebenaran, menjaga integritas, dan mengutamakan kemaslahatan bersama tetap memiliki relevansi lintas zaman.
Sejarah Indonesia menunjukkan bahwa perjalanan bangsa tidak hanya dibentuk oleh mereka yang memiliki kekuasaan, tetapi juga oleh orang-orang yang berani mempertahankan prinsip ketika situasi tidak berpihak kepada mereka. Dalam konteks tersebut, Mbah Hasyim Asy’ari dikenang bukan semata-mata sebagai seorang ulama, melainkan sebagai tokoh bangsa yang memiliki peran penting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan dan membangun fondasi moral kehidupan berbangsa.
Keteladanan tersebut dapat diwujudkan dalam kehidupan masa kini melalui keberanian untuk bersuara ketika diperlukan, kebijaksanaan dalam menyampaikan perbedaan pendapat, serta komitmen untuk menempatkan persatuan dan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi maupun kelompok. Nilai-nilai inilah yang membuat warisan Mbah Hasyim tetap relevan bagi Indonesia hari ini.
Harapan “Resolusi Jihad 2.0” terhadap MBG dan Program Pemerintah Lainnya
Dalam menghadapi dinamika kebijakan nasional saat ini, terdapat harapan agar Rais Aam PBNU sebagai salah satu penerus tradisi keilmuan dan keteladanan Mbah Hasyim Asy’ari dapat terus memainkan peran moralnya. Warisan Mbah Hasyim tidak berhenti pada Resolusi Jihad, tetapi juga tercermin dalam keberanian seorang ulama untuk menyampaikan pandangan dan kebenaran kepada siapa pun, termasuk kepada pihak yang sedang memegang kekuasaan.
Karena itu, masyarakat berharap PBNU tetap mampu menjadi salah satu rujukan moral umat dengan memberikan nasihat, pandangan, maupun kritik keagamaan secara independen ketika terdapat kebijakan negara yang dinilai perlu mendapat perhatian atau evaluasi. Sikap kritis semacam ini tidak harus dipahami sebagai bentuk pertentangan, melainkan sebagai bagian dari tanggung jawab sosial dan moral dalam kehidupan berbangsa.
Harapan serupa dapat diarahkan pada berbagai kebijakan pemerintah, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih, serta agenda pembangunan lainnya. Program-program tersebut penting untuk terus dikaji dan dievaluasi secara objektif agar pelaksanaannya benar-benar memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat, sekaligus meminimalkan potensi dampak yang tidak diinginkan.
Di sisi lain, pembangunan nasional juga perlu memberikan perhatian yang seimbang terhadap pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia. Peningkatan kualitas sekolah, kesejahteraan guru dan dosen, penguatan kegiatan riset, serta pembinaan generasi muda merupakan investasi jangka panjang yang tidak kalah penting dibandingkan program-program ekonomi. Kemajuan sebuah bangsa pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga oleh kualitas ilmu pengetahuan, pendidikan, karakter, dan sumber daya manusianya.
Pada akhirnya, refleksi terhadap keteladanan Mbah Hasyim membawa kita pada sebuah pertanyaan yang menarik untuk direnungkan: jika Mbah Hasyim Asy’ari masih hidup di tengah kondisi Indonesia hari ini, bagaimana kira-kira beliau akan menyikapi berbagai kebijakan pemerintah yang oleh sebagian masyarakat dinilai lebih berpotensi menimbulkan mafsadat daripada maslahat?
Pertanyaan tersebut tentu tidak dapat dijawab dengan memastikan apa yang akan dilakukan oleh seorang tokoh sejarah dalam situasi yang sama sekali berbeda. Namun, pertanyaan itu dapat menjadi pintu untuk meneladani prinsip yang lebih mendasar: keberanian moral, kejernihan dalam menilai persoalan, keteguhan memegang nilai, serta keberpihakan pada kemaslahatan masyarakat.

























Kenali Kami Lebih Dekat
Assalamu Alaikum Akhi Ukhti!! Selamat datang di Kabar Umat
Kami hadir setiap saat untuk menyampaikan berita terpercaya serta wawasan keislaman, keindonesiaan dan kebudayaan hanya buat Akhi Ukhti. Bantu sukseskan Visi kami satukan umat kuatkan masyarakat dengan cara share konten kami kepada teman-teman terdekat Akhi Ukhti !