Flash Sale! to get a free eCookbook with our top 25 recipes.

Jejak Sejarah di Balik Konflik Houthi: Politik Suku dan Perebutan Kuasa di Yaman

Jejak Sejarah di Balik Konflik Houthi: Politik Suku dan Perebutan Kuasa di Yaman

kabarumat.co – Di tengah banyaknya analisis geopolitik mengenai konflik di Yaman, perang yang kompleks ini sering disederhanakan ke dalam dua kerangka besar: rivalitas regional antara Iran dan Arab Saudi, atau pertentangan sektarian antara kelompok Sunni dan Syiah. Dalam berbagai laporan media internasional, gerakan Houthi movement kerap diposisikan sebagai bagian dari “proxy war” yang lebih luas di Timur Tengah.

Namun, cara pandang semacam itu sering kali tidak mampu menjawab pertanyaan mendasar: mengapa konflik tersebut justru muncul dan berkembang di wilayah tertentu di Yaman, serta bagaimana gerakan tersebut dapat memperoleh dukungan sosial yang cukup kuat di tingkat lokal.

Pertanyaan inilah yang menjadi titik tolak buku Tribes and Politics in Yemen: A History of the Houthi Conflict karya antropolog politik Marieke Brandt. Buku ini menawarkan perspektif yang berbeda dari banyak kajian sebelumnya. Alih-alih menempatkan konflik Houthi semata sebagai fenomena geopolitik regional atau pertarungan ideologis, Brandt mengajak pembaca memahami konflik tersebut dari sudut pandang masyarakat lokal di Sa’dah, wilayah pegunungan di Yaman utara yang menjadi basis historis gerakan Houthi.

Melalui pendekatan antropologi politik, Brandt menunjukkan bahwa konflik Houthi berakar jauh lebih dalam pada sejarah sosial dan politik Yaman utara. Konflik ini tidak sekadar merupakan pemberontakan religius atau proyek ideologis, melainkan hasil dari transformasi sosial-politik yang berlangsung sejak dekade 1960-an.

Perubahan struktur kekuasaan setelah runtuhnya sistem imamah Zaydi pada masa North Yemen Civil War menciptakan konfigurasi politik baru dalam masyarakat. Pergeseran tersebut memicu persaingan antara elite lokal, jaringan suku, serta kelompok religius yang sebelumnya menempati posisi tertentu dalam struktur tradisional.

Brandt menekankan bahwa konflik Houthi tidak dapat dipahami tanpa melihat struktur masyarakat tribal di Yaman. Di wilayah seperti Sa’dah, suku bukan sekadar identitas sosial, tetapi juga menjadi kerangka utama dalam distribusi kekuasaan, otoritas moral, serta akses terhadap sumber daya.

Relasi antarsuku, aliansi keluarga, dan jaringan patronase memainkan peran penting dalam membentuk arah konflik dan basis dukungan sosial. Banyak tokoh yang terlibat dalam konflik Houthi bukanlah aktor baru dalam politik lokal, melainkan bagian dari jaringan keluarga dan kelompok yang telah lama bersaing dalam perebutan pengaruh sejak masa perang saudara pada 1960-an.

Salah satu kontribusi utama buku ini adalah kemampuannya menunjukkan bahwa konflik di Yaman bersifat sangat personal dan berakar pada dinamika lokal. Walaupun simbol agama dan identitas sektarian kerap dimanfaatkan dalam mobilisasi politik, faktor utama yang mendorong konflik sering berkaitan dengan persaingan pengaruh, akses terhadap sumber daya, serta status sosial dalam masyarakat setempat. Dengan demikian, konflik Houthi lebih tepat dipahami sebagai produk persaingan sosial-politik yang berakar pada sejarah lokal, bukan sekadar manifestasi dari konflik ideologis global.

Dari sisi metodologi, pendekatan Brandt juga cukup menonjol. Buku ini merupakan hasil penelitian lapangan yang panjang di Yaman, di mana penulis melakukan observasi langsung terhadap kehidupan masyarakat serta membangun relasi dengan berbagai aktor sosial di wilayah tersebut.

Ketika situasi keamanan membatasi penelitian lapangan, Brandt melengkapinya dengan pendekatan antropologi digital untuk menelusuri dinamika sosial dan politik di antara komunitas lokal. Kombinasi metode ini memungkinkan buku tersebut menghadirkan gambaran yang sangat rinci mengenai kehidupan sosial masyarakat di Sa’dah serta perkembangan konflik Houthi dari waktu ke waktu.

Melalui pendekatan ini, Brandt pada dasarnya menantang narasi dominan dalam analisis konflik Timur Tengah. Ia menunjukkan bahwa memahami konflik Yaman semata melalui lensa geopolitik regional justru dapat menutupi kompleksitas realitas lokal yang sebenarnya sangat menentukan jalannya konflik.

Dengan menempatkan masyarakat lokal sebagai pusat analisis, buku ini membuka perspektif baru tentang bagaimana konflik internal dapat muncul, bertahan, dan kemudian berkembang menjadi krisis yang melibatkan aktor regional maupun internasional.

Kekuatan utama buku ini tidak hanya terletak pada argumen teoretisnya, tetapi juga pada kemampuannya menghadirkan detail kehidupan sosial yang sering luput dari analisis politik. Brandt menggambarkan hubungan antarkeluarga, jaringan suku, serta dinamika lokal dengan kedalaman etnografis yang jarang ditemukan dalam studi tentang konflik Yaman.

Melalui narasi yang kaya data dan pengalaman lapangan, pembaca dapat melihat bahwa konflik yang di tingkat internasional tampak sebagai perang besar sesungguhnya terbentuk dari interaksi sosial yang sangat lokal dan personal.

Di situlah nilai penting buku ini: ia mengingatkan bahwa di balik konflik geopolitik yang kompleks selalu terdapat masyarakat dengan sejarah, relasi sosial, dan dinamika kekuasaan yang khas. Memahami dimensi lokal tersebut tidak hanya penting bagi kajian akademik, tetapi juga bagi upaya menjelaskan mengapa konflik seperti yang terjadi di Yaman dapat berlangsung lama dan sulit diselesaikan.

Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana konflik yang awalnya bersifat lokal di Sa’dah perlahan berkembang menjadi krisis nasional, bahkan kemudian berubah menjadi konflik regional yang melibatkan berbagai aktor eksternal.

Dalam bukunya, Brandt menelusuri secara rinci bagaimana jaringan sosial, aliansi suku, dan persaingan elite lokal membentuk dinamika konflik sejak kemunculan gerakan Houthi pada awal 2000-an. Gerakan yang kemudian dikenal sebagai Ansar Allah ini pada mulanya tumbuh dari lingkungan religius Zaydi di wilayah pegunungan Yaman utara.

Namun, menurut Marieke Brandt, perkembangan gerakan Houthi movement tidak dapat dipahami semata-mata sebagai kebangkitan identitas religius. Pertumbuhan gerakan ini juga berkaitan erat dengan ketegangan yang telah lama berlangsung antara masyarakat di Sa’dah dan pemerintah pusat di Sanaa.

Sejak dekade 1990-an, pemerintah Yaman di bawah kepemimpinan Ali Abdullah Saleh berupaya memperkuat kontrol negara atas wilayah-wilayah pinggiran yang sebelumnya relatif otonom. Upaya tersebut kerap menimbulkan ketegangan dengan jaringan suku lokal yang selama ini memainkan peran utama dalam mengatur kehidupan sosial dan politik di daerah tersebut. Di Sa’dah, ekspansi kekuasaan administratif dan militer negara sering dipandang oleh masyarakat setempat sebagai ancaman terhadap keseimbangan kekuasaan tradisional yang telah lama terbentuk.

Brandt menjelaskan bahwa konflik yang kemudian dikenal sebagai Sa’dah War tidak muncul secara tiba-tiba. Konflik tersebut merupakan hasil akumulasi ketegangan politik, ekonomi, dan sosial yang berkembang selama beberapa dekade. Ketika pemerintah pusat memandang gerakan Houthi sebagai ancaman keamanan dan meresponsnya dengan operasi militer yang keras, langkah tersebut justru memperluas simpati dan dukungan terhadap gerakan itu di kalangan masyarakat lokal. Dalam situasi seperti ini, solidaritas kesukuan serta relasi keluarga sering kali menjadi faktor penting yang menentukan sikap masyarakat terhadap konflik.

Melalui analisis yang rinci, Brandt menunjukkan bahwa konflik berkembang melalui jaringan hubungan sosial yang kompleks. Aliansi antar suku dapat berubah dengan cepat, konflik lokal dapat meluas menjadi konfrontasi yang lebih besar, dan keputusan individu—baik pemimpin suku maupun tokoh politik—sering kali membawa dampak luas terhadap arah konflik. Dengan demikian, konflik Houthi digambarkan sebagai proses sosial yang dinamis dan terus berubah, bukan sebagai peristiwa tunggal yang dapat dijelaskan hanya oleh satu faktor.

Meski berangkat dari dinamika lokal, buku ini juga menyoroti bagaimana konflik di Sa’dah secara bertahap menarik perhatian aktor-aktor regional. Ketika ketegangan politik meningkat di Timur Tengah setelah gelombang perubahan politik pada awal 2010-an, konflik di Yaman yang sebelumnya bersifat domestik mulai dilihat melalui perspektif geopolitik. Rivalitas antara Iran dan Arab Saudi kemudian memperkuat persepsi bahwa konflik Houthi merupakan bagian dari persaingan pengaruh di kawasan.

Transformasi konflik lokal menjadi perang regional mencapai titik penting ketika koalisi militer yang dipimpin oleh Arab Saudi melancarkan operasi militer Operation Decisive Storm pada tahun 2015. Intervensi ini menandai perubahan signifikan dalam dinamika konflik Yaman. Konflik yang sebelumnya merupakan persoalan internal negara kemudian berkembang menjadi perang yang melibatkan berbagai kekuatan regional serta menimbulkan dampak kemanusiaan yang sangat luas.

Salah satu keunggulan utama buku Brandt adalah kemampuannya menjelaskan bagaimana konflik lokal dapat berkembang menjadi konflik regional yang jauh lebih besar. Para pengulas buku ini bahkan menggunakan istilah “metastasis konflik” untuk menggambarkan bagaimana konflik yang awalnya terbatas di wilayah tertentu dapat meluas menjadi krisis geopolitik ketika aktor eksternal mulai terlibat. Analisis Brandt menegaskan bahwa tanpa memahami akar sosial dan politik konflik di tingkat lokal, sulit menjelaskan mengapa konflik tersebut dapat berkembang menjadi perang yang lebih luas.

Selain memberikan pemahaman baru mengenai konflik Houthi, buku ini juga memiliki kontribusi metodologis yang penting bagi kajian politik Timur Tengah. Dengan menggabungkan pendekatan sejarah, antropologi, dan analisis politik, Brandt menunjukkan bahwa studi konflik tidak cukup hanya bertumpu pada analisis kebijakan atau geopolitik. Pemahaman terhadap masyarakat lokal—termasuk struktur suku, relasi keluarga, dan dinamika sosial—menjadi kunci untuk menjelaskan bagaimana konflik muncul dan berkembang.

Di sisi lain, kompleksitas buku ini juga menghadirkan tantangan bagi pembaca. Banyaknya aktor lokal, jaringan keluarga, serta aliansi suku yang dibahas membuat narasinya cukup padat dan menuntut perhatian yang cermat. Namun justru di situlah kekuatan karya ini: Brandt memperlihatkan bahwa realitas politik di Yaman memang sangat kompleks dan tidak dapat direduksi menjadi narasi konflik yang terlalu sederhana.

Secara keseluruhan, Tribes and Politics in Yemen: A History of the Houthi Conflict memberikan kontribusi penting bagi pemahaman yang lebih mendalam tentang konflik di Yaman. Buku ini mengingatkan bahwa di balik narasi geopolitik mengenai perang regional terdapat dinamika sosial lokal yang jauh lebih kompleks.

Dengan menempatkan masyarakat Sa’dah sebagai pusat analisis, Brandt menunjukkan bahwa konflik yang sering dipandang sebagai pertarungan kekuatan besar sebenarnya berakar pada sejarah lokal, jaringan sosial, dan persaingan kekuasaan yang telah berlangsung lama.

Dalam konteks Timur Tengah kontemporer, pelajaran dari buku ini sangat relevan. Ia menegaskan bahwa memahami konflik modern tidak cukup hanya dengan melihat peta geopolitik atau rivalitas antarnegara. Konflik sering kali berawal dari dinamika sosial yang sangat lokal sebelum kemudian berkembang menjadi krisis yang melibatkan aktor regional dan internasional. Tanpa memahami dimensi lokal tersebut, upaya menjelaskan—atau bahkan menyelesaikan—konflik seperti yang terjadi di Yaman akan selalu menghadapi keterbatasan.

Dengan kedalaman riset, kekayaan data etnografis, serta analisis historis yang tajam, karya Marieke Brandt ini layak dipandang sebagai salah satu referensi penting dalam studi mengenai politik Yaman dan konflik Houthi. Buku ini tidak hanya membantu menjelaskan asal-usul konflik tersebut, tetapi juga menyediakan kerangka analitis yang berguna untuk memahami kemungkinan arah perkembangan politik Yaman di masa depan.