Flash Sale! to get a free eCookbook with our top 25 recipes.

Alienasi dalam Kehidupan Beragama: Dari Penyebab hingga Solusi

Mengurai Rasa Takut: Agama, Kontrol Moral, dan Perkembangan Anak

kabarumat.co – Dalam kehidupan sehari-hari, kita kerap menjumpai orang yang mengaku beragama, tetapi perilakunya justru tidak mencerminkan nilai-nilai agama tersebut. Misalnya, seseorang yang menyebut dirinya muslim, namun terlibat dalam kasus penipuan, korupsi, atau kejahatan lainnya. Fenomena ini menunjukkan adanya jarak antara individu dengan nilai-nilai agama yang seharusnya menjadi pedoman hidupnya.

Ibadah yang dijalani sering kali berhenti sebatas rutinitas untuk menunaikan kewajiban. Tidak ada penghayatan yang sungguh-sungguh, apalagi makna mendalam yang dirasakan. Akibatnya, ibadah tersebut tidak membawa dampak nyata bagi perubahan sikap maupun perbaikan diri. Kondisi inilah yang oleh para sarjana disebut sebagai alienasi atau keterasingan. Lalu, bagaimana Alquran memandang persoalan alienasi ini dan jalan keluarnya?

Keterasingan dan Akar Masalahnya

Dalam Encyclopedia of Religion and Society, Phillip Stanworth menjelaskan alienasi sebagai keadaan ketika individu atau masyarakat mengalami keterasingan—bukan hanya dari Tuhan, tetapi juga dari sesama manusia, bahkan dari dirinya sendiri. Dalam makna yang lebih serius, Erich Fromm menyebut alienasi sebagai bentuk ketidaksehatan mental, sebagaimana diuraikannya dalam artikel Erich Fromm on the Alienation of Modern Man. Persoalan ini juga mendapat perhatian dalam Alquran, salah satunya melalui QS. Al-Hasyr [59]: 19, yang mengingatkan agar manusia tidak melupakan Allah, karena hal itu justru akan membuat mereka lupa pada jati diri mereka sendiri.

Dalam perspektif Alquran, keterasingan berakar dari sikap lupa kepada Allah. Imam al-Mawardi, dalam tafsir al-Nukat wa al-‘Uyun, menjelaskan hubungan sebab-akibat dari sikap melupakan Tuhan. Ia menyebutkan beberapa bentuk lupa yang dapat menjerumuskan seseorang pada keterasingan.

Pertama, ketika seseorang meninggalkan perintah Allah, ia akan kehilangan kesadaran untuk berbuat kebaikan, sebagaimana dikemukakan oleh Ibnu Hibban. Kedua, melalaikan hak Allah akan berujung pada pengabaian hak diri sendiri, menurut pendapat Sufyan. Ketiga, lupa kepada Allah dengan tidak bersyukur dan tidak mengagungkan kebesaran-Nya membuat seseorang abai terhadap peringatan azab, sebagaimana dijelaskan Ibnu ‘Isa. Keempat, tenggelam dalam perbuatan dosa menyebabkan seseorang lupa untuk bertaubat, sebagaimana pandangan Sahl. Kelima, merasa aman dan berkelimpahan sering kali membuat manusia lupa kepada Allah, hingga akhirnya kehilangan sandaran ketika berada dalam kesulitan.

Dalam pembicaraan tentang modernisasi, terutama sejak munculnya era digital, ada kecenderungan hidup yang membuat seseorang lupa kepada Tuhan. Kondisi ini menjadi salah satu pemicu alienasi beragama. Dalam tulisan The Study of Social Media Alienation in the Digitized World, Haochen Bai dan Kexin Gao mengidentifikasi dua penyebab utama keterasingan tersebut, yaitu “penyembahan pada teknologi” dan konsumerisme.

“Penyembahan pada teknologi” di sini dimaknai sebagai kecenderungan menjadikan teknologi informasi sebagai pusat hidup: sebagai sumber ide, kesenangan, pengalaman, dan imajinasi. Teknologi dipandang sebagai jawaban untuk segala masalah, padahal kenyataannya tidak selalu demikian.

Di sisi lain, konsumerisme juga turut mendorong keterasingan. Konsumerisme adalah kebiasaan konsumsi yang didasari keinginan untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain, bukan karena kebutuhan yang nyata. Kebiasaan ini sering muncul secara impulsif atau tanpa pertimbangan matang. Akibatnya, seseorang kehilangan kendali atas dirinya sendiri karena lebih mengikuti dorongan pasar atau norma komunitas tertentu, bukan keputusan yang rasional.

Nurcholish Madjid dalam tulisannya Peranan Agama dalam Kehidupan Modern-Industrial (hal. 150–151) menyoroti bagaimana media informasi dan teknologi bisa menguasai manusia. Menurutnya, dominasi teknologi ini menciptakan pola pikir objektif yang sering bertentangan dengan sifat subjektif manusia. Ketika seseorang terlalu terjebak dalam teknologi informasi, gaya hidup konsumtif, dan objektivisme, ia berisiko kehilangan “rasa kemanusiaan”. Hidupnya jadi lebih dipengaruhi media, bukan oleh interaksi nyata dalam kehidupan sosial.

Kehilangan rasa ini juga berarti manusia mulai kehilangan dirinya sendiri (depersonalisasi), sehingga makna dan nilai kemanusiaan ikut pudar (dehumanisasi). Akhirnya, seseorang tidak lagi memahami siapa dirinya, apa tujuan hidupnya, dan apa yang seharusnya ia kejar. Kehidupan yang serba digital membuat fokus manusia teralihkan, sehingga ruang untuk berkomunikasi dengan Tuhan lewat ibadah yang khusyuk dan refleksi diri menjadi semakin sempit. Dari sinilah manusia bisa terjerumus dalam alienasi, atau keterasingan dari nilai-nilai agama yang paling mendasar.

Ketika seseorang merasa asing terhadap agama dan Tuhan, tidak heran jika ia—meskipun sudah dewasa—masih terus mencari makna hidup. Ia sering kebingungan menentukan tujuan hidup dan bertindak tanpa landasan nilai atau ajaran agama. Dalam kondisi seperti itu, agama tidak lagi berperan dalam kehidupan sehari-hari.

Fenomena ini nyata terjadi di masyarakat kita. Banyak kasus perusakan lingkungan, penggelapan dan pencucian uang hasil korupsi, serta ketidakadilan yang dilakukan oleh orang-orang yang sebenarnya beragama. Mereka sudah terasing dari agama dan Tuhan, karena dalam pekerjaan atau aktivitasnya mereka tidak melibatkan Tuhan, atau bahkan dengan sengaja melupakan-Nya.

Semua gejala itu pada dasarnya bermuara pada krisis dalam diri manusia. Alquran menjelaskan bahwa krisis ini berakar pada dua hal: pertama, fungsi hati, akal, penglihatan, dan pendengaran yang tidak digunakan untuk mengenal Allah; kedua, sikap emosi yang ambivalen atau ragu-ragu. Dalam QS. Al-A’raf [7]: 179, Allah menggambarkan orang-orang yang lengah sebagai mereka yang memiliki hati, mata, dan telinga, tetapi tidak memanfaatkannya untuk memahami tanda-tanda Allah. Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat.

Imam al-Qurthubi menjelaskan bahwa akal yang tidak digunakan adalah akal yang tidak memikirkan kebesaran Allah, balasan, dan azab-Nya. Sementara itu, telinga mereka menolak mendengar nasihat baik. Imam al-Baydhawi menambahkan bahwa hati mereka tidak dipakai untuk mengenal Allah yang Maha Benar. Allah menegaskan kondisi ini dalam QS. An-Nahl [16]: 108, bahwa Allah mengunci hati, pendengaran, dan penglihatan mereka, sehingga mereka tetap dalam kelalaian.

Syekh Muhammad Mutawalli al-Sya’rawi menjelaskan bahwa hati yang “dikunci” Allah adalah hati yang dipenuhi penolakan, sehingga iman tidak bisa masuk. Hati menjadi tempat menampung informasi dari indera, namun ketika penglihatan dan pendengaran tidak berfungsi dengan baik, hati pun kehilangan arah.

Selain itu, Alquran juga menyoroti krisis kedua, yaitu perasaan yang ragu-ragu (ambivalen). Dalam QS. An-Nisa [4]: 143, orang-orang munafik digambarkan sebagai mereka yang berada dalam keadaan bimbang, terombang-ambing antara iman dan kekafiran. Imam al-Nasafi menjelaskan bahwa kondisi ini terjadi karena seseorang mudah dipengaruhi setan dan hawa nafsu, sehingga tidak tegas memilih jalan yang benar.

Singkatnya, semua perilaku yang mengarah pada keterasingan berawal dari krisis dalam diri. Inilah faktor utama yang membuat seseorang terasing dari Tuhan dan bahkan dari dirinya sendiri.

Penyelesaian

Cara paling efektif untuk mengatasi alienasi beragama adalah dengan mengembalikan Tuhan sebagai tujuan utama dan tertinggi dalam hidup. Ketika seseorang benar-benar mengenal Tuhan, ia akan mulai memahami arti hidup dan arah yang seharusnya ia tuju. Kesadaran dan pengenalan ini menjadi landasan semua kebaikan, yang tercermin dari niat, sikap, dan tindakan yang mengandung nilai-nilai ideal.

Untuk sampai pada pengenalan tersebut, tidak ada jalan instan. Seseorang harus terus belajar, memahami, dan merenungkan tanda-tanda Tuhan—baik yang jelas terlihat maupun yang tersembunyi. Proses ini adalah cara paling nyata untuk membangun hubungan yang kuat dengan-Nya.

Ketika hidup dijalani di bawah bimbingan Tuhan, agama tidak lagi menjadi urusan pribadi semata. Keimanan yang kuat akan menghasilkan perilaku baik yang juga tampak dalam kehidupan sosial. Untuk mencapai kondisi itu, manusia perlu memberi ruang bagi dirinya untuk mendekat kepada Tuhan, sehingga ia bisa menemukan makna mendalam tentang keberadaannya di dunia.

Hasilnya, seseorang tidak hanya terbebas dari perasaan terasing dari diri sendiri dan agamanya, tetapi juga menjadi lebih sehat secara mental. Seperti yang dikatakan Matt Karamazov, kesehatan mental terlihat dari hidup yang produktif dan tidak terasing, karena mampu menjalin hubungan dengan dunia melalui kasih sayang.

Ketidakterasingan juga tercermin dari kemampuan menggunakan akal untuk memahami realitas secara objektif, menjalani hidup dengan kesadaran diri sebagai individu yang unik namun tetap terhubung dengan sesama. Orang yang tidak terasing tidak mudah dikendalikan oleh otoritas yang tidak rasional, tetapi justru menerima otoritas yang rasional—yaitu hati, nurani, dan akal budi. Ia memahami hidup sebagai anugerah yang berharga dan pantas disyukuri.